Cari disini...
Seputar Kaltim
Peringatan seribu lilin dua bulan kematian Bertha Mimi Jama oleh keluarga korban dan bersama warga Toraja. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)
Samarinda - Dua bulan telah berlalu sejak Bertha Mimi Jama, wanita berusia 56 tahun, ditemukan tak bernyawa di sebuah gudang apotek di Jalan Pangeran Hidayatullah, Samarinda. Kejadian yang terjadi pada 18 Februari 2024 itu masih menyisakan tanda tanya besar bagi keluarga dan Kerukunan Warga Suku Toraja. Mereka menuntut kejelasan atas penyebab kematian Bertha yang hingga kini belum terungkap.
Pada Kamis malam, 18 April 2024, keluarga almarhumah bersama warga Toraja menggelar aksi damai dengan menyalakan seribu lilin di depan apotek tempat Bertha ditemukan.
Mewakili pihak keluarga, Alfrida menyampaikan bahwa aksi seribu lilin tersebut merupakan bentuk penghormatan dan tuntutan akan keadilan. "Kami ingin kasus ini terang benderang seperti lilin yang kami nyalakan. Kami berharap kepolisian segera memberikan informasi terbaru tentang perkembangan kasus ini," ujar Alfrida.
Keluarga Bertha mendesak agar kasus ini ditingkatkan menjadi penyidikan, mengingat telah berlalu cukup lama tanpa ada perkembangan yang signifikan. "Kami telah bersabar, namun saat hearing dengan DPRD Kaltim pada 28 Maret lalu, Kapolresta menyatakan kesiapannya untuk melanjutkan kasus ini, namun hingga kini kami masih menunggu kejelasan," tambahnya.
Beberapa kejanggalan yang ditemukan keluarga menambah kuat tuntutan mereka. "Berdasarkan rekonstruksi, almarhumah seharusnya berjalan kaki ke apotek setelah menerima resi obat dari RSJD pukul 11.44 WITA. Namun, catatan waktu di Kimia Farma menunjukkan pukul 11.06 WITA, yang tidak sinkron dengan durasi perjalanan yang seharusnya memakan waktu 17 menit," papar Alfrida.
Keluarga juga mempertanyakan hasil autopsi yang menyatakan Bertha meninggal karena lemas, sementara Kapolresta menyebut akan mengkonfirmasi ulang hasil tersebut. "Ada apa dengan hasil autopsi? Selama 14 hari di gudang apotek, apa yang terjadi pada almarhumah?" tanya Alfrida.
Dokter yang menangani Bertha sebelumnya menyatakan kondisinya telah pulih dan stabil. "Kakak kami sudah baik dan stabil, dia tahu jalan pulang," kata Alfrida, menegaskan bahwa tidak ada indikasi kambuhnya penyakit.
Keluarga Bertha kini menunggu hasil gelar perkara dari kepolisian yang dijanjikan sepekan ke depan. "Jika tidak ada perkembangan, kami akan kembali melakukan aksi," tegas Alfrida.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Peringatan seribu lilin dua bulan kematian Bertha Mimi Jama oleh keluarga korban dan bersama warga Toraja. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)
Samarinda - Dua bulan telah berlalu sejak Bertha Mimi Jama, wanita berusia 56 tahun, ditemukan tak bernyawa di sebuah gudang apotek di Jalan Pangeran Hidayatullah, Samarinda. Kejadian yang terjadi pada 18 Februari 2024 itu masih menyisakan tanda tanya besar bagi keluarga dan Kerukunan Warga Suku Toraja. Mereka menuntut kejelasan atas penyebab kematian Bertha yang hingga kini belum terungkap.
Pada Kamis malam, 18 April 2024, keluarga almarhumah bersama warga Toraja menggelar aksi damai dengan menyalakan seribu lilin di depan apotek tempat Bertha ditemukan.
Mewakili pihak keluarga, Alfrida menyampaikan bahwa aksi seribu lilin tersebut merupakan bentuk penghormatan dan tuntutan akan keadilan. "Kami ingin kasus ini terang benderang seperti lilin yang kami nyalakan. Kami berharap kepolisian segera memberikan informasi terbaru tentang perkembangan kasus ini," ujar Alfrida.
Keluarga Bertha mendesak agar kasus ini ditingkatkan menjadi penyidikan, mengingat telah berlalu cukup lama tanpa ada perkembangan yang signifikan. "Kami telah bersabar, namun saat hearing dengan DPRD Kaltim pada 28 Maret lalu, Kapolresta menyatakan kesiapannya untuk melanjutkan kasus ini, namun hingga kini kami masih menunggu kejelasan," tambahnya.
Beberapa kejanggalan yang ditemukan keluarga menambah kuat tuntutan mereka. "Berdasarkan rekonstruksi, almarhumah seharusnya berjalan kaki ke apotek setelah menerima resi obat dari RSJD pukul 11.44 WITA. Namun, catatan waktu di Kimia Farma menunjukkan pukul 11.06 WITA, yang tidak sinkron dengan durasi perjalanan yang seharusnya memakan waktu 17 menit," papar Alfrida.
Keluarga juga mempertanyakan hasil autopsi yang menyatakan Bertha meninggal karena lemas, sementara Kapolresta menyebut akan mengkonfirmasi ulang hasil tersebut. "Ada apa dengan hasil autopsi? Selama 14 hari di gudang apotek, apa yang terjadi pada almarhumah?" tanya Alfrida.
Dokter yang menangani Bertha sebelumnya menyatakan kondisinya telah pulih dan stabil. "Kakak kami sudah baik dan stabil, dia tahu jalan pulang," kata Alfrida, menegaskan bahwa tidak ada indikasi kambuhnya penyakit.
Keluarga Bertha kini menunggu hasil gelar perkara dari kepolisian yang dijanjikan sepekan ke depan. "Jika tidak ada perkembangan, kami akan kembali melakukan aksi," tegas Alfrida.
(Sf/Rs)