Seputar Kaltim

    Kebutuhan Pangan Balikpapan 85 Persen Bergantung pada Pasokan Luar Daerah

    Penulis:Maya Sari|Redaktur:Rusdianto
    21 Oktober 2026 pukul 13:48 WITA

    Kegiatan gerakan pangan murah membantu masyarakat memperoleh bahan pangan pokok dengan harga terjangkau. (Foto: Mayasari/seputarfakta.com)

    Balikpapan – Kota Balikpapan masih menghadapi tantangan dalam mewujudkan ketahanan pangan, karena sekitar 85 persen kebutuhan pangan segar masyarakat bergantung pada pasokan dari luar daerah dan luar pulau. 

    Kondisi ini menjadi perhatian Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan, terutama di tengah pertumbuhan penduduk dan meningkatnya kebutuhan pangan sebagai dampak perkembangan Ibu Kota Nusantara (IKN).

    Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Balikpapan, Agus Budi Prasetyo menyampaikan, peringatan Hari Pangan Sedunia 2026 menjadi momentum untuk mengevaluasi, sekaligus memperkuat upaya pemerintah dalam menjaga ketersediaan pangan bagi masyarakat.

    “Karakteristik Balikpapan yang bukan merupakan daerah agraris menjadi salah satu tantangan dalam memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri,” ucap Agus sapaan akrabnya dalam sambutannya, Rabu (21/10/2026).

    Selain ketergantungan terhadap pasokan luar daerah, keterbatasan lahan pertanian produktif juga menjadi kendala dalam meningkatkan produksi pangan lokal.

    “Peringatan Hari Pangan Sedunia tahun ini menjadi momentum penting bagi kami untuk merefleksikan sejauh mana ketahanan pangan daerah telah terbangun,” ujarnya.

    Agus menjelaskan, tantangan ketahanan pangan Balikpapan semakin kompleks seiring dengan pertumbuhan penduduk yang dinamis. Sebagai salah satu kota penyangga utama IKN, Balikpapan menghadapi peningkatan kebutuhan konsumsi berbagai komoditas pangan.

    Di sisi lain, rantai distribusi yang panjang berpotensi memengaruhi kelancaran pasokan dan memicu fluktuasi harga. Kondisi tersebut dapat berdampak langsung terhadap daya beli masyarakat, khususnya kelompok berpenghasilan rendah.

    “Untuk mengantisipasi berbagai tantangan, Pemkot Balikpapan menyiapkan sejumlah langkah guna memperkuat ketahanan pangan, mulai dari menjaga stabilitas harga hingga meningkatkan produktivitas pangan lokal,” jelas Pj Sekda Balikpapan.

    Salah satu upaya yang dilakukan adalah menggelar Gerakan Pangan Murah (GPM) secara berkala. Program ini bertujuan membantu masyarakat memperoleh bahan pangan pokok dengan harga terjangkau, sekaligus menjadi salah satu bentuk intervensi pemerintah untuk menjaga stabilitas harga di pasaran.

    Selain itu, pemerintah mendorong optimalisasi lahan pertanian potensial di wilayah Balikpapan.

    “Salah satu kawasan yang menjadi perhatian adalah Bukit Sinjai, Gunung Binjai, Kelurahan Teritip, Balikpapan Timur, yang berpotensi dikembangkan untuk mendukung peningkatan produksi pangan lokal,” terangnya.

    Penguatan ketahanan pangan juga dilakukan melalui program pertanian perkotaan atau urban farming. Masyarakat didorong memanfaatkan pekarangan rumah maupun lahan yang tersedia untuk menanam sayuran dan kebutuhan dapur, seperti cabai, yang kerap menjadi salah satu komoditas pemicu inflasi.

    Pemkot Balikpapan juga berupaya mengoptimalkan Cadangan Pangan Pemerintah Daerah (CPPD), terutama untuk membantu memenuhi kebutuhan pangan kelompok rentan. 

