Cari disini...
Seputar Kaltim
Ilustrasi Bus Sekolah. (Foto:Istimewa)
Sangatta - Bupati Ardiansyah Sulaiman menegaskan program bus sekolah di Kutai Timur (Kutim) diprioritaskan bagi siswa yang tidak memiliki akses transportasi, baik karena ketiadaan kendaraan pribadi maupun tidak tersedianya angkutan umum.
Ia mengatakan, program tersebut telah direncanakan sejak 2024 dan kini diperkuat sebagai bagian dari 50 program unggulan pemerintah daerah.
“Bus sekolah ini diharapkan dapat mengakomodasi anak-anak yang orang tuanya tidak memiliki kendaraan atau tinggal di wilayah tanpa jalur angkutan umum. Selain itu, program ini juga bertujuan membantu mengurangi beban operasional rumah tangga, terutama untuk antar-jemput anak sekolah,” ujar Ardiansyah.
Namun demikian, ia menegaskan pengadaan armada bus sekolah tetap menyesuaikan dengan kondisi fiskal daerah. Pada tahap awal, Pemkab Kutim merencanakan uji coba dua unit bus listrik, tetapi saat ini baru satu unit yang direalisasikan.
“Ke depan, jika kemampuan fiskal memungkinkan, tentu akan kita tambah,” katanya.
Ardiansyah juga memastikan program ini tidak hanya difokuskan di wilayah Sangatta, tetapi akan diperluas ke sejumlah kecamatan lain yang telah mengusulkan kebutuhan serupa.
Untuk wilayah di luar Sangatta, Pemkab mempertimbangkan penggunaan armada non-listrik karena kendala operasional. Salah satu contohnya adalah Kecamatan Batu Ampar, di mana akses transportasi antar desa masih terbatas.
Ia menjelaskan, di beberapa desa seperti Hima Lestari, siswa harus menempuh perjalanan jauh menuju sekolah di Mawai Indah atau Benua Harapan tanpa dukungan angkutan umum.
“Kondisi ini membuat anak-anak sekolah sering bergantung pada kendaraan yang lewat. Kadang beruntung jika ada yang berhenti, tapi kalau tidak, mereka harus mencari alternatif lain,” ungkapnya.
Karena itu, masyarakat di wilayah tersebut mengusulkan pengadaan bus mini untuk mendukung mobilitas pelajar.
Ardiansyah menambahkan, pemerintah daerah akan terus mengkaji dan mengembangkan program ini dengan mempertimbangkan kemampuan keuangan daerah serta kesiapan operasional ke depan.
“Harapannya, ke depan kemampuan fiskal kita membaik dan dukungan terhadap program ini bisa terus ditingkatkan,” tutupnya.
(Sf/RS)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Ilustrasi Bus Sekolah. (Foto:Istimewa)
Sangatta - Bupati Ardiansyah Sulaiman menegaskan program bus sekolah di Kutai Timur (Kutim) diprioritaskan bagi siswa yang tidak memiliki akses transportasi, baik karena ketiadaan kendaraan pribadi maupun tidak tersedianya angkutan umum.
Ia mengatakan, program tersebut telah direncanakan sejak 2024 dan kini diperkuat sebagai bagian dari 50 program unggulan pemerintah daerah.
“Bus sekolah ini diharapkan dapat mengakomodasi anak-anak yang orang tuanya tidak memiliki kendaraan atau tinggal di wilayah tanpa jalur angkutan umum. Selain itu, program ini juga bertujuan membantu mengurangi beban operasional rumah tangga, terutama untuk antar-jemput anak sekolah,” ujar Ardiansyah.
Namun demikian, ia menegaskan pengadaan armada bus sekolah tetap menyesuaikan dengan kondisi fiskal daerah. Pada tahap awal, Pemkab Kutim merencanakan uji coba dua unit bus listrik, tetapi saat ini baru satu unit yang direalisasikan.
“Ke depan, jika kemampuan fiskal memungkinkan, tentu akan kita tambah,” katanya.
Ardiansyah juga memastikan program ini tidak hanya difokuskan di wilayah Sangatta, tetapi akan diperluas ke sejumlah kecamatan lain yang telah mengusulkan kebutuhan serupa.
Untuk wilayah di luar Sangatta, Pemkab mempertimbangkan penggunaan armada non-listrik karena kendala operasional. Salah satu contohnya adalah Kecamatan Batu Ampar, di mana akses transportasi antar desa masih terbatas.
Ia menjelaskan, di beberapa desa seperti Hima Lestari, siswa harus menempuh perjalanan jauh menuju sekolah di Mawai Indah atau Benua Harapan tanpa dukungan angkutan umum.
“Kondisi ini membuat anak-anak sekolah sering bergantung pada kendaraan yang lewat. Kadang beruntung jika ada yang berhenti, tapi kalau tidak, mereka harus mencari alternatif lain,” ungkapnya.
Karena itu, masyarakat di wilayah tersebut mengusulkan pengadaan bus mini untuk mendukung mobilitas pelajar.
Ardiansyah menambahkan, pemerintah daerah akan terus mengkaji dan mengembangkan program ini dengan mempertimbangkan kemampuan keuangan daerah serta kesiapan operasional ke depan.
“Harapannya, ke depan kemampuan fiskal kita membaik dan dukungan terhadap program ini bisa terus ditingkatkan,” tutupnya.
(Sf/RS)