Seputar Kaltim

    Keluarga Jadi Fokus Penguatan Budaya Baca, Balikpapan Perluas Akses Literasi Anak

    Penulis:Maya Sari|Redaktur:Rusdianto
    30 Juli 2026 pukul 11:18 WITA

    Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip (Dispustakar) Kota Balikpapan, Neny Dwi Winahyu saat ditemui di depan kantornya. (Foto: maya sari/seputarfakta.com)

    Balikpapan – Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan mulai mengarahkan penguatan budaya membaca dari lingkungan keluarga. Melalui Dinas Perpustakaan dan Arsip (Dispustakar), pengembangan literasi keluarga menjadi salah satu program prioritas pada 2026 sebagai upaya menanamkan kebiasaan membaca sejak usia dini.

    Kepala Dispustakar Balikpapan, Neny Dwi Winahyu menjelaskan, keluarga memiliki peran penting dalam membentuk minat baca anak.

    “Karena itu, program literasi yang dijalankan tidak hanya menyasar sekolah, tetapi juga melibatkan keluarga sebagai fondasi utama pendidikan literasi,” ucap Neny saat ditemui awak media, Kamis (30/7/2026).

    Lanjutnya, program tersebut ditujukan bagi anak berusia 0 hingga 18 tahun sesuai amanat Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak. Setiap kelompok usia akan mendapatkan pendekatan yang berbeda agar materi literasi lebih mudah diterima.

    “Untuk saat ini kami menyasar siswa sekolah dasar melalui program dongeng keliling. Selanjutnya akan dilanjutkan kepada siswa SMA melalui kegiatan literasi musik. Setiap segmen pendidikan memiliki pendekatan yang berbeda dalam memberikan edukasi literasi,” jelasnya.

    Selain memperkuat edukasi literasi, Dispustakar juga mengembangkan Program Anak Literasi Kebanggaan Balikpapan (Alibaba). Program ini dirancang untuk memperluas akses membaca bagi anak-anak,
    sekaligus mendekatkan layanan perpustakaan kepada masyarakat.

    Menurut Neny, pemerintah menghadirkan dua pilihan layanan literasi, yakni secara konvensional dan digital. 

    “Masyarakat dapat memanfaatkan berbagai fasilitas perpustakaan yang telah tersedia, mulai dari Perpustakaan Daerah, perpustakaan khusus di tujuh instansi pemerintah, perpustakaan sekolah, hingga perpustakaan yang berada di masjid,” terangnya.

    Di sisi lain, layanan digital terus diperkuat melalui aplikasi iBalikpapan dan penyediaan pojok baca digital yang akan ditempatkan di sejumlah ruang publik, seperti Taman Tiga Generasi dan Taman Bekapai.

    Kehadiran fasilitas tersebut diharapkan mampu mempermudah masyarakat mengakses bahan bacaan kapan saja dan di mana saja.

    “Jadi masyarakat memiliki dua pilihan akses literasi, yaitu secara konvensional melalui perpustakaan dan secara digital melalui layanan yang kami sediakan,” katanya.

    Neny menambahkan, arah kebijakan yang diberikan Bunda Literasi Kota Balikpapan bersama Wali Kota Balikpapan adalah meningkatkan kegemaran membaca masyarakat secara berkelanjutan.

    Sebagai kota penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN) sekaligus pintu gerbang Kaltim, Balikpapan diharapkan mampu menjadi contoh dalam pengembangan budaya literasi di daerah.

    Menurutnya, terdapat dua indikator nasional yang menjadi perhatian pemerintah daerah, yakni Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) dan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM). Meski demikian, pencapaian indikator tersebut bukan menjadi tujuan utama.

    “Melalui berbagai kegiatan ini kami ingin mengenalkan literasi kepada masyarakat sejak usia dini, sehingga budaya membaca tumbuh secara alami di lingkungan keluarga dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari,” ungkapnya.

