Seputar Kaltim

    Kejar Respons 15 Menit, DPKP PPU Ingin Tambahan Posko di Babulu

    Penulis:Cindy|Redaktur:Rusdianto
    07 Oktober 2026 pukul 12:23 WITA

    Kepala Disdamkartan PPU, Fernando Simanjuntak. (Foto: Cindy/seputarfakta.com)

    Penajam - Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) menyiapkan penambahan posko pemadam kebakaran di Kecamatan Babulu. Luas wilayah dan sebaran 12 desa membuat satu posko dinilai belum cukup untuk mengejar target waktu respons maksimal 15 menit menuju lokasi kejadian.

    Kepala DPKP PPU, Fernando Simanjuntak, mengatakan idealnya Babulu memiliki tiga posko dengan pembagian cakupan sekitar empat desa untuk setiap posko.

    "Babulu itu ada 12 desa. Idealnya tiga posko, sehingga satu posko bisa meng-cover sekitar empat desa dengan radius kurang lebih tujuh kilometer," kata Fernando, Rabu (7/10/2026). 

    Saat ini DPKP PPU memiliki delapan posko. Satu posko berada di Babulu, satu di Waru, satu di Sepaku, sedangkan lima lainnya tersebar di wilayah Kecamatan Penajam, yakni Petung, Sotek dan Jenebora.

    Penambahan posko di Babulu dinilai penting untuk mempercepat jangkauan pelayanan, terutama ketika kejadian kebakaran terjadi bersamaan di wilayah yang berbeda.

    Fernando menyebut intensitas kejadian juga menjadi pertimbangan. Dalam sehari, laporan kejadian bisa mencapai lima hingga tujuh kasus dan tersebar di sejumlah kecamatan.

    "Intensitas kejadian dalam sehari bisa lima bahkan tujuh kejadian. Itu tersebar di semua kecamatan," ujar dia 

    DPKP telah memetakan sejumlah titik yang dinilai strategis untuk pembangunan posko tambahan. 

    Salah satunya kawasan yang dapat menjangkau Gunung Intan dengan cakupan sekitar tujuh kilometer.

    Pihaknya juga telah berkomunikasi dengan pemerintah desa terkait kebutuhan lahan. Akan tetapi, rencana tersebut belum bisa direalisasikan cepat karena lahan untuk posko tidak dapat langsung dihibahkan oleh desa sehingga pemerintah daerah perlu menyiapkan skema pengadaan lahan.

    "Kami sudah mendatangi kepala desa. Tadinya saya pikir desa bisa menghibahkan lahan, ternyata tidak bisa. Mau tidak mau harus membeli," jelasnya.

    Selain bangunan dan lahan, kebutuhan armada serta personel juga menjadi bagian dari perencanaan. Fernando menyebut satu posko idealnya memiliki tiga armada dengan sedikitnya delapan personel.

    Komposisi itu diperlukan agar sebagian petugas tetap berjaga di posko ketika personel lainnya dikerahkan ke lokasi kejadian.

    "Kita punya personel paling minim delapan orang. Saat ada kejadian dua orang tetap berjaga di kantor dan sisanya ke lapangan," katanya.

    DPKP menargetkan penambahan posko dapat direalisasikan secepatnya agar cakupan pelayanan di Babulu lebih merata dan waktu respons terhadap laporan kebakaran dapat ditekan.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Kejar Respons 15 Menit, DPKP PPU Ingin Tambahan Posko di Babulu

    Penulis:Cindy|Redaktur:Rusdianto
    07 Oktober 2026 pukul 12:23 WITA

    Kepala Disdamkartan PPU, Fernando Simanjuntak. (Foto: Cindy/seputarfakta.com)

    Penajam - Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) menyiapkan penambahan posko pemadam kebakaran di Kecamatan Babulu. Luas wilayah dan sebaran 12 desa membuat satu posko dinilai belum cukup untuk mengejar target waktu respons maksimal 15 menit menuju lokasi kejadian.

    Kepala DPKP PPU, Fernando Simanjuntak, mengatakan idealnya Babulu memiliki tiga posko dengan pembagian cakupan sekitar empat desa untuk setiap posko.

    "Babulu itu ada 12 desa. Idealnya tiga posko, sehingga satu posko bisa meng-cover sekitar empat desa dengan radius kurang lebih tujuh kilometer," kata Fernando, Rabu (7/10/2026). 

    Saat ini DPKP PPU memiliki delapan posko. Satu posko berada di Babulu, satu di Waru, satu di Sepaku, sedangkan lima lainnya tersebar di wilayah Kecamatan Penajam, yakni Petung, Sotek dan Jenebora.

    Penambahan posko di Babulu dinilai penting untuk mempercepat jangkauan pelayanan, terutama ketika kejadian kebakaran terjadi bersamaan di wilayah yang berbeda.

    Fernando menyebut intensitas kejadian juga menjadi pertimbangan. Dalam sehari, laporan kejadian bisa mencapai lima hingga tujuh kasus dan tersebar di sejumlah kecamatan.

    "Intensitas kejadian dalam sehari bisa lima bahkan tujuh kejadian. Itu tersebar di semua kecamatan," ujar dia 

    DPKP telah memetakan sejumlah titik yang dinilai strategis untuk pembangunan posko tambahan. 

    Salah satunya kawasan yang dapat menjangkau Gunung Intan dengan cakupan sekitar tujuh kilometer.

    Pihaknya juga telah berkomunikasi dengan pemerintah desa terkait kebutuhan lahan. Akan tetapi, rencana tersebut belum bisa direalisasikan cepat karena lahan untuk posko tidak dapat langsung dihibahkan oleh desa sehingga pemerintah daerah perlu menyiapkan skema pengadaan lahan.

    "Kami sudah mendatangi kepala desa. Tadinya saya pikir desa bisa menghibahkan lahan, ternyata tidak bisa. Mau tidak mau harus membeli," jelasnya.

    Selain bangunan dan lahan, kebutuhan armada serta personel juga menjadi bagian dari perencanaan. Fernando menyebut satu posko idealnya memiliki tiga armada dengan sedikitnya delapan personel.

    Komposisi itu diperlukan agar sebagian petugas tetap berjaga di posko ketika personel lainnya dikerahkan ke lokasi kejadian.

    "Kita punya personel paling minim delapan orang. Saat ada kejadian dua orang tetap berjaga di kantor dan sisanya ke lapangan," katanya.

    DPKP menargetkan penambahan posko dapat direalisasikan secepatnya agar cakupan pelayanan di Babulu lebih merata dan waktu respons terhadap laporan kebakaran dapat ditekan.

    (Sf/Rs)