    “Penyaluran cadangan pangan tersebut diharapkan turut mendukung pemenuhan gizi masyarakat dan mempercepat penurunan angka stunting,” paparnya.

    Di samping itu, kerja sama antar-daerah terus diperkuat untuk menjamin kelancaran distribusi pasokan dari wilayah produsen pangan ke Balikpapan. Koordinasi antara pemerintah daerah, distributor, pelaku usaha, dan pemangku kepentingan lainnya dinilai penting untuk menjaga ketersediaan bahan pangan.

    Dia juga mengimbau masyarakat agar menerapkan pola konsumsi yang bijak dengan membeli bahan pangan sesuai kebutuhan dan mengurangi pemborosan makanan. 

    “Kebiasaan tersebut dapat membantu rumah tangga mengendalikan pengeluaran, sekaligus mendukung upaya menjaga ketahanan pangan daerah,” tuturnya.

    Ia turut mengajak masyarakat memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam sayuran atau bumbu dapur secara mandiri. Selain membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari, langkah sederhana tersebut dapat mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah.

    Mengingat Balikpapan belum memasuki musim penghujan, Agus juga mengingatkan masyarakat agar menggunakan air bersih secara hemat dan bijaksana.

    “Ketahanan pangan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga membutuhkan peran aktif masyarakat dan seluruh pemangku kepentingan. Karena itu, koordinasi dan kerja sama harus terus diperkuat agar ketersediaan serta distribusi pangan tetap terjaga,” pesannya.

    Melalui berbagai langkah, Pemkot Balikpapan berharap sistem pangan daerah semakin tangguh, dengan pasokan yang memadai, harga yang lebih stabil, serta meningkatnya kesadaran masyarakat untuk mengonsumsi pangan yang beragam, bergizi seimbang, dan aman.

    “Momentum Hari Pangan Sedunia 2026 diharapkan menjadi penguat komitmen bersama dalam membangun ketahanan pangan yang mandiri dan berkelanjutan demi kesejahteraan masyarakat Kota Balikpapan,” pungkasnya.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Kebutuhan Pangan Balikpapan 85 Persen Bergantung pada Pasokan Luar Daerah

    Penulis:Maya Sari|Redaktur:Rusdianto
    21 Oktober 2026 pukul 13:48 WITA

    Kegiatan gerakan pangan murah membantu masyarakat memperoleh bahan pangan pokok dengan harga terjangkau. (Foto: Mayasari/seputarfakta.com)

    Balikpapan – Kota Balikpapan masih menghadapi tantangan dalam mewujudkan ketahanan pangan, karena sekitar 85 persen kebutuhan pangan segar masyarakat bergantung pada pasokan dari luar daerah dan luar pulau. 

    Kondisi ini menjadi perhatian Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan, terutama di tengah pertumbuhan penduduk dan meningkatnya kebutuhan pangan sebagai dampak perkembangan Ibu Kota Nusantara (IKN).

    Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Balikpapan, Agus Budi Prasetyo menyampaikan, peringatan Hari Pangan Sedunia 2026 menjadi momentum untuk mengevaluasi, sekaligus memperkuat upaya pemerintah dalam menjaga ketersediaan pangan bagi masyarakat.

    “Karakteristik Balikpapan yang bukan merupakan daerah agraris menjadi salah satu tantangan dalam memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri,” ucap Agus sapaan akrabnya dalam sambutannya, Rabu (21/10/2026).

    Selain ketergantungan terhadap pasokan luar daerah, keterbatasan lahan pertanian produktif juga menjadi kendala dalam meningkatkan produksi pangan lokal.

    “Peringatan Hari Pangan Sedunia tahun ini menjadi momentum penting bagi kami untuk merefleksikan sejauh mana ketahanan pangan daerah telah terbangun,” ujarnya.

    Agus menjelaskan, tantangan ketahanan pangan Balikpapan semakin kompleks seiring dengan pertumbuhan penduduk yang dinamis. Sebagai salah satu kota penyangga utama IKN, Balikpapan menghadapi peningkatan kebutuhan konsumsi berbagai komoditas pangan.

