Seputar Kaltim

    Kebakaran di Kaltim Tembus 1.470 Titik, Masuk 5 Besar Nasional

    Penulis:Arman Maulana|Redaktur:Lodya A
    22 September 2026 pukul 20:55 WITA

    Kepala pelaksana BPBD Kaltim, Buyung Dodi Gunawan. (Foto: Arman/Seputarfakta.com)

    SAMARINDA - Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Kalimantan Timur (Kaltim) terus menunjukkan tren peningkatan signifikan.

    Kepala Pelaksana BPBD Kaltim, Buyung Dodi Gunawan, mengatakan jumlah hotspot sempat turun pasca Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), namun kembali naik drastis dalam beberapa hari terakhir.

    "Bahwa hotspot di Kaltim ini sempat terjadi penurunan, sejak pasca-OMC. Sempat di 499, habis bawah itu, menaik lagi tanggal 19 ke 935, menurun lagi kemarin di tanggal 20 September 2026, 400-an dan kemarin malah meningkat sekitar 1.200 dan hari ini sudah 900 lagi," ujar Buyung di Samarinda, Selasa (22/9/2026).

    Buyung menjelaskan, hingga 21 September 2026, total titik kebakaran yang tercatat bukan lagi hotspot, melainkan titik api kejadian nyata, telah mencapai 1.470 titik dengan luasan terbakar 6.333 Hektare (Ha). 

    "Kalau kita lihat, potensi kejadian yang terjadi sampai dengan kemarin 1.470 titik kebakaran, bukan lagi hotspot dan luasannya 6.333 Ha," katanya.

    Data tersebut merupakan cut off per jam 20.00 WITA dan berpotensi terus bertambah karena masih ada laporan dari kabupaten/kota yang belum masuk.

    Jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya, tren September jauh lebih tinggi. Sepanjang Januari-Agustus 2026 luas karhutla mencapai 3.828 Ha, dengan Agustus saja 3.300 Ha. Sementara hingga 21 September sudah 2.500 Ha terbakar.

    Dari sebaran wilayah, Kutai Kartanegara (Kukar) menjadi yang terluas terbakar, namun titik terbanyak ada di Kabupaten Paser.

    "Titik yang paling banyak adalah di Kabupaten Paser 371 titik, kemudian disusul Kutai Kartanegara 226 titik. Memang luasan Kukar itu lebih luas, sehingga dampaknya cukup masif," jelasnya.

    Dengan luasan tersebut, Kaltim kini masuk dalam prioritas nasional penanganan karhutla. "Saat ini Kaltim sudah mulai masuk ke dalam prioritas kebakaran yang ada di Indonesia. Kita mungkin masuk empat atau lima besar nasional. Masih di bawah Kalbar, Kalteng dan Kalsel, tapi kita masuk enam besar," ungkap Buyung.

    Buyung juga menyoroti dampak lanjutan karhutla, yakni polusi udara yang belum hilang. Asap akibat 30 hari lebih tanpa hujan dan kebakaran sejak akhir Agustus masih terakumulasi di atmosfer.

    Efeknya sangat terasa di Mahakam Ulu yang tingkat kebakarannya rendah namun pencemaran udaranya tinggi akibat kiriman asap dari Murung Raya Kalteng dan Kutai Barat.

    "Di pagi hari cenderung buruk, siang agak membaik, malam memburuk lagi. Asap itu tidak ke mana-mana, ada di lapisan atmosfer. Pada tanggal 15 sampai 19 kemarin terjadi inversi, awan rata menutupi Kaltim sehingga asap turun ke bawah," jelasnya.

    Kondisi itu sempat membuat jarak pandang di Bandara APT Pranoto hanya 500 meter dan menyebabkan penerbangan ditunda hingga aktivitas pendidikan terganggu.

    "Asap ini tidak akan bisa hilang ke atas, hilangnya nanti akan terbawa hujan. Kalau diprediksi hujan baru aktif akhir Oktober, artinya kita harus waspada dampak asap masih akan terus timbul di pagi hari," pungkasnya.

