Cari disini...
Seputar Kaltim
Terasi udang papai.(Foto:Agus Saputra/Seputarfakta.com)
Penajam - Pembangunan proyek strategis nasional, yaitu Ibu Kota Nusantara (IKN) di wilayah administrasi Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), mulai mengancam mata pencaharian masyarakat setempat.
Salah satunya adalah proyek jembatan Pulau Balang yang menghubungkan antara Kabupaten PPU dengan Kota Balikpapan.
Dampak yang ditimbulkan dari kehadiran proyek nasional tersebut membuat perairan teluk Balikpapan di Desa Jenebora, Kecamatan Penajam, Kabupaten PPU menjadi tercemar, sehingga mempengaruhi pendapatan warga setempat yang berprofesi sebagai nelayan.
Permasalahan ini turut dirasakan oleh pembuat terasi udang di Jenebora yang pendapatannya turun drastis. Semulanya, nelayan mampu menangkap udang papai sekitar 100 Kilogram (Kg) atau empat karung berukuran 25 Kg dalam sekali mengangkut perangkap dan meraup keuntungan sebesar Rp4 juta dalam sebulan. Namun, kini mereka hanya mampu memperoleh satu Kg saja.
“Udang yang menjadi bahan utama kita dalam pembuatan terasi dalam dua tahun terakhir susah untuk didapatkan di Jembatan Pulau Balang karena ekosistem perairan disana berubah akibat tercampur dengan bahan-bahan material. Jadi dalam sebulan hanya Rp800 ribu,” ucap seorang perempuan yang enggan disebutkan namanya.
Mereka mengaku hanya berupaya untuk mencukupi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan cara berhemat, terutama mengatur keuangan saat menyekolahkan anak-anaknya yang masih membutuhkan pendidikan.
“Ya, kita cukup-cukupin aja. Lagipula nggak ada upaya lagi untuk membuat hasil penangkapan kita kembali seperti semula. Jadi, kami hanya menerima saja atas kondisi ini,” ungkapnya.
Mereka berharap ekosistem di perairan teluk Balikpapan, khususnya yang berada di sekitaran Jembatan Pulau Balang perlahan membaik seiring berjalannya waktu.
(Sf/By)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Terasi udang papai.(Foto:Agus Saputra/Seputarfakta.com)
Penajam - Pembangunan proyek strategis nasional, yaitu Ibu Kota Nusantara (IKN) di wilayah administrasi Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), mulai mengancam mata pencaharian masyarakat setempat.
Salah satunya adalah proyek jembatan Pulau Balang yang menghubungkan antara Kabupaten PPU dengan Kota Balikpapan.
Dampak yang ditimbulkan dari kehadiran proyek nasional tersebut membuat perairan teluk Balikpapan di Desa Jenebora, Kecamatan Penajam, Kabupaten PPU menjadi tercemar, sehingga mempengaruhi pendapatan warga setempat yang berprofesi sebagai nelayan.
Permasalahan ini turut dirasakan oleh pembuat terasi udang di Jenebora yang pendapatannya turun drastis. Semulanya, nelayan mampu menangkap udang papai sekitar 100 Kilogram (Kg) atau empat karung berukuran 25 Kg dalam sekali mengangkut perangkap dan meraup keuntungan sebesar Rp4 juta dalam sebulan. Namun, kini mereka hanya mampu memperoleh satu Kg saja.
“Udang yang menjadi bahan utama kita dalam pembuatan terasi dalam dua tahun terakhir susah untuk didapatkan di Jembatan Pulau Balang karena ekosistem perairan disana berubah akibat tercampur dengan bahan-bahan material. Jadi dalam sebulan hanya Rp800 ribu,” ucap seorang perempuan yang enggan disebutkan namanya.
Mereka mengaku hanya berupaya untuk mencukupi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan cara berhemat, terutama mengatur keuangan saat menyekolahkan anak-anaknya yang masih membutuhkan pendidikan.
“Ya, kita cukup-cukupin aja. Lagipula nggak ada upaya lagi untuk membuat hasil penangkapan kita kembali seperti semula. Jadi, kami hanya menerima saja atas kondisi ini,” ungkapnya.
Mereka berharap ekosistem di perairan teluk Balikpapan, khususnya yang berada di sekitaran Jembatan Pulau Balang perlahan membaik seiring berjalannya waktu.
(Sf/By)