Cari disini...
Seputar Kaltim
Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kukar Muhammad Taufik. (Foto:M.Anshori/Seputarfakta.com).
Tenggarong - Musim kemarau yang berkepanjangan menyebabkan minimnya curah hujan dan berdampak pada sektor pertanian di Kutai Kartanegara (Kukar).
Puncak kemarau diprediksi akan terjadi pada Agustus hingga awal September 2022 dengan kondisi akan jauh lebih kering dibandingkan tahun sebelumnya.
Fenomena tersebut berpotensi mengganggu ketahanan pangan karena adanya ancaman gagal panen pada lahan pertanian.
Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kukar, Muhammad Taufik mengatakan sektor pertanian akan sangat terdampak dengan kemarau ini, terutama lahan pertanian yang masih menggunakan sistem pertanian tradisional.
Distanak Kukar, kata dia, terus berupaya mengatasi dampak kekeringan tersebut. Ada beberapa lokasi yang dilanda musim kemarau, khususnya untuk tanaman hortikultura dan padi sawah.
"Untuk waktu dekat ini kita akan monitor terus dan minta data. Kemudian dengan cara mengikuti program asuransi usaha tani, ketika nanti terjadi gagal panen maka bisa diupayakan untuk mendapatkan asuransi usah taninya," kata Taufik, Selasa (8/8/23).
Taufik menyebutkan Distanak juga akan coba mensosialisasikan asuransi usaha tani ini agar bisa dialokasikan ke anggaran daerah untuk premi asuransi.
"Manfaat dari asuransi ini cukup besar terutama untuk petani-petani kecil, meski preminya tidak terlalu besar tetapi ketika petani gagal panen, minimal memberikan hasil produksi," ungkapnya.
"Asuransi tersebut merupakan upaya pemerintah dalam membantu petani. Ini program nasional bekerjasama dengan perusahaan asuransi," Tambahnya.
Kemarau yang melanda Kukar berpotensi gagal panen dan otomatis akan menyebabkan kelangkaan bahan pangan hingga menyebabkan inflasi.
(Sf/By)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kukar Muhammad Taufik. (Foto:M.Anshori/Seputarfakta.com).
Tenggarong - Musim kemarau yang berkepanjangan menyebabkan minimnya curah hujan dan berdampak pada sektor pertanian di Kutai Kartanegara (Kukar).
Puncak kemarau diprediksi akan terjadi pada Agustus hingga awal September 2022 dengan kondisi akan jauh lebih kering dibandingkan tahun sebelumnya.
Fenomena tersebut berpotensi mengganggu ketahanan pangan karena adanya ancaman gagal panen pada lahan pertanian.
Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kukar, Muhammad Taufik mengatakan sektor pertanian akan sangat terdampak dengan kemarau ini, terutama lahan pertanian yang masih menggunakan sistem pertanian tradisional.
Distanak Kukar, kata dia, terus berupaya mengatasi dampak kekeringan tersebut. Ada beberapa lokasi yang dilanda musim kemarau, khususnya untuk tanaman hortikultura dan padi sawah.
"Untuk waktu dekat ini kita akan monitor terus dan minta data. Kemudian dengan cara mengikuti program asuransi usaha tani, ketika nanti terjadi gagal panen maka bisa diupayakan untuk mendapatkan asuransi usah taninya," kata Taufik, Selasa (8/8/23).
Taufik menyebutkan Distanak juga akan coba mensosialisasikan asuransi usaha tani ini agar bisa dialokasikan ke anggaran daerah untuk premi asuransi.
"Manfaat dari asuransi ini cukup besar terutama untuk petani-petani kecil, meski preminya tidak terlalu besar tetapi ketika petani gagal panen, minimal memberikan hasil produksi," ungkapnya.
"Asuransi tersebut merupakan upaya pemerintah dalam membantu petani. Ini program nasional bekerjasama dengan perusahaan asuransi," Tambahnya.
Kemarau yang melanda Kukar berpotensi gagal panen dan otomatis akan menyebabkan kelangkaan bahan pangan hingga menyebabkan inflasi.
(Sf/By)