Cari disini...
Seputar Kaltim
Direktur Operasional Perumda Tirta Manuntung Balikpapan (PTMB), Ali Rachman saat menyampaikan pengelolaan air. (Foto: maya sari/seputarfakta.com)
Balikpapan – Kondisi kekeringan yang berlangsung hampir dua bulan mulai berdampak terhadap pelayanan air bersih di sejumlah wilayah Kota Balikpapan. Perumda Tirta Manuntung Balikpapan (PTMB) mencatat dua Instalasi Pengolahan Air (IPA) mengalami gangguan akibat menurunnya ketersediaan air baku.
Direktur Operasional PTMB, Ali Rachman menjelaskan, dari sembilan IPA yang dimiliki, gangguan saat ini terjadi di IPA Teritip dan IPA Kilometer 12.
Di IPA Teritip, kapasitas produksi yang biasanya berada di kisaran 200 hingga 220 liter per detik kini turun hingga 110 liter per detik. Sementara di IPA Kilometer 12 yang biasanya mampu menghasilkan sekitar 80 hingga 100 liter per detik saat ini belum dapat beroperasi secara normal.
“Untuk yang di Kilometer 12 sekarang mati total dan kemungkinan hanya bisa beroperasi di sore atau malam hari,” jelas Ali kepada
media, Selasa (8/9/2026).
Kondisi tersebut membuat pelayanan kepada pelanggan di wilayah yang bergantung pada kedua IPA tersebut belum dapat dilakukan selama 24 jam seperti biasanya.
Menurut Ali, pelanggan tetap akan mendapatkan pasokan air, namun durasi alirannya diperkirakan berada di bawah 12 jam per hari. PTMB meminta masyarakat memahami kondisi tersebut, karena keterbatasan air baku yang terjadi akibat kemarau berkepanjangan.
“Untuk masyarakat layanan tersebut tetap akan mendapatkan air, cuma belum secara optimal seperti biasanya,” ujarnya.
Sementara itu, operasional IPA lainnya masih berjalan seperti biasa. Gangguan kecil yang muncul, seperti kebocoran pada jaringan, akan segera ditangani oleh petugas PTMB.
“Untuk menjaga kebutuhan air masyarakat selama kondisi kekeringan, PTMB juga memperkuat pendistribusian air melalui jaringan non perpipaan menggunakan truk tangki,” lanjutnya.
Ali menyebutkan, sebanyak 17 unit truk tangki disiapkan setiap hari dan didistribusikan ke tiga titik pelayanan. Langkah tersebut menjadi salah satu upaya mitigasi jangka pendek yang dilakukan PTMB selama kondisi kemarau masih berlangsung.
Namun, tingginya permintaan air tangki membuat sebagian masyarakat harus menunggu giliran. Kata dia, kondisi tersebut terjadi karena hampir dua bulan tidak turun hujan, sehingga ketergantungan masyarakat terhadap pasokan air tangki meningkat.
“Kalau ada keluhan sudah menelpon belum dilayani, memang karena permintaannya cukup tinggi mengingat hampir dua bulan ini tidak ada hujan. Jadi masyarakat sangat bergantung sekali dengan air tangki,” akunya.
Dalam sehari, satu unit truk tangki dapat melakukan hingga lima kali pengantaran. Jumlah pengiriman tersebut sangat bergantung pada jarak dan kondisi akses menuju lokasi pelanggan.
“Setiap truk tangki memiliki kapasitas 5.000 liter atau lima meter kubik air,” imbuhnya.
Untuk pelanggan PTMB, distribusi air menggunakan truk tangki juga mendapatkan subsidi. Berdasarkan Peraturan Wali Kota (Perwali) tahun 2014, tarif yang dikenakan kepada pelanggan sebesar Rp50.000 untuk satu tangki.
Sementara biaya transportasi yang dikeluarkan PTMB mencapai sekitar Rp250.000 per tangki. Dengan demikian, terdapat subsidi sekitar Rp200.000 yang diberikan PTMB untuk setiap pengiriman kepada pelanggan.
Disampaikan, kebijakan tersebut merupakan bentuk tanggung jawab perusahaan dalam memastikan pelanggan tetap mendapatkan akses air bersih di tengah kondisi kekeringan.
“Ini sebagai tanggung jawab PTMB bisa memberikan air kepada masyarakat Kota Balikpapan yang statusnya sebagai pelanggan,” katanya.
Sementara untuk masyarakat yang bukan pelanggan PTMB, tarif distribusi air tangki berbeda. Di sisi lain, hujan yang mulai turun di Balikpapan belum dapat menjadi indikator bahwa kondisi kemarau telah berakhir.
Berdasarkan informasi mengenai perkembangan cuaca secara lebih detail merupakan kewenangan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). PTMB sendiri lebih fokus memantau kondisi ketersediaan air baku di waduk yang menjadi sumber air baku untuk pengolahan.
“Kalau terkait cuaca seharusnya BMKG yang punya kewenangan lebih detail menjawab. Kalau kami kan hanya tahunya ada air di waduk,” ujarnya.
PTMB juga masih memantau kondisi hujan di sejumlah wilayah sumber air baku, termasuk kawasan Waduk Manggar dan Teritip di Balikpapan Timur.
Berdasarkan hasil rapat terakhir bersama BMKG pada Jumat, kondisi kemarau diperkirakan masih berlangsung hingga September dan Oktober.
