Seputar Kaltim

    Kenaikan Pertamax Picu Peralihan BBM, Jalur Pertalite Padat di PPU

    Penulis:Cindy|Redaktur:Rusdianto
    10 Juni 2026 pukul 16:01 WITA

    Area pengisian pertamax lengang, sebaliknya kendaraan roda dua mengular di jalur pertalite SPBU KM 9 Nipah-Nipah, Kabupaten PPU. (Foto: Cindy/Seputarfakta.com)

    Penajam - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi jenis Pertamax langsung terasa di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) setelah informasi penyesuaian harga tersebut tersebar luas di masyarakat.

    Antrean kendaraan tampak memadati jalur Pertalite di SPBU KM 9 Nipah-Nipah, Selasa (10/6/2026), sementara dispenser Pertamax terlihat jauh lebih lengang.

    Pantauan Seputarfakta.com di lokasi, sebagian besar pengendara roda dua memilih mengantre di jalur Pertalite. Sebaliknya, hanya satu hingga dua kendaraan yang terlihat mengisi Pertamax.

    Perubahan pola konsumsi itu terjadi setelah PT Pertamina Patra Niaga resmi menaikkan harga Pertamax (RON 92) dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter atau naik sekitar 32 persen. Harga Pertamax Green (RON 95) juga naik dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.

    Lisa (24), warga Penajam, mengaku memilih beralih ke Pertalite demi menekan pengeluaran harian. Sebelumnya ia sesekali menggunakan Pertamax untuk kendaraannya.

    "Sebelumnya kadang beli Pertamax. Tapi lihat berita harganya naik, jadi pilih Pertalite," katanya saat ditemui di SPBU.

    Meski harus mengantre lebih lama, Lisa menilai penggunaan Pertalite masih lebih terjangkau dibanding harus mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli Pertamax.

    Respons berbeda disampaikan Tata (45), pedagang pentol di depan SMPN 21 Penajam. Ia mengaku tetap memilih Pertamax karena dinilai lebih cocok untuk kendaraan yang digunakan setiap hari.

    "Kalau Pertalite memang lebih murah. Tapi kalau dipakai jalan lebih enak pakai Pertamax. Terakhir beli masih Rp13 ribu, sekarang teman saya bilang sudah Rp16 ribu lebih," ujarnya.

    Menurutnya, kenaikan harga memang terasa, terutama bagi pemilik kendaraan roda empat yang kebutuhan bahan bakarnya lebih besar. Namun ia menilai ketersediaan BBM tetap menjadi hal yang paling penting.

    "Daripada susah dapat barangnya, lebih baik ada terus. Saya tetap pakai Pertamax," katanya.

    Sementara itu, Dian (23) mengaku cukup terkejut dengan lonjakan harga yang terjadi dalam satu kali penyesuaian.

    "Kaget juga. Saya kerja bolak-balik rumah setiap hari, jadi lumayan terasa. Sekarang lebih pilih Pertalite karena kalau uang yang sama dipakai beli Pertamax, tangkinya tidak penuh seperti biasanya," ujarnya.

    Diketahui, selain Pertamax dan Pertamax Green, Pertamina mempertahankan harga Pertamax Turbo di Rp20.750 per liter, Dexlite Rp23.000 per liter, serta Pertamina Dex Rp24.800 per liter.

    Adapun BBM subsidi dan penugasan tidak mengalami perubahan harga. Pertalite tetap dijual Rp10.000 per liter dan Biosolar Rp6.800 per liter.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Kenaikan Pertamax Picu Peralihan BBM, Jalur Pertalite Padat di PPU

    Penulis:Cindy|Redaktur:Rusdianto
    10 Juni 2026 pukul 16:01 WITA

    Area pengisian pertamax lengang, sebaliknya kendaraan roda dua mengular di jalur pertalite SPBU KM 9 Nipah-Nipah, Kabupaten PPU. (Foto: Cindy/Seputarfakta.com)

    Penajam - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi jenis Pertamax langsung terasa di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) setelah informasi penyesuaian harga tersebut tersebar luas di masyarakat.

    Antrean kendaraan tampak memadati jalur Pertalite di SPBU KM 9 Nipah-Nipah, Selasa (10/6/2026), sementara dispenser Pertamax terlihat jauh lebih lengang.

    Pantauan Seputarfakta.com di lokasi, sebagian besar pengendara roda dua memilih mengantre di jalur Pertalite. Sebaliknya, hanya satu hingga dua kendaraan yang terlihat mengisi Pertamax.

    Perubahan pola konsumsi itu terjadi setelah PT Pertamina Patra Niaga resmi menaikkan harga Pertamax (RON 92) dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter atau naik sekitar 32 persen. Harga Pertamax Green (RON 95) juga naik dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.

    Lisa (24), warga Penajam, mengaku memilih beralih ke Pertalite demi menekan pengeluaran harian. Sebelumnya ia sesekali menggunakan Pertamax untuk kendaraannya.

    "Sebelumnya kadang beli Pertamax. Tapi lihat berita harganya naik, jadi pilih Pertalite," katanya saat ditemui di SPBU.

    Meski harus mengantre lebih lama, Lisa menilai penggunaan Pertalite masih lebih terjangkau dibanding harus mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli Pertamax.

    Respons berbeda disampaikan Tata (45), pedagang pentol di depan SMPN 21 Penajam. Ia mengaku tetap memilih Pertamax karena dinilai lebih cocok untuk kendaraan yang digunakan setiap hari.

    "Kalau Pertalite memang lebih murah. Tapi kalau dipakai jalan lebih enak pakai Pertamax. Terakhir beli masih Rp13 ribu, sekarang teman saya bilang sudah Rp16 ribu lebih," ujarnya.

    Menurutnya, kenaikan harga memang terasa, terutama bagi pemilik kendaraan roda empat yang kebutuhan bahan bakarnya lebih besar. Namun ia menilai ketersediaan BBM tetap menjadi hal yang paling penting.

    "Daripada susah dapat barangnya, lebih baik ada terus. Saya tetap pakai Pertamax," katanya.

    Sementara itu, Dian (23) mengaku cukup terkejut dengan lonjakan harga yang terjadi dalam satu kali penyesuaian.

    "Kaget juga. Saya kerja bolak-balik rumah setiap hari, jadi lumayan terasa. Sekarang lebih pilih Pertalite karena kalau uang yang sama dipakai beli Pertamax, tangkinya tidak penuh seperti biasanya," ujarnya.

    Diketahui, selain Pertamax dan Pertamax Green, Pertamina mempertahankan harga Pertamax Turbo di Rp20.750 per liter, Dexlite Rp23.000 per liter, serta Pertamina Dex Rp24.800 per liter.

    Adapun BBM subsidi dan penugasan tidak mengalami perubahan harga. Pertalite tetap dijual Rp10.000 per liter dan Biosolar Rp6.800 per liter.

    (Sf/Rs)