    Di sisi lain, rantai distribusi yang panjang berpotensi memengaruhi kelancaran pasokan dan memicu fluktuasi harga. Kondisi tersebut dapat berdampak langsung terhadap daya beli masyarakat, khususnya kelompok berpenghasilan rendah.

    “Untuk mengantisipasi berbagai tantangan, Pemkot Balikpapan menyiapkan sejumlah langkah guna memperkuat ketahanan pangan, mulai dari menjaga stabilitas harga hingga meningkatkan produktivitas pangan lokal,” jelas Pj Sekda Balikpapan.

    Salah satu upaya yang dilakukan adalah menggelar Gerakan Pangan Murah (GPM) secara berkala. Program ini bertujuan membantu masyarakat memperoleh bahan pangan pokok dengan harga terjangkau, sekaligus menjadi salah satu bentuk intervensi pemerintah untuk menjaga stabilitas harga di pasaran.

    Selain itu, pemerintah mendorong optimalisasi lahan pertanian potensial di wilayah Balikpapan.

    “Salah satu kawasan yang menjadi perhatian adalah Bukit Sinjai, Gunung Binjai, Kelurahan Teritip, Balikpapan Timur, yang berpotensi dikembangkan untuk mendukung peningkatan produksi pangan lokal,” terangnya.

    Penguatan ketahanan pangan juga dilakukan melalui program pertanian perkotaan atau urban farming. Masyarakat didorong memanfaatkan pekarangan rumah maupun lahan yang tersedia untuk menanam sayuran dan kebutuhan dapur, seperti cabai, yang kerap menjadi salah satu komoditas pemicu inflasi.

    Pemkot Balikpapan juga berupaya mengoptimalkan Cadangan Pangan Pemerintah Daerah (CPPD), terutama untuk membantu memenuhi kebutuhan pangan kelompok rentan. 

    “Penyaluran cadangan pangan tersebut diharapkan turut mendukung pemenuhan gizi masyarakat dan mempercepat penurunan angka stunting,” paparnya.

    Di samping itu, kerja sama antar-daerah terus diperkuat untuk menjamin kelancaran distribusi pasokan dari wilayah produsen pangan ke Balikpapan. Koordinasi antara pemerintah daerah, distributor, pelaku usaha, dan pemangku kepentingan lainnya dinilai penting untuk menjaga ketersediaan bahan pangan.

    Dia juga mengimbau masyarakat agar menerapkan pola konsumsi yang bijak dengan membeli bahan pangan sesuai kebutuhan dan mengurangi pemborosan makanan. 

    “Kebiasaan tersebut dapat membantu rumah tangga mengendalikan pengeluaran, sekaligus mendukung upaya menjaga ketahanan pangan daerah,” tuturnya.

    Ia turut mengajak masyarakat memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam sayuran atau bumbu dapur secara mandiri. Selain membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari, langkah sederhana tersebut dapat mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah.

    Mengingat Balikpapan belum memasuki musim penghujan, Agus juga mengingatkan masyarakat agar menggunakan air bersih secara hemat dan bijaksana.

    “Ketahanan pangan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga membutuhkan peran aktif masyarakat dan seluruh pemangku kepentingan. Karena itu, koordinasi dan kerja sama harus terus diperkuat agar ketersediaan serta distribusi pangan tetap terjaga,” pesannya.

    Melalui berbagai langkah, Pemkot Balikpapan berharap sistem pangan daerah semakin tangguh, dengan pasokan yang memadai, harga yang lebih stabil, serta meningkatnya kesadaran masyarakat untuk mengonsumsi pangan yang beragam, bergizi seimbang, dan aman.

    “Momentum Hari Pangan Sedunia 2026 diharapkan menjadi penguat komitmen bersama dalam membangun ketahanan pangan yang mandiri dan berkelanjutan demi kesejahteraan masyarakat Kota Balikpapan,” pungkasnya.

    (Sf/Rs)