“Karena itu, PTMB tetap menjalankan langkah mitigasi, termasuk mengoptimalkan distribusi air menggunakan truk tangki,” pungkasnya.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Direktur Operasional Perumda Tirta Manuntung Balikpapan (PTMB), Ali Rachman saat menyampaikan pengelolaan air. (Foto: maya sari/seputarfakta.com)
Balikpapan – Kondisi kekeringan yang berlangsung hampir dua bulan mulai berdampak terhadap pelayanan air bersih di sejumlah wilayah Kota Balikpapan. Perumda Tirta Manuntung Balikpapan (PTMB) mencatat dua Instalasi Pengolahan Air (IPA) mengalami gangguan akibat menurunnya ketersediaan air baku.
Direktur Operasional PTMB, Ali Rachman menjelaskan, dari sembilan IPA yang dimiliki, gangguan saat ini terjadi di IPA Teritip dan IPA Kilometer 12.
Di IPA Teritip, kapasitas produksi yang biasanya berada di kisaran 200 hingga 220 liter per detik kini turun hingga 110 liter per detik. Sementara di IPA Kilometer 12 yang biasanya mampu menghasilkan sekitar 80 hingga 100 liter per detik saat ini belum dapat beroperasi secara normal.
“Untuk yang di Kilometer 12 sekarang mati total dan kemungkinan hanya bisa beroperasi di sore atau malam hari,” jelas Ali kepada
media, Selasa (8/9/2026).
Kondisi tersebut membuat pelayanan kepada pelanggan di wilayah yang bergantung pada kedua IPA tersebut belum dapat dilakukan selama 24 jam seperti biasanya.
Menurut Ali, pelanggan tetap akan mendapatkan pasokan air, namun durasi alirannya diperkirakan berada di bawah 12 jam per hari. PTMB meminta masyarakat memahami kondisi tersebut, karena keterbatasan air baku yang terjadi akibat kemarau berkepanjangan.
“Untuk masyarakat layanan tersebut tetap akan mendapatkan air, cuma belum secara optimal seperti biasanya,” ujarnya.
Sementara itu, operasional IPA lainnya masih berjalan seperti biasa. Gangguan kecil yang muncul, seperti kebocoran pada jaringan, akan segera ditangani oleh petugas PTMB.
“Untuk menjaga kebutuhan air masyarakat selama kondisi kekeringan, PTMB juga memperkuat pendistribusian air melalui jaringan non perpipaan menggunakan truk tangki,” lanjutnya.
Ali menyebutkan, sebanyak 17 unit truk tangki disiapkan setiap hari dan didistribusikan ke tiga titik pelayanan. Langkah tersebut menjadi salah satu upaya mitigasi jangka pendek yang dilakukan PTMB selama kondisi kemarau masih berlangsung.
Namun, tingginya permintaan air tangki membuat sebagian masyarakat harus menunggu giliran. Kata dia, kondisi tersebut terjadi karena hampir dua bulan tidak turun hujan, sehingga ketergantungan masyarakat terhadap pasokan air tangki meningkat.
“Kalau ada keluhan sudah menelpon belum dilayani, memang karena permintaannya cukup tinggi mengingat hampir dua bulan ini tidak ada hujan. Jadi masyarakat sangat bergantung sekali dengan air tangki,” akunya.
Dalam sehari, satu unit truk tangki dapat melakukan hingga lima kali pengantaran. Jumlah pengiriman tersebut sangat bergantung pada jarak dan kondisi akses menuju lokasi pelanggan.
“Setiap truk tangki memiliki kapasitas 5.000 liter atau lima meter kubik air,” imbuhnya.
Untuk pelanggan PTMB, distribusi air menggunakan truk tangki juga mendapatkan subsidi. Berdasarkan Peraturan Wali Kota (Perwali) tahun 2014, tarif yang dikenakan kepada pelanggan sebesar Rp50.000 untuk satu tangki.
Sementara biaya transportasi yang dikeluarkan PTMB mencapai sekitar Rp250.000 per tangki. Dengan demikian, terdapat subsidi sekitar Rp200.000 yang diberikan PTMB untuk setiap pengiriman kepada pelanggan.
Disampaikan, kebijakan tersebut merupakan bentuk tanggung jawab perusahaan dalam memastikan pelanggan tetap mendapatkan akses air bersih di tengah kondisi kekeringan.
“Ini sebagai tanggung jawab PTMB bisa memberikan air kepada masyarakat Kota Balikpapan yang statusnya sebagai pelanggan,” katanya.
Sementara untuk masyarakat yang bukan pelanggan PTMB, tarif distribusi air tangki berbeda. Di sisi lain, hujan yang mulai turun di Balikpapan belum dapat menjadi indikator bahwa kondisi kemarau telah berakhir.
Berdasarkan informasi mengenai perkembangan cuaca secara lebih detail merupakan kewenangan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). PTMB sendiri lebih fokus memantau kondisi ketersediaan air baku di waduk yang menjadi sumber air baku untuk pengolahan.
“Kalau terkait cuaca seharusnya BMKG yang punya kewenangan lebih detail menjawab. Kalau kami kan hanya tahunya ada air di waduk,” ujarnya.
PTMB juga masih memantau kondisi hujan di sejumlah wilayah sumber air baku, termasuk kawasan Waduk Manggar dan Teritip di Balikpapan Timur.
Berdasarkan hasil rapat terakhir bersama BMKG pada Jumat, kondisi kemarau diperkirakan masih berlangsung hingga September dan Oktober.
“Karena itu, PTMB tetap menjalankan langkah mitigasi, termasuk mengoptimalkan distribusi air menggunakan truk tangki,” pungkasnya.
(Sf/Rs)