Seputar Kaltim

    Kemarau Tekan Tiga Sumber Air PPU, AMDT Siapkan Pasokan dari Waru

    Penulis:Cindy|Redaktur:Rusdianto
    01 September 2026 pukul 01:19 WITA

    Direktur Perumda AMDT, Abdul Rasyid. (Foto: Cindy/seputarfakta.com)

    Penajam - Musim kemarau mulai menekan sumber air baku di Penajam Paser Utara (PPU). Perumda Air Minum Danum Taka (AMDT) mencatat Lawe-Lawe, Sotek dan Babulu mengalami penurunan ketersediaan air.

    Direktur Perumda AMDT PPU, Abdul Rasyid, mengatakan kondisi paling berat terjadi di tiga sumber tersebut. Sotek bahkan sudah berhenti beroperasi lebih dari dua pekan, sementara kondisi Lawe-Lawe dan Babulu terus menurun.

    "Ada tiga yang kondisinya agak parah. Lawe-Lawe sebagai sumber induk, Sotek sudah mati lebih dari dua minggu, kemudian Babulu berangsur turun," kata Rasyid, Senin (31/8/2026).

    Di Lawe-Lawe, laporan harian menunjukkan ketinggian air turun dari 215 sentimeter menjadi 160 sentimeter. Dengan kondisi tersebut, debit yang tersedia untuk pengolahan berada di kisaran 80 liter per detik.

    Lawe-Lawe menjadi sumber penting untuk memenuhi kebutuhan air di kawasan ibu kota kabupaten. AMDT kini menyiapkan sumber Waru sebagai alternatif apabila air Lawe-Lawe tidak lagi mencukupi untuk diolah.

    "Kalau kondisinya tidak bisa diolah, kemungkinan kita ambil dari Waru. Sumber air baku di Waru yang bisa kita harapkan," ujarnya.

    Persiapan pasokan alternatif itu dilakukan bersama Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) melalui pengerjaan jaringan interkoneksi perpipaan dari Waru menuju Petung.

    Upaya menjaga pasokan juga dilakukan melalui normalisasi sungai. DPUPR telah melakukan pendalaman alur sungai sepanjang sekitar 1,5 kilometer untuk membantu mempertahankan ketersediaan air baku.

    Normalisasi tersebut, kata dia, belum cukup menahan penurunan pasokan. Rasyid bilang, air di sumber tersebut terus berangsur berkurang karena kapasitas produksi tinggi dan kebutuhan pelanggan juga besar.

    "Cuma karena memang kapasitas produksi kita ini tinggi, masyarakat juga demandnya tinggi, ya air  semakin berangsur habis kan," katanya. 

    Meski kapasitas produksi berkurang, AMDT memastikan distribusi kepada pelanggan tetap berjalan. Jadwal pengaliran akan disesuaikan apabila pasokan tidak mampu memenuhi kebutuhan sepanjang hari.

    "Air tetap kita alirkan, meskipun nanti sore atau malam hari. Kita atur ulang jadwal pembagiannya," tutup Rasyid.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Kemarau Tekan Tiga Sumber Air PPU, AMDT Siapkan Pasokan dari Waru

    Penulis:Cindy|Redaktur:Rusdianto
    01 September 2026 pukul 01:19 WITA

    Direktur Perumda AMDT, Abdul Rasyid. (Foto: Cindy/seputarfakta.com)

    Penajam - Musim kemarau mulai menekan sumber air baku di Penajam Paser Utara (PPU). Perumda Air Minum Danum Taka (AMDT) mencatat Lawe-Lawe, Sotek dan Babulu mengalami penurunan ketersediaan air.

    Direktur Perumda AMDT PPU, Abdul Rasyid, mengatakan kondisi paling berat terjadi di tiga sumber tersebut. Sotek bahkan sudah berhenti beroperasi lebih dari dua pekan, sementara kondisi Lawe-Lawe dan Babulu terus menurun.

    "Ada tiga yang kondisinya agak parah. Lawe-Lawe sebagai sumber induk, Sotek sudah mati lebih dari dua minggu, kemudian Babulu berangsur turun," kata Rasyid, Senin (31/8/2026).

    Di Lawe-Lawe, laporan harian menunjukkan ketinggian air turun dari 215 sentimeter menjadi 160 sentimeter. Dengan kondisi tersebut, debit yang tersedia untuk pengolahan berada di kisaran 80 liter per detik.

    Lawe-Lawe menjadi sumber penting untuk memenuhi kebutuhan air di kawasan ibu kota kabupaten. AMDT kini menyiapkan sumber Waru sebagai alternatif apabila air Lawe-Lawe tidak lagi mencukupi untuk diolah.

    "Kalau kondisinya tidak bisa diolah, kemungkinan kita ambil dari Waru. Sumber air baku di Waru yang bisa kita harapkan," ujarnya.

    Persiapan pasokan alternatif itu dilakukan bersama Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) melalui pengerjaan jaringan interkoneksi perpipaan dari Waru menuju Petung.

    Upaya menjaga pasokan juga dilakukan melalui normalisasi sungai. DPUPR telah melakukan pendalaman alur sungai sepanjang sekitar 1,5 kilometer untuk membantu mempertahankan ketersediaan air baku.

    Normalisasi tersebut, kata dia, belum cukup menahan penurunan pasokan. Rasyid bilang, air di sumber tersebut terus berangsur berkurang karena kapasitas produksi tinggi dan kebutuhan pelanggan juga besar.

    "Cuma karena memang kapasitas produksi kita ini tinggi, masyarakat juga demandnya tinggi, ya air  semakin berangsur habis kan," katanya. 

    Meski kapasitas produksi berkurang, AMDT memastikan distribusi kepada pelanggan tetap berjalan. Jadwal pengaliran akan disesuaikan apabila pasokan tidak mampu memenuhi kebutuhan sepanjang hari.

    "Air tetap kita alirkan, meskipun nanti sore atau malam hari. Kita atur ulang jadwal pembagiannya," tutup Rasyid.

    (Sf/Rs)