Cari disini...
Seputar Kaltim
Kepala BPJS Kesehatan Cabang Balikpapan, Aidy Ilmy saat ditemui awak media. (Foto: Maya Sari/Seputarfakta.com)
Balikpapan – BPJS Kesehatan Cabang Balikpapan mengungkapkan tingkat keaktifan peserta Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) di Kota Balikpapan saat ini baru mencapai sekitar 86 persen, meski cakupan kepesertaan telah melampaui 100 persen dari jumlah penduduk.
Kepala BPJS Kesehatan Cabang Balikpapan, Aidy Ilmy mengatakan, seluruh layanan kesehatan pada prinsipnya ditanggung oleh JKN selama peserta mengikuti prosedur pelayanan yang berlaku, termasuk memulai akses layanan melalui Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP).
“Kalau masalah tidak ditanggung, pada prinsipnya semua ditanggung. Namun, ketentuan pelayanan harus tetap dijalankan, dimulai dari FKTP,” kata Aidy saat ditemui media di Balikpapan, Rabu (17/6/2026).
Menurut Aidy, tingginya cakupan kepesertaan belum sepenuhnya diikuti dengan tingkat keaktifan peserta. Sejumlah peserta masih berstatus nonaktif akibat menunggak iuran atau tidak lagi terdaftar, setelah berhenti bekerja dari perusahaan yang sebelumnya menanggung kepesertaan mereka.
“Masih ada peserta mandiri yang menunggak iuran, ada juga yang sebelumnya ditanggung perusahaan tetapi kemudian tidak diperpanjang karena sudah tidak bekerja,” ucapnya.
Untuk meningkatkan keaktifan peserta, BPJS Kesehatan terus melakukan berbagai upaya, mulai dari edukasi, menghubungi peserta yang menunggak, hingga menawarkan program rehabilitasi tunggakan.
Bagi masyarakat yang mengalami kesulitan ekonomi, BPJS Kesehatan mendorong agar segera melapor ke kelurahan setempat untuk mengikuti proses verifikasi dan screening, guna mendapatkan bantuan pembayaran iuran dari pemerintah daerah.
“Kalau memang tidak mampu, datang ke kelurahan untuk mengurus pengaktifan. Nanti akan dilakukan screening apakah layak mendapatkan bantuan iuran dari pemerintah daerah atau tidak,” jelasnya.
Selain mendorong keaktifan peserta, BPJS Kesehatan juga menekankan pentingnya upaya promotif dan preventif melalui penerapan pola hidup sehat. Aidy menilai keberhasilan program JKN tidak hanya ditentukan oleh jumlah peserta yang terdaftar, tetapi juga oleh kondisi kesehatan masyarakat secara keseluruhan.
Ia mengingatkan bahwa pembiayaan layanan kesehatan berasal dari iuran yang dibayarkan pemerintah, perusahaan, dan peserta mandiri. Karena itu, menjaga kesehatan masyarakat menjadi faktor penting untuk menjaga keberlanjutan sistem jaminan kesehatan nasional.
“Kalau seluruh peserta aktif tetapi semuanya sakit, tentu anggaran yang tersedia tidak akan cukup. Karena itu yang paling penting adalah bagaimana masyarakat tetap sehat,” tegasnya.
Dia juga mengajak media massa untuk berperan aktif mengedukasi masyarakat terkait pentingnya menjaga kesehatan dan mencegah penyakit sejak dini.
“Teman-teman media tidak hanya mempromosikan cara mendaftar BPJS, tetapi juga bagaimana menerapkan pola hidup sehat. Karena pada akhirnya, biaya sakit itu mahal meskipun sudah ditanggung,” imbuhnya.
Sementara itu, berdasarkan data BPJS Kesehatan, penyakit katastropik masih menjadi penyumbang terbesar biaya pelayanan kesehatan di wilayah Balikpapan. Penyakit tersebut antara lain penyakit jantung, gagal ginjal yang memerlukan tindakan cuci darah, serta sejumlah penyakit kronis lainnya.
