Cari disini...
Seputarfakta.com - Maulana -
Seputar Kaltim
Kepala BPS Kaltim, Masud Rifai bertemu dengan jajaran redaksi Seputarfakta. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)
Samarinda - Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim), Masud Rifai, mengimbau masyarakat khususnya media massa untuk bisa membaca dan memahami data statistik secara utuh dan komprehensif.
Imbauan ini disampaikan untuk meluruskan ketimpangan pemahaman publik yang kerap hanya terpaku pada satu indikator.
Hal tersebut ditegaskan Masud saat menerima kunjungan audiensi jajaran Redaksi Seputar Fakta di Kantor BPS Kaltim, Samarinda.
Dalam pertemuan tersebut, ia menyoroti kecenderungan publik dan atensi media yang sering kali hanya fokus menyoroti angka dan data secara parsial.
Padahal, menurutnya, ada sisi lain dari data tersebut yang kerap luput dari perhatian, yakni rentetan peristiwa yang membentuknya.
"Memahami data itu tidak semudah itu (hanya melihat satu angka). Harus dilihat secara komprehensif," ujar Masud saat ditemui di Samarinda, Rabu (25/2/2026).
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa data selalu tersaji berdasarkan fenomena yang mengikuti atau membentuknya. Ia mencontohkan misalnya terkait data ketenagakerjaan yang berjalan sangat dinamis. Bertambahnya angka pengangguran dalam suatu periode rilis data, kata dia tidak selalu berarti perekonomian sedang memburuk.
Hal tersebut sering kali dipengaruhi oleh lonjakan jumlah angkatan kerja baru, baik dari lulusan pendidikan maupun migrasi pencari kerja yang pertumbuhannya lebih cepat dibandingkan ketersediaan lapangan kerja pada momen pendataan.
Oleh karena itu, Masud berharap literasi data masyarakat dapat terus meningkat. Dengan melihat dua sisi secara bersamaan, baik tren angka pengangguran maupun angka pertumbuhan lapangan kerja. Publik akan mendapatkan potret realitas ekonomi Kaltim yang lebih objektif dan berimbang.
"Jangan sampai kita kehilangan gambaran besar dari kondisi yang sebenarnya terjadi di lapangan," jelasnya.
Untuk itu, Masud mengaku siap mendampingi masyarakat melalui media massa dalam hal meningkatkan pemahaman dalam membaca dan memahami data.
"Salah satunya dengan kegiatan workshop barangkali, bisa kita jadwalkan bersama wartawan," tukasnya.
Sementara itu, Pemimpin Redaksi Seputarfakta.com, Rusdianto, mengakui bahwa saat ini salah satu tantangan besar media massa adalah berjejalnya informasi yang tersaji dengan kecepatan tinggi. Hal ini membuat masyarakat tidak benar-benar mendapatkan haknya, untuk mengonsumsi informasi secara benar dan lengkap.
Data, kata Rusdi adalah komponen penting yang bisa menjadi katalisator yang bisa dijadikan indikator untuk mengukur validitas sebuah informasi, dan alat propaganda di saat bersamaan.
"Jadi sebelum menyebarkan informasi kepada masyarakat, wartawannya sendiri harus bisa membaca data secara lengkap," ungkap Rusdi.
Selain itu, BPS lanjut Rusdi sebagai instansi yang berwenang mengumpulkan, memproses dan mengompilasi data, juga diharapkan bisa lebih luwes dalam menyajikan data.
"Intinya kami siap berkolaborasi," tutupnya.
(Sf/Lo)
Tim Editorial
Cari disini...
Seputarfakta.com - Maulana -
Seputar Kaltim

Kepala BPS Kaltim, Masud Rifai bertemu dengan jajaran redaksi Seputarfakta. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)
Samarinda - Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim), Masud Rifai, mengimbau masyarakat khususnya media massa untuk bisa membaca dan memahami data statistik secara utuh dan komprehensif.
Imbauan ini disampaikan untuk meluruskan ketimpangan pemahaman publik yang kerap hanya terpaku pada satu indikator.
Hal tersebut ditegaskan Masud saat menerima kunjungan audiensi jajaran Redaksi Seputar Fakta di Kantor BPS Kaltim, Samarinda.
Dalam pertemuan tersebut, ia menyoroti kecenderungan publik dan atensi media yang sering kali hanya fokus menyoroti angka dan data secara parsial.
Padahal, menurutnya, ada sisi lain dari data tersebut yang kerap luput dari perhatian, yakni rentetan peristiwa yang membentuknya.
"Memahami data itu tidak semudah itu (hanya melihat satu angka). Harus dilihat secara komprehensif," ujar Masud saat ditemui di Samarinda, Rabu (25/2/2026).
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa data selalu tersaji berdasarkan fenomena yang mengikuti atau membentuknya. Ia mencontohkan misalnya terkait data ketenagakerjaan yang berjalan sangat dinamis. Bertambahnya angka pengangguran dalam suatu periode rilis data, kata dia tidak selalu berarti perekonomian sedang memburuk.
Hal tersebut sering kali dipengaruhi oleh lonjakan jumlah angkatan kerja baru, baik dari lulusan pendidikan maupun migrasi pencari kerja yang pertumbuhannya lebih cepat dibandingkan ketersediaan lapangan kerja pada momen pendataan.
Oleh karena itu, Masud berharap literasi data masyarakat dapat terus meningkat. Dengan melihat dua sisi secara bersamaan, baik tren angka pengangguran maupun angka pertumbuhan lapangan kerja. Publik akan mendapatkan potret realitas ekonomi Kaltim yang lebih objektif dan berimbang.
"Jangan sampai kita kehilangan gambaran besar dari kondisi yang sebenarnya terjadi di lapangan," jelasnya.
Untuk itu, Masud mengaku siap mendampingi masyarakat melalui media massa dalam hal meningkatkan pemahaman dalam membaca dan memahami data.
"Salah satunya dengan kegiatan workshop barangkali, bisa kita jadwalkan bersama wartawan," tukasnya.
Sementara itu, Pemimpin Redaksi Seputarfakta.com, Rusdianto, mengakui bahwa saat ini salah satu tantangan besar media massa adalah berjejalnya informasi yang tersaji dengan kecepatan tinggi. Hal ini membuat masyarakat tidak benar-benar mendapatkan haknya, untuk mengonsumsi informasi secara benar dan lengkap.
Data, kata Rusdi adalah komponen penting yang bisa menjadi katalisator yang bisa dijadikan indikator untuk mengukur validitas sebuah informasi, dan alat propaganda di saat bersamaan.
"Jadi sebelum menyebarkan informasi kepada masyarakat, wartawannya sendiri harus bisa membaca data secara lengkap," ungkap Rusdi.
Selain itu, BPS lanjut Rusdi sebagai instansi yang berwenang mengumpulkan, memproses dan mengompilasi data, juga diharapkan bisa lebih luwes dalam menyajikan data.
"Intinya kami siap berkolaborasi," tutupnya.
(Sf/Lo)