Seputar Kaltim

    Kemarau Panjang Ancam Musim Tanam PPU, Tohar Sebut Bisa Bergeser hingga Desember

    Penulis:Cindy|Redaktur:Rusdianto
    22 Agustus 2026 pukul 12:24 WITA

    Sekretaris Daerah (Sekda) PPU, Tohar. (Foto: Cindy/seputarfakta.com)

    Penajam - Kemarau panjang mengganggu siklus pertanian di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU). Musim tanam yang biasanya dimulai September terancam mundur hingga Oktober, November bahkan Desember karena hujan belum juga turun.

    Sekretaris Daerah (Sekda) PPU, Tohar mengatakan dampak kekeringan sudah dirasakan di lahan pertanian. Tanaman yang telah ditanam kesulitan mendapatkan air, sementara petani belum dapat kembali mengolah lahan untuk musim tanam berikutnya.

    "September ini menjadi patokan kita. Kalau hujan belum ada, ya kita tunggu sampai Oktober, November atau Desember," kata Tohar, Kamis (20/8/2026).

    Pergeseran waktu tanam membuat jeda antarmusim menjadi lebih panjang. Kondisi serupa juga mengancam tanaman palawija yang membutuhkan pasokan air untuk tumbuh.

    "Palawija juga terdampak dengan kondisi kering seperti sekarang," ujarnya.

    Tohar menyebut dampak kekeringan terhadap pertanian tidak berhenti pada tertundanya aktivitas petani. 

    Bila berlangsung panjang, persoalan air dapat merembet pada ketersediaan pangan di daerah.

    "Begitu juga, rawan pangan pasti akan mengikuti," katanya saat ditanya mengenai potensi munculnya kerawanan pangan di wilayah yang mengalami kekurangan air.

    Ancaman tersebut membuat penanganan kemarau di PPU tidak hanya berfokus pada distribusi air bersih bagi warga. Pemerintah daerah juga perlu menjaga agar kekeringan tidak memutus siklus produksi pertanian.

    Musim tanam September kini menjadi titik penting. Hujan yang belum turun membuat petani berada dalam posisi menunggu, sementara semakin panjang masa kering, semakin besar pula risiko jeda produksi pertanian di PPU.

    (Sf/Lo)

    Seputar Kaltim

    Kemarau Panjang Ancam Musim Tanam PPU, Tohar Sebut Bisa Bergeser hingga Desember

    Penulis:Cindy|Redaktur:Rusdianto
    22 Agustus 2026 pukul 12:24 WITA

    Sekretaris Daerah (Sekda) PPU, Tohar. (Foto: Cindy/seputarfakta.com)

    Penajam - Kemarau panjang mengganggu siklus pertanian di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU). Musim tanam yang biasanya dimulai September terancam mundur hingga Oktober, November bahkan Desember karena hujan belum juga turun.

    Sekretaris Daerah (Sekda) PPU, Tohar mengatakan dampak kekeringan sudah dirasakan di lahan pertanian. Tanaman yang telah ditanam kesulitan mendapatkan air, sementara petani belum dapat kembali mengolah lahan untuk musim tanam berikutnya.

    "September ini menjadi patokan kita. Kalau hujan belum ada, ya kita tunggu sampai Oktober, November atau Desember," kata Tohar, Kamis (20/8/2026).

    Pergeseran waktu tanam membuat jeda antarmusim menjadi lebih panjang. Kondisi serupa juga mengancam tanaman palawija yang membutuhkan pasokan air untuk tumbuh.

    "Palawija juga terdampak dengan kondisi kering seperti sekarang," ujarnya.

    Tohar menyebut dampak kekeringan terhadap pertanian tidak berhenti pada tertundanya aktivitas petani. 

    Bila berlangsung panjang, persoalan air dapat merembet pada ketersediaan pangan di daerah.

    "Begitu juga, rawan pangan pasti akan mengikuti," katanya saat ditanya mengenai potensi munculnya kerawanan pangan di wilayah yang mengalami kekurangan air.

    Ancaman tersebut membuat penanganan kemarau di PPU tidak hanya berfokus pada distribusi air bersih bagi warga. Pemerintah daerah juga perlu menjaga agar kekeringan tidak memutus siklus produksi pertanian.

    Musim tanam September kini menjadi titik penting. Hujan yang belum turun membuat petani berada dalam posisi menunggu, sementara semakin panjang masa kering, semakin besar pula risiko jeda produksi pertanian di PPU.

    (Sf/Lo)