    (Sf/Lo)

    Seputar Kaltim

    Kebakaran di Kaltim Tembus 1.470 Titik, Masuk 5 Besar Nasional

    Penulis:Arman Maulana|Redaktur:Lodya A
    22 September 2026 pukul 20:55 WITA

    Kepala pelaksana BPBD Kaltim, Buyung Dodi Gunawan. (Foto: Arman/Seputarfakta.com)

    SAMARINDA - Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Kalimantan Timur (Kaltim) terus menunjukkan tren peningkatan signifikan.

    Kepala Pelaksana BPBD Kaltim, Buyung Dodi Gunawan, mengatakan jumlah hotspot sempat turun pasca Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), namun kembali naik drastis dalam beberapa hari terakhir.

    "Bahwa hotspot di Kaltim ini sempat terjadi penurunan, sejak pasca-OMC. Sempat di 499, habis bawah itu, menaik lagi tanggal 19 ke 935, menurun lagi kemarin di tanggal 20 September 2026, 400-an dan kemarin malah meningkat sekitar 1.200 dan hari ini sudah 900 lagi," ujar Buyung di Samarinda, Selasa (22/9/2026).

    Buyung menjelaskan, hingga 21 September 2026, total titik kebakaran yang tercatat bukan lagi hotspot, melainkan titik api kejadian nyata, telah mencapai 1.470 titik dengan luasan terbakar 6.333 Hektare (Ha). 

    "Kalau kita lihat, potensi kejadian yang terjadi sampai dengan kemarin 1.470 titik kebakaran, bukan lagi hotspot dan luasannya 6.333 Ha," katanya.

    Data tersebut merupakan cut off per jam 20.00 WITA dan berpotensi terus bertambah karena masih ada laporan dari kabupaten/kota yang belum masuk.

    Jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya, tren September jauh lebih tinggi. Sepanjang Januari-Agustus 2026 luas karhutla mencapai 3.828 Ha, dengan Agustus saja 3.300 Ha. Sementara hingga 21 September sudah 2.500 Ha terbakar.

    Dari sebaran wilayah, Kutai Kartanegara (Kukar) menjadi yang terluas terbakar, namun titik terbanyak ada di Kabupaten Paser.

    "Titik yang paling banyak adalah di Kabupaten Paser 371 titik, kemudian disusul Kutai Kartanegara 226 titik. Memang luasan Kukar itu lebih luas, sehingga dampaknya cukup masif," jelasnya.

    Dengan luasan tersebut, Kaltim kini masuk dalam prioritas nasional penanganan karhutla. "Saat ini Kaltim sudah mulai masuk ke dalam prioritas kebakaran yang ada di Indonesia. Kita mungkin masuk empat atau lima besar nasional. Masih di bawah Kalbar, Kalteng dan Kalsel, tapi kita masuk enam besar," ungkap Buyung.

    Buyung juga menyoroti dampak lanjutan karhutla, yakni polusi udara yang belum hilang. Asap akibat 30 hari lebih tanpa hujan dan kebakaran sejak akhir Agustus masih terakumulasi di atmosfer.

    Efeknya sangat terasa di Mahakam Ulu yang tingkat kebakarannya rendah namun pencemaran udaranya tinggi akibat kiriman asap dari Murung Raya Kalteng dan Kutai Barat.

    "Di pagi hari cenderung buruk, siang agak membaik, malam memburuk lagi. Asap itu tidak ke mana-mana, ada di lapisan atmosfer. Pada tanggal 15 sampai 19 kemarin terjadi inversi, awan rata menutupi Kaltim sehingga asap turun ke bawah," jelasnya.

    Kondisi itu sempat membuat jarak pandang di Bandara APT Pranoto hanya 500 meter dan menyebabkan penerbangan ditunda hingga aktivitas pendidikan terganggu.

    "Asap ini tidak akan bisa hilang ke atas, hilangnya nanti akan terbawa hujan. Kalau diprediksi hujan baru aktif akhir Oktober, artinya kita harus waspada dampak asap masih akan terus timbul di pagi hari," pungkasnya.

    (Sf/Lo)