Cari disini...
Seputar Kaltim
Sekda Berau, M. Said. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)
Tanjung Redeb - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau menaruh perhatian serius terhadap eksistensi bahasa daerah, khususnya Bahasa Banua (Berau), yang kondisinya saat ini dinilai mulai memprihatinkan. Berdasarkan data terbaru, jumlah penutur aktif bahasa Banua tercatat hanya sekitar 11.200 jiwa atau sekitar tiga hingga empat persen, jika dibandingkan dengan total penduduk Kabupaten Berau yang mencapai kurang lebih 300.000 jiwa.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Berau, M. Said, menyampaikan kekhawatirannya terhadap fenomena ini. Menurutnya minimnya jumlah penutur saat ini didominasi oleh faktor usia, di mana bahasa Banua mayoritas hanya dipahami dan dituturkan oleh generasi tua.
"Kita khawatir dengan semakin sedikitnya penutur bahasa lokal ini, lambat laun akan semakin punah. Fenomena hari ini menunjukkan banyak siswa baru, yang bahkan orang tuanya lahir di Berau, justru sudah tidak lagi memahami bahasa Banua," ungkap Sekda.
Menyikapi ancaman kepunahan tersebut, Pemkab Berau menyambut baik langkah Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Berau dalam upaya melestarikan Bahasa Banua, berupa formalisasi pengajaran Bahasa Banua di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP). Momentum ini diharapkan menjadi titik balik dalam mencetak generasi muda yang bangga dan mampu berbahasa daerah.
"Melalui penerapan kurikulum formal ini, minimal para anak didik dapat mengenal dan memahami lah kosakata bahasa Banua sejak dini," jelasnya
Said pun menambahkan bahwa Kabupaten Berau patut bersyukur karena di tengah gempuran modernisasi dan heterogenitas budaya, Berau masih memiliki identitas bahasa lokal yang kuat dibandingkan beberapa kota lain yang mulai kehilangan bahasa daerahnya.
"Kita bersyukur di Kabupaten Berau ini masih ada bahasa lokal, Bahasa Banua, yang terjaga. Namun, tugas kita sekarang adalah memperbanyak penuturnya dan melestarikannya agar tidak hilang ditelan zaman. Mudah-mudahan dengan masuknya bahasa Banua ke level SMP, penutur bahasa ini akan semakin masif," pungkasnya.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Sekda Berau, M. Said. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)
Tanjung Redeb - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau menaruh perhatian serius terhadap eksistensi bahasa daerah, khususnya Bahasa Banua (Berau), yang kondisinya saat ini dinilai mulai memprihatinkan. Berdasarkan data terbaru, jumlah penutur aktif bahasa Banua tercatat hanya sekitar 11.200 jiwa atau sekitar tiga hingga empat persen, jika dibandingkan dengan total penduduk Kabupaten Berau yang mencapai kurang lebih 300.000 jiwa.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Berau, M. Said, menyampaikan kekhawatirannya terhadap fenomena ini. Menurutnya minimnya jumlah penutur saat ini didominasi oleh faktor usia, di mana bahasa Banua mayoritas hanya dipahami dan dituturkan oleh generasi tua.
"Kita khawatir dengan semakin sedikitnya penutur bahasa lokal ini, lambat laun akan semakin punah. Fenomena hari ini menunjukkan banyak siswa baru, yang bahkan orang tuanya lahir di Berau, justru sudah tidak lagi memahami bahasa Banua," ungkap Sekda.
Menyikapi ancaman kepunahan tersebut, Pemkab Berau menyambut baik langkah Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Berau dalam upaya melestarikan Bahasa Banua, berupa formalisasi pengajaran Bahasa Banua di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP). Momentum ini diharapkan menjadi titik balik dalam mencetak generasi muda yang bangga dan mampu berbahasa daerah.
"Melalui penerapan kurikulum formal ini, minimal para anak didik dapat mengenal dan memahami lah kosakata bahasa Banua sejak dini," jelasnya
Said pun menambahkan bahwa Kabupaten Berau patut bersyukur karena di tengah gempuran modernisasi dan heterogenitas budaya, Berau masih memiliki identitas bahasa lokal yang kuat dibandingkan beberapa kota lain yang mulai kehilangan bahasa daerahnya.
"Kita bersyukur di Kabupaten Berau ini masih ada bahasa lokal, Bahasa Banua, yang terjaga. Namun, tugas kita sekarang adalah memperbanyak penuturnya dan melestarikannya agar tidak hilang ditelan zaman. Mudah-mudahan dengan masuknya bahasa Banua ke level SMP, penutur bahasa ini akan semakin masif," pungkasnya.
(Sf/Rs)