Seputar Kaltim

    Kemarau Panjang Ancam Produktivitas Sawah Kukar, Hasil Panen Diperkirakan Turun

    Penulis:Agus Saputra|Redaktur:Lodya A
    12 Agustus 2026 pukul 17:45 WITA

    Ilustrasi lahan persawahan yang terdampak kekeringan akibat musim kemarau (Dok: pngtree)

    Tenggarong - Musim kemarau yang sedang melanda Kutai Kartanegara (Kukar) saat ini diperkirakan akan berlangsung hingga Desember 2026 mendatang.

    Kondisi tersebut dapat berpotensi memicu kekeringan, sehingga sejumlah lahan pertanian di beberapa wilayah diprediksi mengalami penurunan produktivitas hingga berisiko gagal panen.

    Berdasarkan data yang dihimpun sementara Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kukar, tercatat sekitar 80 persen lahan persawahan di Kukar terdampak kekeringan dengan tingkat keparahan yang berbeda-beda

    Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Distanak Kukar, Nazyarudin mengatakan kondisi tersebut belum menunjukkan adanya ancaman gagal panen secara menyeluruh.

    Menurutnya, dampak yang lebih mungkin terjadi yaitu berkurangnya hasil produksi akibat tanaman tidak memperoleh pasokan air yang cukup selama masa pertumbuhan.

    “Untuk sementara belum ada potensi gagal panen. Setelah kami survei, kemungkinan yang terjadi produksi panennya menurun. Jadi tetap panen, hanya hasilnya berkurang untuk wilayah yang memang kekurangan sumber air,” ujar Nazyarudin, Rabu (12/8/2026).

    Ia menjelaskan biasanya satu hektare (Ha) sawah mampu menghasilkan sekitar 3,8 ton gabah. Namun, produksi tersebut dapat merosot hingga sekitar dua ton per Ha apabila kebutuhan air tanaman tidak terpenuhi, terutama di tengah musim kemarau saat ini.

    Bahkan, dampak yang ditimbulkan akibat kekeringan juga dipengaruhi usia tanaman. Padi yang telah berusia dua hingga tiga bulan dinilai relatif lebih mampu bertahan ketimbang di bawahnya karena telah melewati fase awal pertumbuhan.

    “Kalau yang sudah lebih dari dua sampai tiga bulan, walaupun kekurangan air tidak begitu berpengaruh karena tinggal tumbuh. Tapi yang baru tanam memang membutuhkan air,” terangnya.

    Nazyarudin menyampaikan dampak kekeringan juga tidak otomatis dirasakan seluruh petani dalam satu kecamatan. Kondisi tersebut sangat bergantung pada sumber air, kondisi lahan, kelompok tani hingga waktu tanam.

    “Tidak semuanya dalam satu kecamatan mengalami penurunan produktivitas. Bisa hanya satu kelompok atau beberapa kelompok, tergantung kondisi lahan dan masa tanamnya,” paparnya.

    Melihat kondisi tersebut, Pemkab Kukar kini tengah menyiapkan langkah penanganan dengan melakukan pemetaan secara langsung terhadap kondisi lahan pertanian guna meminimalisir potensi penurunan produksi gabah.

    (Sf/Lo)

    Seputar Kaltim

    Kemarau Panjang Ancam Produktivitas Sawah Kukar, Hasil Panen Diperkirakan Turun

    Penulis:Agus Saputra|Redaktur:Lodya A
    12 Agustus 2026 pukul 17:45 WITA

    Ilustrasi lahan persawahan yang terdampak kekeringan akibat musim kemarau (Dok: pngtree)

    Tenggarong - Musim kemarau yang sedang melanda Kutai Kartanegara (Kukar) saat ini diperkirakan akan berlangsung hingga Desember 2026 mendatang.

    Kondisi tersebut dapat berpotensi memicu kekeringan, sehingga sejumlah lahan pertanian di beberapa wilayah diprediksi mengalami penurunan produktivitas hingga berisiko gagal panen.

    Berdasarkan data yang dihimpun sementara Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kukar, tercatat sekitar 80 persen lahan persawahan di Kukar terdampak kekeringan dengan tingkat keparahan yang berbeda-beda

    Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Distanak Kukar, Nazyarudin mengatakan kondisi tersebut belum menunjukkan adanya ancaman gagal panen secara menyeluruh.

    Menurutnya, dampak yang lebih mungkin terjadi yaitu berkurangnya hasil produksi akibat tanaman tidak memperoleh pasokan air yang cukup selama masa pertumbuhan.

    “Untuk sementara belum ada potensi gagal panen. Setelah kami survei, kemungkinan yang terjadi produksi panennya menurun. Jadi tetap panen, hanya hasilnya berkurang untuk wilayah yang memang kekurangan sumber air,” ujar Nazyarudin, Rabu (12/8/2026).

    Ia menjelaskan biasanya satu hektare (Ha) sawah mampu menghasilkan sekitar 3,8 ton gabah. Namun, produksi tersebut dapat merosot hingga sekitar dua ton per Ha apabila kebutuhan air tanaman tidak terpenuhi, terutama di tengah musim kemarau saat ini.

    Bahkan, dampak yang ditimbulkan akibat kekeringan juga dipengaruhi usia tanaman. Padi yang telah berusia dua hingga tiga bulan dinilai relatif lebih mampu bertahan ketimbang di bawahnya karena telah melewati fase awal pertumbuhan.

    “Kalau yang sudah lebih dari dua sampai tiga bulan, walaupun kekurangan air tidak begitu berpengaruh karena tinggal tumbuh. Tapi yang baru tanam memang membutuhkan air,” terangnya.

    Nazyarudin menyampaikan dampak kekeringan juga tidak otomatis dirasakan seluruh petani dalam satu kecamatan. Kondisi tersebut sangat bergantung pada sumber air, kondisi lahan, kelompok tani hingga waktu tanam.

    “Tidak semuanya dalam satu kecamatan mengalami penurunan produktivitas. Bisa hanya satu kelompok atau beberapa kelompok, tergantung kondisi lahan dan masa tanamnya,” paparnya.

    Melihat kondisi tersebut, Pemkab Kukar kini tengah menyiapkan langkah penanganan dengan melakukan pemetaan secara langsung terhadap kondisi lahan pertanian guna meminimalisir potensi penurunan produksi gabah.

    (Sf/Lo)