Cari disini...
Seputar Kaltim
Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Distan PPU, Gunawan. (Foto: Cindy/seputarfakta.com)
Penajam - Penerapan Pertanian Modern-Advance Agriculture System (PM-AAS) di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) baru berjalan di 6 hektare lahan Desa Sesulu. Padahal, target alokasi tahap Oktober mencapai 893 hektare.
Kondisi lahan yang minim air menjadi hambatan utama Dinas Pertanian (Distan) PPU mengejar target tersebut. Sebagian besar lahan pertanian PPU masih mengandalkan air hujan, sementara jaringan daerah irigasi yang bisa dialirkan baru mencakup sekitar 352 hektare.
Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Distan PPU, Gunawan, mengatakan petani tetap didorong menyiapkan lahan sembari menunggu ketersediaan air.
"Target Oktober kita 893 hektare, sementara yang sudah berjalan baru 6 hektare. Kendalanya memang air, karena sebagian besar lahan kita masih bergantung pada hujan," kata Gunawan, Kamis (8/10/2026).
Distan PPU masih optimistis seluruh alokasi PM-AAS dapat terealisasi jika curah hujan mulai mendukung. Target keseluruhan program di PPU mencapai 3.546 hektare.
"Kuncinya memang hujan. Kalau Oktober belum bisa mengejar, kita masih punya November dan Desember. Selama air tersedia, kita yakin alokasi 3.546 hektare bisa tercapai," ujarnya.
PM-AAS membawa paket bantuan sarana produksi untuk kelompok tani, mulai benih, pupuk urea, NPK, pupuk organik hingga dolomit.
Khusus benih, alokasinya mencapai 70 kilogram per hektare, lebih tinggi dibanding kebutuhan yang selama ini digunakan petani PPU sekitar 25-40 kilogram per hektare.
Gunawan menjelaskan peningkatan kebutuhan benih tersebut berkaitan dengan target peningkatan populasi tanaman. Dengan populasi lebih padat, produksi padi diharapkan ikut terdongkrak.
"Selama ini rata-rata penggunaan benih kita 25 sampai 40 kilogram per hektare. Melalui program ini menjadi 70 kilogram. Harapannya populasi tanaman lebih tinggi dan produksi ikut naik," jelasnya.
Distan mematok target produksi yang lebih realistis dari sasaran nasional. Jika Kementerian Pertanian menargetkan produksi hingga 10 ton per hektare, PPU setidaknya berharap produktivitas naik dari rata-rata saat ini sekitar 3,5 ton per hektare menjadi 5 ton per hektare.
"Target Kementan 10 ton per hektare, kita minimal berharap bisa 5 ton. Dari rata-rata PPU yang sekarang sekitar 3,5 ton, kenaikan itu sudah cukup signifikan," kata dia.
Di lapangan, sebagian petani mulai menggarap lahan meski kondisi masih kering. Aktivitas tersebut terlihat di sebagian wilayah Sidorejo dan Rawa Mulia.
Pola petani berbeda-beda. Ada yang memilih menunggu air menggenang sebelum mengolah sawah, sementara sebagian lainnya sudah membajak lahan lebih dulu.
"Ada petani yang memilih menunggu air cukup baru mengolah sawah. Ada juga yang tetap mengerjakan saat kondisi kering dan sebagian lahannya sudah dibajak. Jadi tergantung kondisi lahan dan keputusan masing-masing petani," tutup Gunawan.
(Sf/Lo)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Distan PPU, Gunawan. (Foto: Cindy/seputarfakta.com)
Penajam - Penerapan Pertanian Modern-Advance Agriculture System (PM-AAS) di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) baru berjalan di 6 hektare lahan Desa Sesulu. Padahal, target alokasi tahap Oktober mencapai 893 hektare.
Kondisi lahan yang minim air menjadi hambatan utama Dinas Pertanian (Distan) PPU mengejar target tersebut. Sebagian besar lahan pertanian PPU masih mengandalkan air hujan, sementara jaringan daerah irigasi yang bisa dialirkan baru mencakup sekitar 352 hektare.
Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Distan PPU, Gunawan, mengatakan petani tetap didorong menyiapkan lahan sembari menunggu ketersediaan air.
"Target Oktober kita 893 hektare, sementara yang sudah berjalan baru 6 hektare. Kendalanya memang air, karena sebagian besar lahan kita masih bergantung pada hujan," kata Gunawan, Kamis (8/10/2026).
Distan PPU masih optimistis seluruh alokasi PM-AAS dapat terealisasi jika curah hujan mulai mendukung. Target keseluruhan program di PPU mencapai 3.546 hektare.
"Kuncinya memang hujan. Kalau Oktober belum bisa mengejar, kita masih punya November dan Desember. Selama air tersedia, kita yakin alokasi 3.546 hektare bisa tercapai," ujarnya.
PM-AAS membawa paket bantuan sarana produksi untuk kelompok tani, mulai benih, pupuk urea, NPK, pupuk organik hingga dolomit.
Khusus benih, alokasinya mencapai 70 kilogram per hektare, lebih tinggi dibanding kebutuhan yang selama ini digunakan petani PPU sekitar 25-40 kilogram per hektare.
Gunawan menjelaskan peningkatan kebutuhan benih tersebut berkaitan dengan target peningkatan populasi tanaman. Dengan populasi lebih padat, produksi padi diharapkan ikut terdongkrak.
"Selama ini rata-rata penggunaan benih kita 25 sampai 40 kilogram per hektare. Melalui program ini menjadi 70 kilogram. Harapannya populasi tanaman lebih tinggi dan produksi ikut naik," jelasnya.
Distan mematok target produksi yang lebih realistis dari sasaran nasional. Jika Kementerian Pertanian menargetkan produksi hingga 10 ton per hektare, PPU setidaknya berharap produktivitas naik dari rata-rata saat ini sekitar 3,5 ton per hektare menjadi 5 ton per hektare.
"Target Kementan 10 ton per hektare, kita minimal berharap bisa 5 ton. Dari rata-rata PPU yang sekarang sekitar 3,5 ton, kenaikan itu sudah cukup signifikan," kata dia.
Di lapangan, sebagian petani mulai menggarap lahan meski kondisi masih kering. Aktivitas tersebut terlihat di sebagian wilayah Sidorejo dan Rawa Mulia.
Pola petani berbeda-beda. Ada yang memilih menunggu air menggenang sebelum mengolah sawah, sementara sebagian lainnya sudah membajak lahan lebih dulu.
"Ada petani yang memilih menunggu air cukup baru mengolah sawah. Ada juga yang tetap mengerjakan saat kondisi kering dan sebagian lahannya sudah dibajak. Jadi tergantung kondisi lahan dan keputusan masing-masing petani," tutup Gunawan.
(Sf/Lo)