Seputar Kaltim

    Kemenkes Perluas Layanan Jantung, RSUD Kudungga Kutim Jadi Rumah Sakit ke-39 dalam Program Pengampuan

    Penulis:Lisda|Redaktur:Rusdianto
    20 Juni 2026 pukul 21:37 WITA

    Penandatanganan kerja sama pengampuan jejaring kardiovaskular di Ruang Meranti, Kantor Bupati Kutai Timur. (Foto: Lisda/seputarfakta.com)

    Sangatta - RSUD Kudungga Kutai Timur (Kutim) menjadi rumah sakit ke-39 di Indonesia yang melaksanakan Proctorship Intervensi Non-Bedah (INB) dalam program Jejaring Pengampuan Kardiovaskular Kementerian Kesehatan.

    Perwakilan RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita (RSJPDHK), Dr. Ns. Erwin mengatakan perluasan layanan tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah mendekatkan pelayanan jantung dan pembuluh darah kepada masyarakat di berbagai daerah.

    Ia menyebut hingga 19 Juni 2026 terdapat 38 rumah sakit yang telah menjalankan layanan serupa, dan RSUD Kudungga menjadi rumah sakit ke-39 yang melaksanakan program tersebut.

    Erwin mengatakan program pengampuan kardiovaskular akan terus diperluas ke berbagai daerah. Setelah Kutim, kegiatan serupa dijadwalkan berlanjut ke Jawa Timur dan Papua Barat.

    "Kami terus memperluas jejaring ini agar masyarakat dapat memperoleh layanan jantung lebih dekat dengan tempat tinggalnya tanpa harus dirujuk ke kota-kota besar," ujar Erwin saat menghadiri kegiatan Jejaring Pengampuan Kardiovaskular di Ruang Meranti, Kantor Bupati Kutim beberapa waktu lalu.

    Ia menjelaskan, program pengampuan kardiovaskular tidak hanya berfokus pada penyediaan fasilitas kesehatan, tetapi juga peningkatan kompetensi tenaga medis melalui pendampingan langsung oleh dokter dan tenaga ahli dari rumah sakit rujukan nasional.

    Melalui program proctorship, dokter, perawat, dan tenaga kesehatan lainnya mendapatkan transfer pengetahuan dan keterampilan untuk meningkatkan kemampuan penanganan kasus jantung dan pembuluh darah di daerah.

    Erwin menyebut pengembangan layanan dilakukan secara bertahap sesuai kesiapan masing-masing rumah sakit. Namun, tujuan utamanya tetap sama, yakni memastikan akses layanan kesehatan jantung semakin merata di seluruh Indonesia.

    Selain pengembangan layanan klinis, pihaknya juga mendorong pemanfaatan layanan konsultasi digital yang memungkinkan tenaga kesehatan di daerah memperoleh dukungan dari dokter spesialis dan subspesialis secara lebih cepat.

    "Yang kami bangun bukan hanya fasilitas, tetapi juga kapasitas sumber daya manusia agar pelayanan yang diberikan kepada masyarakat semakin baik," katanya.

    Sementara itu, Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman menyambut baik program tersebut karena dinilai dapat memperluas akses layanan kesehatan jantung bagi masyarakat.

    "Melalui jejaring ini, diharapkan kualitas pelayanan kesehatan dapat semakin merata sehingga masyarakat memperoleh pelayanan spesialistik yang lebih cepat, lebih dekat, dan lebih berkualitas," jelas Ardiansyah.

    Pemkab Kutim akan terus mendukung pengembangan layanan kesehatan melalui penguatan fasilitas dan sumber daya manusia.

    Ia berharap penguatan jejaring pengampuan tersebut dapat memperluas akses layanan jantung dan pembuluh darah di berbagai daerah sehingga masyarakat tidak perlu selalu dirujuk ke rumah sakit di kota-kota besar.