    Dispustakar menegaskan, seluruh program yang dijalankan diarahkan untuk membangun budaya membaca yang berkelanjutan. Harapannya, kebiasaan membaca tidak hanya tumbuh di lingkungan sekolah, tetapi juga menjadi aktivitas yang mengakar dalam kehidupan keluarga dan masyarakat Balikpapan.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Keluarga Jadi Fokus Penguatan Budaya Baca, Balikpapan Perluas Akses Literasi Anak

    Penulis:Maya Sari|Redaktur:Rusdianto
    30 Juli 2026 pukul 11:18 WITA

    Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip (Dispustakar) Kota Balikpapan, Neny Dwi Winahyu saat ditemui di depan kantornya. (Foto: maya sari/seputarfakta.com)

    Balikpapan – Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan mulai mengarahkan penguatan budaya membaca dari lingkungan keluarga. Melalui Dinas Perpustakaan dan Arsip (Dispustakar), pengembangan literasi keluarga menjadi salah satu program prioritas pada 2026 sebagai upaya menanamkan kebiasaan membaca sejak usia dini.

    Kepala Dispustakar Balikpapan, Neny Dwi Winahyu menjelaskan, keluarga memiliki peran penting dalam membentuk minat baca anak.

    “Karena itu, program literasi yang dijalankan tidak hanya menyasar sekolah, tetapi juga melibatkan keluarga sebagai fondasi utama pendidikan literasi,” ucap Neny saat ditemui awak media, Kamis (30/7/2026).

    Lanjutnya, program tersebut ditujukan bagi anak berusia 0 hingga 18 tahun sesuai amanat Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak. Setiap kelompok usia akan mendapatkan pendekatan yang berbeda agar materi literasi lebih mudah diterima.

    “Untuk saat ini kami menyasar siswa sekolah dasar melalui program dongeng keliling. Selanjutnya akan dilanjutkan kepada siswa SMA melalui kegiatan literasi musik. Setiap segmen pendidikan memiliki pendekatan yang berbeda dalam memberikan edukasi literasi,” jelasnya.

    Selain memperkuat edukasi literasi, Dispustakar juga mengembangkan Program Anak Literasi Kebanggaan Balikpapan (Alibaba). Program ini dirancang untuk memperluas akses membaca bagi anak-anak,
    sekaligus mendekatkan layanan perpustakaan kepada masyarakat.

    Menurut Neny, pemerintah menghadirkan dua pilihan layanan literasi, yakni secara konvensional dan digital. 

    “Masyarakat dapat memanfaatkan berbagai fasilitas perpustakaan yang telah tersedia, mulai dari Perpustakaan Daerah, perpustakaan khusus di tujuh instansi pemerintah, perpustakaan sekolah, hingga perpustakaan yang berada di masjid,” terangnya.

    Di sisi lain, layanan digital terus diperkuat melalui aplikasi iBalikpapan dan penyediaan pojok baca digital yang akan ditempatkan di sejumlah ruang publik, seperti Taman Tiga Generasi dan Taman Bekapai.

    Kehadiran fasilitas tersebut diharapkan mampu mempermudah masyarakat mengakses bahan bacaan kapan saja dan di mana saja.

    “Jadi masyarakat memiliki dua pilihan akses literasi, yaitu secara konvensional melalui perpustakaan dan secara digital melalui layanan yang kami sediakan,” katanya.

    Neny menambahkan, arah kebijakan yang diberikan Bunda Literasi Kota Balikpapan bersama Wali Kota Balikpapan adalah meningkatkan kegemaran membaca masyarakat secara berkelanjutan.

    Sebagai kota penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN) sekaligus pintu gerbang Kaltim, Balikpapan diharapkan mampu menjadi contoh dalam pengembangan budaya literasi di daerah.

    Menurutnya, terdapat dua indikator nasional yang menjadi perhatian pemerintah daerah, yakni Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) dan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM). Meski demikian, pencapaian indikator tersebut bukan menjadi tujuan utama.

    “Melalui berbagai kegiatan ini kami ingin mengenalkan literasi kepada masyarakat sejak usia dini, sehingga budaya membaca tumbuh secara alami di lingkungan keluarga dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari,” ungkapnya.

    Dispustakar menegaskan, seluruh program yang dijalankan diarahkan untuk membangun budaya membaca yang berkelanjutan. Harapannya, kebiasaan membaca tidak hanya tumbuh di lingkungan sekolah, tetapi juga menjadi aktivitas yang mengakar dalam kehidupan keluarga dan masyarakat Balikpapan.

    (Sf/Rs)