Seputar Kaltim

    Kebakaran Banyak Terjadi karena Listrik, Kadisdamkar Samarinda: Kami sudah kerja sama dengan PLN

    Penulis:Tria|Redaktur:Rusdianto
    26 Februari 2024 pukul 19:27 WITA

    Spanduk pengingat dari Disdamkar yang dipasang dalam Gang 4A Blok C, Kelurahan Sidodadi, Kecamatan Samarinda Ulu. (Foto: Tria/Seputarfakta.com)

    Samarinda – Bencana kebakaran sering melanda Samarinda di awal tahun ini. Kurang lebih sudah terjadi sepuluh kejadian selama Februari 2024.

    Kepala Dinas Pemadam Kebakaran (Disdamkar) Kota Samarinda, Hendra AH menyampaikan, penyebab terjadinya kebakaran di Samarinda selama ini kebanyakan karena korsleting listrik.

    “Kalau menurut data kami, hampir 50 persen lebih itu akibat korsleting listrik. Sisanya kebakaran karena hal lain, kaya kebakaran sampah, akibat kompor yang ditinggalkan, rokok, atau anti nyamuk yang digunakan tidak hati-hati,” jelas Hendra pada Seputar Fakta di Kantor Disdamkar Samarinda, Jalan Mulawarman, Senin (26/2/2024) sore.

    Ia mengatakan, pihaknya telah melakukan berbagai macam sosialisasi, baik praktik maupun tulisan pengingat. Disdamkar telah membuat tanda pengingat (reminder sign) berupa spanduk. Tanda itu dipasang dalam wilayah yang memang dirasa rawan terjadi kebakaran atau bahkan sudah pernah mengalami.

    Isi di dalamnya adalah lima hal yang harus dilakukan jika ingin keluar dari rumah. Seperti jangan lupa mematikan kompor dan lampu listrik, memadamkan obat nyamuk, lilin, serta menutup air keran.

    “Kami dari Damkar tidak henti-hentinya untuk sosialisasi. Di Probebaya itu kan ada sosialisasi tentang bagaimana cara memadamkan api, cara menggunakan Alat Pemadam Api Ringan (APAR), bahkan sudah kita lakukan juga di daerah sana (wilayah kebakaran di Kelurahan Sidodadi),” jelasnya.

    Kemudian, Hendra juga bilang, sudah melakukan kerja sama dengan pihak PLN untuk memeriksa instalasi listrik yang dimiliki oleh masyarakat. Sejauh ini, pihaknya bersama dengan PLN telah mendata sebanyak seribu rumah, yang dibagi dalam dua wilayah, yakni Kelurahan Sidomulyo dan Pelita.

    “Kami sudah bekerjsama dengan PLN namanya Komite Nasional Keselamatan untuk Instalasi Listrik (Konsuil). Konsuil itu dibawah PLN untuk memeriksa instalasi-instalasi di perumahan. Kami mengutamakan daerah yang memang rawan kebakaran kaya di kelurahan Sidomulyo dan Pelita, masing-masing lima ratus rumah,” tuturnya.
    Hasil dari pendataan itu berupa rekomendasi. Misal apa saja yang tidak layak, dan bagian mana yang memang harus diganti atau diperbaiki. 

    Meski begitu, Hendra menegaskan, kesadaran masyarakatlah yang paling utama untuk mencegah terjadinya kebakaran. Ia sangat berharap, dari kejadian kebakaran yang terjadi belakangan ini mampu meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan masyarakat. 

    “Saya juga mewajibkan satu rumah satu Apar. Karena dari beberapa kejadian, api itu awalnya kecil, cuma karena panik akhirnya membesar. Kalo ada Apar kan bisa langsung ditembak (dipadamkan),” pungkasnya.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Kebakaran Banyak Terjadi karena Listrik, Kadisdamkar Samarinda: Kami sudah kerja sama dengan PLN

    Penulis:Tria|Redaktur:Rusdianto
    26 Februari 2024 pukul 19:27 WITA

    Spanduk pengingat dari Disdamkar yang dipasang dalam Gang 4A Blok C, Kelurahan Sidodadi, Kecamatan Samarinda Ulu. (Foto: Tria/Seputarfakta.com)

    Samarinda – Bencana kebakaran sering melanda Samarinda di awal tahun ini. Kurang lebih sudah terjadi sepuluh kejadian selama Februari 2024.

    Kepala Dinas Pemadam Kebakaran (Disdamkar) Kota Samarinda, Hendra AH menyampaikan, penyebab terjadinya kebakaran di Samarinda selama ini kebanyakan karena korsleting listrik.

    “Kalau menurut data kami, hampir 50 persen lebih itu akibat korsleting listrik. Sisanya kebakaran karena hal lain, kaya kebakaran sampah, akibat kompor yang ditinggalkan, rokok, atau anti nyamuk yang digunakan tidak hati-hati,” jelas Hendra pada Seputar Fakta di Kantor Disdamkar Samarinda, Jalan Mulawarman, Senin (26/2/2024) sore.

    Ia mengatakan, pihaknya telah melakukan berbagai macam sosialisasi, baik praktik maupun tulisan pengingat. Disdamkar telah membuat tanda pengingat (reminder sign) berupa spanduk. Tanda itu dipasang dalam wilayah yang memang dirasa rawan terjadi kebakaran atau bahkan sudah pernah mengalami.

    Isi di dalamnya adalah lima hal yang harus dilakukan jika ingin keluar dari rumah. Seperti jangan lupa mematikan kompor dan lampu listrik, memadamkan obat nyamuk, lilin, serta menutup air keran.

    “Kami dari Damkar tidak henti-hentinya untuk sosialisasi. Di Probebaya itu kan ada sosialisasi tentang bagaimana cara memadamkan api, cara menggunakan Alat Pemadam Api Ringan (APAR), bahkan sudah kita lakukan juga di daerah sana (wilayah kebakaran di Kelurahan Sidodadi),” jelasnya.

    Kemudian, Hendra juga bilang, sudah melakukan kerja sama dengan pihak PLN untuk memeriksa instalasi listrik yang dimiliki oleh masyarakat. Sejauh ini, pihaknya bersama dengan PLN telah mendata sebanyak seribu rumah, yang dibagi dalam dua wilayah, yakni Kelurahan Sidomulyo dan Pelita.

    “Kami sudah bekerjsama dengan PLN namanya Komite Nasional Keselamatan untuk Instalasi Listrik (Konsuil). Konsuil itu dibawah PLN untuk memeriksa instalasi-instalasi di perumahan. Kami mengutamakan daerah yang memang rawan kebakaran kaya di kelurahan Sidomulyo dan Pelita, masing-masing lima ratus rumah,” tuturnya.
    Hasil dari pendataan itu berupa rekomendasi. Misal apa saja yang tidak layak, dan bagian mana yang memang harus diganti atau diperbaiki. 

    Meski begitu, Hendra menegaskan, kesadaran masyarakatlah yang paling utama untuk mencegah terjadinya kebakaran. Ia sangat berharap, dari kejadian kebakaran yang terjadi belakangan ini mampu meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan masyarakat. 

    “Saya juga mewajibkan satu rumah satu Apar. Karena dari beberapa kejadian, api itu awalnya kecil, cuma karena panik akhirnya membesar. Kalo ada Apar kan bisa langsung ditembak (dipadamkan),” pungkasnya.

    (Sf/Rs)