    (Sf/RS)

    Seputar Kaltim

    Kemenkes Perluas Layanan Jantung, RSUD Kudungga Kutim Jadi Rumah Sakit ke-39 dalam Program Pengampuan

    Penulis:Lisda|Redaktur:Rusdianto
    20 Juni 2026 pukul 21:37 WITA

    Penandatanganan kerja sama pengampuan jejaring kardiovaskular di Ruang Meranti, Kantor Bupati Kutai Timur. (Foto: Lisda/seputarfakta.com)

    Sangatta - RSUD Kudungga Kutai Timur (Kutim) menjadi rumah sakit ke-39 di Indonesia yang melaksanakan Proctorship Intervensi Non-Bedah (INB) dalam program Jejaring Pengampuan Kardiovaskular Kementerian Kesehatan.

    Perwakilan RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita (RSJPDHK), Dr. Ns. Erwin mengatakan perluasan layanan tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah mendekatkan pelayanan jantung dan pembuluh darah kepada masyarakat di berbagai daerah.

    Ia menyebut hingga 19 Juni 2026 terdapat 38 rumah sakit yang telah menjalankan layanan serupa, dan RSUD Kudungga menjadi rumah sakit ke-39 yang melaksanakan program tersebut.

    Erwin mengatakan program pengampuan kardiovaskular akan terus diperluas ke berbagai daerah. Setelah Kutim, kegiatan serupa dijadwalkan berlanjut ke Jawa Timur dan Papua Barat.

    "Kami terus memperluas jejaring ini agar masyarakat dapat memperoleh layanan jantung lebih dekat dengan tempat tinggalnya tanpa harus dirujuk ke kota-kota besar," ujar Erwin saat menghadiri kegiatan Jejaring Pengampuan Kardiovaskular di Ruang Meranti, Kantor Bupati Kutim beberapa waktu lalu.

    Ia menjelaskan, program pengampuan kardiovaskular tidak hanya berfokus pada penyediaan fasilitas kesehatan, tetapi juga peningkatan kompetensi tenaga medis melalui pendampingan langsung oleh dokter dan tenaga ahli dari rumah sakit rujukan nasional.

    Melalui program proctorship, dokter, perawat, dan tenaga kesehatan lainnya mendapatkan transfer pengetahuan dan keterampilan untuk meningkatkan kemampuan penanganan kasus jantung dan pembuluh darah di daerah.

    Erwin menyebut pengembangan layanan dilakukan secara bertahap sesuai kesiapan masing-masing rumah sakit. Namun, tujuan utamanya tetap sama, yakni memastikan akses layanan kesehatan jantung semakin merata di seluruh Indonesia.

    Selain pengembangan layanan klinis, pihaknya juga mendorong pemanfaatan layanan konsultasi digital yang memungkinkan tenaga kesehatan di daerah memperoleh dukungan dari dokter spesialis dan subspesialis secara lebih cepat.

    "Yang kami bangun bukan hanya fasilitas, tetapi juga kapasitas sumber daya manusia agar pelayanan yang diberikan kepada masyarakat semakin baik," katanya.

    Sementara itu, Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman menyambut baik program tersebut karena dinilai dapat memperluas akses layanan kesehatan jantung bagi masyarakat.

    "Melalui jejaring ini, diharapkan kualitas pelayanan kesehatan dapat semakin merata sehingga masyarakat memperoleh pelayanan spesialistik yang lebih cepat, lebih dekat, dan lebih berkualitas," jelas Ardiansyah.

    Pemkab Kutim akan terus mendukung pengembangan layanan kesehatan melalui penguatan fasilitas dan sumber daya manusia.

    Ia berharap penguatan jejaring pengampuan tersebut dapat memperluas akses layanan jantung dan pembuluh darah di berbagai daerah sehingga masyarakat tidak perlu selalu dirujuk ke rumah sakit di kota-kota besar.

    (Sf/RS)