Seputar Kaltim

    Kemarau Mulai Ganggu Sawah di Kutim, Padi Baru Tanam Berisiko Gagal Panen

    Penulis:Lisda|Redaktur:Lodya A
    01 September 2026 pukul 14:02 WITA

    Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (DTPHP) Kutim, Purno Edi, (Foto: Lisda/seputarfakta.com)

    Sangatta - Kekeringan mulai mengganggu lahan pertanian di Kabupaten Kutai Timur (Kutim), terutama sawah yang baru ditanami padi. Kondisi ini membuat tanaman berisiko gagal panen jika pasokan air tidak segera tersedia.

    Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan (DTPHP) Kutim, Purno Edi, mengatakan pihaknya telah menerima laporan dari petani terkait kondisi tersebut. Salah satunya berasal dari kelompok tani di Bengalon. Saat ini, DTPHP masih melakukan pemetaan untuk mengetahui luasan lahan yang terdampak.

    Menurutnya, masa awal setelah tanam menjadi periode yang cukup rentan. Jika lahan kekurangan air sejak bulan pertama, tanaman berisiko tidak tumbuh dengan baik hingga mengalami gagal panen.

    “Kalau dari awal ini di satu bulan pertama kering, kita juga berisiko gagal panen,” ujar Edi.

    Ia mencontohkan kondisi lahan di Teluk Pandan, tepatnya di kawasan depan masjid. Lahan tersebut baru ditanami melalui kegiatan tanam bersama. Namun, setelah ditanami, kondisi lahan justru mulai kering.

    “Itu kan baru tanam, kemarin tanam bersama. Habis itu sudah kering,” katanya.

    Untuk mengantisipasi dampak kekeringan, DTPHP Kutim telah menyalurkan bantuan pompa air yang berasal dari pemerintah pusat maupun daerah. Pompa tersebut diharapkan dapat membantu petani memperoleh pasokan air untuk lahan pertanian.

    Namun, persoalannya bukan hanya ketersediaan pompa. Sumber air menjadi tantangan utama dalam menghadapi kondisi kekeringan.

    DTPHP Kutim juga mencoba berkoordinasi dengan pihak lain untuk mencari langkah mitigasi. Edi berharap upaya tersebut dapat membuka kolaborasi dengan pihak swasta untuk membantu mitigasi risiko gagal panen.

    “Kalau faktor alam itu memang betapa sulitnya kita mengendalikan,” jelasnya.

    Embung juga menjadi salah satu upaya pemerintah untuk menyediakan sumber air bagi lahan pertanian. Namun, keberadaannya tetap bergantung pada kondisi alam.

    Ketika hujan tidak turun dalam waktu yang cukup lama, kemampuan embung untuk membantu memenuhi kebutuhan air di sawah ikut terbatas.

    Menurut Edi, pemerintah tetap berupaya memenuhi sarana pendukung pertanian. Namun, persoalan lain muncul ketika sumber air berada jauh dari lahan sawah sehingga membutuhkan sarana tambahan untuk mengalirkannya.

    “Artinya sawahnya ada, sumber airnya jauh, maka perlu ini lagi yang lain,” tambahnya.

    Edi mengatakan kondisi tersebut sulit dikendalikan karena sangat bergantung pada faktor alam. Hujan yang sempat turun juga belum cukup untuk mengatasi persoalan ketersediaan air.

    “Risiko gagal itu cukup tinggi. Enggak tahu sampai kapan. Kalau satu bulan ke depan saja enggak ada lagi itu berat,” ucapnya.

    (Sf/Lo)

    Seputar Kaltim

    Kemarau Mulai Ganggu Sawah di Kutim, Padi Baru Tanam Berisiko Gagal Panen

    Penulis:Lisda|Redaktur:Lodya A
    01 September 2026 pukul 14:02 WITA

    Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (DTPHP) Kutim, Purno Edi, (Foto: Lisda/seputarfakta.com)

    Sangatta - Kekeringan mulai mengganggu lahan pertanian di Kabupaten Kutai Timur (Kutim), terutama sawah yang baru ditanami padi. Kondisi ini membuat tanaman berisiko gagal panen jika pasokan air tidak segera tersedia.

    Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan (DTPHP) Kutim, Purno Edi, mengatakan pihaknya telah menerima laporan dari petani terkait kondisi tersebut. Salah satunya berasal dari kelompok tani di Bengalon. Saat ini, DTPHP masih melakukan pemetaan untuk mengetahui luasan lahan yang terdampak.

    Menurutnya, masa awal setelah tanam menjadi periode yang cukup rentan. Jika lahan kekurangan air sejak bulan pertama, tanaman berisiko tidak tumbuh dengan baik hingga mengalami gagal panen.

    “Kalau dari awal ini di satu bulan pertama kering, kita juga berisiko gagal panen,” ujar Edi.

    Ia mencontohkan kondisi lahan di Teluk Pandan, tepatnya di kawasan depan masjid. Lahan tersebut baru ditanami melalui kegiatan tanam bersama. Namun, setelah ditanami, kondisi lahan justru mulai kering.

    “Itu kan baru tanam, kemarin tanam bersama. Habis itu sudah kering,” katanya.

    Untuk mengantisipasi dampak kekeringan, DTPHP Kutim telah menyalurkan bantuan pompa air yang berasal dari pemerintah pusat maupun daerah. Pompa tersebut diharapkan dapat membantu petani memperoleh pasokan air untuk lahan pertanian.

    Namun, persoalannya bukan hanya ketersediaan pompa. Sumber air menjadi tantangan utama dalam menghadapi kondisi kekeringan.

    DTPHP Kutim juga mencoba berkoordinasi dengan pihak lain untuk mencari langkah mitigasi. Edi berharap upaya tersebut dapat membuka kolaborasi dengan pihak swasta untuk membantu mitigasi risiko gagal panen.

    “Kalau faktor alam itu memang betapa sulitnya kita mengendalikan,” jelasnya.

    Embung juga menjadi salah satu upaya pemerintah untuk menyediakan sumber air bagi lahan pertanian. Namun, keberadaannya tetap bergantung pada kondisi alam.

    Ketika hujan tidak turun dalam waktu yang cukup lama, kemampuan embung untuk membantu memenuhi kebutuhan air di sawah ikut terbatas.

    Menurut Edi, pemerintah tetap berupaya memenuhi sarana pendukung pertanian. Namun, persoalan lain muncul ketika sumber air berada jauh dari lahan sawah sehingga membutuhkan sarana tambahan untuk mengalirkannya.

    “Artinya sawahnya ada, sumber airnya jauh, maka perlu ini lagi yang lain,” tambahnya.

    Edi mengatakan kondisi tersebut sulit dikendalikan karena sangat bergantung pada faktor alam. Hujan yang sempat turun juga belum cukup untuk mengatasi persoalan ketersediaan air.

    “Risiko gagal itu cukup tinggi. Enggak tahu sampai kapan. Kalau satu bulan ke depan saja enggak ada lagi itu berat,” ucapnya.

    (Sf/Lo)