Seputar Kaltim

    Kemarau dan Karhutla Mengintai, Dinkes PPU Waspadai Lonjakan ISPA

    Penulis:Cindy|Redaktur:Lodya A
    27 Agustus 2026 pukul 20:14 WITA

    Ketua Tim Penggerak P2P Dinkes PPU, Sri Wiyani. (Foto: Cindy/seputarfakta.com)

    Penajam - Kemarau kering dan meningkatnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi perhatian Dinas Kesehatan Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) karena berpotensi memicu peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

    Hingga Juli 2026, Dinkes PPU mencatat 11.412 kasus ISPA pada berbagai kelompok usia. Rinciannya, 2.914 kasus pada balita, 1.778 kasus pada anak-anak, 1.491 kasus pada remaja, 4.484 kasus pada dewasa, dan 798 kasus pada lanjut usia.

    Ketua Tim Kerja Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2M) Dinkes PPU, Sri Wiyani, mengatakan kondisi kemarau menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai, terlebih ketika disertai paparan asap dari karhutla maupun pembakaran lainnya.

    "ISPA memang perlu diwaspadai saat kemarau, terutama ketika banyak asap. Sumbernya bisa dari karhutla, pembakaran sampah, maupun asap rokok," kata Yani, Kamis (27/8/2026).

    Kasus ISPA tercatat 2.686 kasus pada Januari, 1.753 kasus Februari, 1.458 kasus Maret, 1.801 kasus April, 1.334 kasus Mei, 1.225 kasus Juni dan 1.155 kasus pada Juli.

    Puskesmas Penajam mencatat kasus terbanyak, disusul Puskesmas Petung.

    Seiring meningkatnya kejadian karhutla, Dinkes PPU juga memperketat pemantauan laporan kasus ISPA. Pelaporan dari fasilitas kesehatan diminta dilakukan setiap hari, terutama di tengah kondisi kemarau yang minim hujan dan berpotensi menurunkan kualitas udara.

    Yani menyebut gejala ISPA yang perlu diwaspadai antara lain batuk terus-menerus, kesulitan bernapas dan demam.

    Pelayanan kesehatan juga diperkuat selama masa siaga darurat bencana hidrometeorologi. Dinkes memastikan persediaan obat-obatan dan logistik kesehatan untuk penanganan masyarakat masih dalam kondisi aman.

    Masyarakat diminta tidak melakukan pembakaran sampah maupun aktivitas yang berpotensi memicu karhutla. Pencegahan juga dilakukan dengan menjaga pola hidup bersih dan sehat serta kebersihan lingkungan.

    "Yang penting masyarakat menerapkan pola hidup bersih dan sehat, rajin mencuci tangan, serta menjaga lingkungan tetap bersih. ISPA tidak hanya disebabkan virus, tetapi juga bisa karena bakteri," jelasnya.

    (Sf/Lo)

    Seputar Kaltim

    Kemarau dan Karhutla Mengintai, Dinkes PPU Waspadai Lonjakan ISPA

    Penulis:Cindy|Redaktur:Lodya A
    27 Agustus 2026 pukul 20:14 WITA

    Ketua Tim Penggerak P2P Dinkes PPU, Sri Wiyani. (Foto: Cindy/seputarfakta.com)

    Penajam - Kemarau kering dan meningkatnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi perhatian Dinas Kesehatan Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) karena berpotensi memicu peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

    Hingga Juli 2026, Dinkes PPU mencatat 11.412 kasus ISPA pada berbagai kelompok usia. Rinciannya, 2.914 kasus pada balita, 1.778 kasus pada anak-anak, 1.491 kasus pada remaja, 4.484 kasus pada dewasa, dan 798 kasus pada lanjut usia.

    Ketua Tim Kerja Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2M) Dinkes PPU, Sri Wiyani, mengatakan kondisi kemarau menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai, terlebih ketika disertai paparan asap dari karhutla maupun pembakaran lainnya.

    "ISPA memang perlu diwaspadai saat kemarau, terutama ketika banyak asap. Sumbernya bisa dari karhutla, pembakaran sampah, maupun asap rokok," kata Yani, Kamis (27/8/2026).

    Kasus ISPA tercatat 2.686 kasus pada Januari, 1.753 kasus Februari, 1.458 kasus Maret, 1.801 kasus April, 1.334 kasus Mei, 1.225 kasus Juni dan 1.155 kasus pada Juli.

    Puskesmas Penajam mencatat kasus terbanyak, disusul Puskesmas Petung.

    Seiring meningkatnya kejadian karhutla, Dinkes PPU juga memperketat pemantauan laporan kasus ISPA. Pelaporan dari fasilitas kesehatan diminta dilakukan setiap hari, terutama di tengah kondisi kemarau yang minim hujan dan berpotensi menurunkan kualitas udara.

    Yani menyebut gejala ISPA yang perlu diwaspadai antara lain batuk terus-menerus, kesulitan bernapas dan demam.

    Pelayanan kesehatan juga diperkuat selama masa siaga darurat bencana hidrometeorologi. Dinkes memastikan persediaan obat-obatan dan logistik kesehatan untuk penanganan masyarakat masih dalam kondisi aman.

    Masyarakat diminta tidak melakukan pembakaran sampah maupun aktivitas yang berpotensi memicu karhutla. Pencegahan juga dilakukan dengan menjaga pola hidup bersih dan sehat serta kebersihan lingkungan.

    "Yang penting masyarakat menerapkan pola hidup bersih dan sehat, rajin mencuci tangan, serta menjaga lingkungan tetap bersih. ISPA tidak hanya disebabkan virus, tetapi juga bisa karena bakteri," jelasnya.

    (Sf/Lo)