Seputar Kaltim

    Kepala BPBD Samarinda Jelaskan OMC dan Water Bombing Kejar Hujan Atasi Kabut Asap

    Penulis:Arman Maulana|Redaktur:Rusdianto
    17 September 2026 pukul 18:50 WITA

    Kepala BPBD Samarinda, Suwarso. (Foto: Arman/Seputarfakta.com)

    Samarinda - Kepala BPBD Kota Samarinda, Suwarso, menjelaskan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang saat ini berlangsung merupakan tindak lanjut dari surat Wali Kota Samarinda kepada Kepala BNPB dan Kepala BMKG Pusat.

    “Ya kalau operasi modifikasi cuaca itu merupakan tindak lanjut dari surat Wali Kota itu permohonan OMC untuk mengurangi dampak kekeringan, permohonannya ke Kepala BNPB dan Kepala BMKG pusat,” ujar Suwarso, Kamis (17/9/2026).

    Menurutnya, operasi water bombing juga berjalan beriringan dan bahkan lebih dulu bekerja.

    “Untuk water bombing-nya juga sama waktunya dan water bombing itu lebih dulu bekerja kurang lebih seminggu sebelum OMC dengan pesawat Cessna. Water bombing sedang berjalan itu meng-cover wilayah Samarinda dan Kukar,” jelasnya.

    OMC sendiri resmi dimulai pada 15 hingga 19 September 2026 atas perintah langsung Kepala BNPB untuk menyemai awan yang berpotensi menjadi hujan.

    “OMC dimulai pada tanggal 15-19 September 2026 itu perintah langsung dari Kepala BNPB untuk melakukan penyemaian pembentukan awan-awan yang berpotensi bisa menjadi hujan. Memang yang sudah berhasil banyak karena pembentukan awan di wilayah Berau, kemudian Kukar, Kubar potensinya besar,” kata Suwarso.

    Untuk bahan semai, pihaknya telah menyiapkan Natrium Klorida (NaCl) atau Garam. Tahap pertama sebanyak 6 ton telah terkirim, ditambah 2 ton, dan akan ditambah lagi 4 ton.

    “Untuk NaCl nya itu yang tahap pertama terkirim 6 ton, setelah itu ada tambahan 2 ton dan akan tambah lagi 4 ton. Karena setiap itu rata-rata 1 ton sampai 2 ton untuk menggarami awan,” ungkapnya.

    Penerbangan OMC dilakukan dari Bandara APT Pranoto Samarinda selama 24 jam dengan tetap memperhatikan jarak pandang dan potensi awan.

    “Terus kita akan tunggu, sepanjang ada potensi pembentukan awan menjadi hujan ya kita lakukan OMC. Penerbangannya dilakukan dari Bandara APT Pranoto itu 24 jam sebenarnya, tapi juga sambil memperhatikan jarak pandang dan potensi awannya, jadi tidak otomatis bekerja terus tapi tetap dalam pantauan terus,” tutupnya.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Kepala BPBD Samarinda Jelaskan OMC dan Water Bombing Kejar Hujan Atasi Kabut Asap

    Penulis:Arman Maulana|Redaktur:Rusdianto
    17 September 2026 pukul 18:50 WITA

    Kepala BPBD Samarinda, Suwarso. (Foto: Arman/Seputarfakta.com)

    Samarinda - Kepala BPBD Kota Samarinda, Suwarso, menjelaskan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang saat ini berlangsung merupakan tindak lanjut dari surat Wali Kota Samarinda kepada Kepala BNPB dan Kepala BMKG Pusat.

    “Ya kalau operasi modifikasi cuaca itu merupakan tindak lanjut dari surat Wali Kota itu permohonan OMC untuk mengurangi dampak kekeringan, permohonannya ke Kepala BNPB dan Kepala BMKG pusat,” ujar Suwarso, Kamis (17/9/2026).

    Menurutnya, operasi water bombing juga berjalan beriringan dan bahkan lebih dulu bekerja.

    “Untuk water bombing-nya juga sama waktunya dan water bombing itu lebih dulu bekerja kurang lebih seminggu sebelum OMC dengan pesawat Cessna. Water bombing sedang berjalan itu meng-cover wilayah Samarinda dan Kukar,” jelasnya.

    OMC sendiri resmi dimulai pada 15 hingga 19 September 2026 atas perintah langsung Kepala BNPB untuk menyemai awan yang berpotensi menjadi hujan.

    “OMC dimulai pada tanggal 15-19 September 2026 itu perintah langsung dari Kepala BNPB untuk melakukan penyemaian pembentukan awan-awan yang berpotensi bisa menjadi hujan. Memang yang sudah berhasil banyak karena pembentukan awan di wilayah Berau, kemudian Kukar, Kubar potensinya besar,” kata Suwarso.

    Untuk bahan semai, pihaknya telah menyiapkan Natrium Klorida (NaCl) atau Garam. Tahap pertama sebanyak 6 ton telah terkirim, ditambah 2 ton, dan akan ditambah lagi 4 ton.

    “Untuk NaCl nya itu yang tahap pertama terkirim 6 ton, setelah itu ada tambahan 2 ton dan akan tambah lagi 4 ton. Karena setiap itu rata-rata 1 ton sampai 2 ton untuk menggarami awan,” ungkapnya.

    Penerbangan OMC dilakukan dari Bandara APT Pranoto Samarinda selama 24 jam dengan tetap memperhatikan jarak pandang dan potensi awan.

    “Terus kita akan tunggu, sepanjang ada potensi pembentukan awan menjadi hujan ya kita lakukan OMC. Penerbangannya dilakukan dari Bandara APT Pranoto itu 24 jam sebenarnya, tapi juga sambil memperhatikan jarak pandang dan potensi awannya, jadi tidak otomatis bekerja terus tapi tetap dalam pantauan terus,” tutupnya.

    (Sf/Rs)