BPJS Kesehatan berharap masyarakat yang memiliki kemampuan finansial dapat membayar iuran secara mandiri sebagai bentuk gotong royong dalam sistem JKN, sehingga manfaat program dapat terus dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.
“Program ini sangat luar biasa. Jangan sampai berhenti di tengah jalan. Mari manfaatkan bersama sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” pungkas Aidy.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Kepala BPJS Kesehatan Cabang Balikpapan, Aidy Ilmy saat ditemui awak media. (Foto: Maya Sari/Seputarfakta.com)
Balikpapan – BPJS Kesehatan Cabang Balikpapan mengungkapkan tingkat keaktifan peserta Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) di Kota Balikpapan saat ini baru mencapai sekitar 86 persen, meski cakupan kepesertaan telah melampaui 100 persen dari jumlah penduduk.
Kepala BPJS Kesehatan Cabang Balikpapan, Aidy Ilmy mengatakan, seluruh layanan kesehatan pada prinsipnya ditanggung oleh JKN selama peserta mengikuti prosedur pelayanan yang berlaku, termasuk memulai akses layanan melalui Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP).
“Kalau masalah tidak ditanggung, pada prinsipnya semua ditanggung. Namun, ketentuan pelayanan harus tetap dijalankan, dimulai dari FKTP,” kata Aidy saat ditemui media di Balikpapan, Rabu (17/6/2026).
Menurut Aidy, tingginya cakupan kepesertaan belum sepenuhnya diikuti dengan tingkat keaktifan peserta. Sejumlah peserta masih berstatus nonaktif akibat menunggak iuran atau tidak lagi terdaftar, setelah berhenti bekerja dari perusahaan yang sebelumnya menanggung kepesertaan mereka.
“Masih ada peserta mandiri yang menunggak iuran, ada juga yang sebelumnya ditanggung perusahaan tetapi kemudian tidak diperpanjang karena sudah tidak bekerja,” ucapnya.
Untuk meningkatkan keaktifan peserta, BPJS Kesehatan terus melakukan berbagai upaya, mulai dari edukasi, menghubungi peserta yang menunggak, hingga menawarkan program rehabilitasi tunggakan.
Bagi masyarakat yang mengalami kesulitan ekonomi, BPJS Kesehatan mendorong agar segera melapor ke kelurahan setempat untuk mengikuti proses verifikasi dan screening, guna mendapatkan bantuan pembayaran iuran dari pemerintah daerah.
“Kalau memang tidak mampu, datang ke kelurahan untuk mengurus pengaktifan. Nanti akan dilakukan screening apakah layak mendapatkan bantuan iuran dari pemerintah daerah atau tidak,” jelasnya.
Selain mendorong keaktifan peserta, BPJS Kesehatan juga menekankan pentingnya upaya promotif dan preventif melalui penerapan pola hidup sehat. Aidy menilai keberhasilan program JKN tidak hanya ditentukan oleh jumlah peserta yang terdaftar, tetapi juga oleh kondisi kesehatan masyarakat secara keseluruhan.
Ia mengingatkan bahwa pembiayaan layanan kesehatan berasal dari iuran yang dibayarkan pemerintah, perusahaan, dan peserta mandiri. Karena itu, menjaga kesehatan masyarakat menjadi faktor penting untuk menjaga keberlanjutan sistem jaminan kesehatan nasional.
“Kalau seluruh peserta aktif tetapi semuanya sakit, tentu anggaran yang tersedia tidak akan cukup. Karena itu yang paling penting adalah bagaimana masyarakat tetap sehat,” tegasnya.
Dia juga mengajak media massa untuk berperan aktif mengedukasi masyarakat terkait pentingnya menjaga kesehatan dan mencegah penyakit sejak dini.
“Teman-teman media tidak hanya mempromosikan cara mendaftar BPJS, tetapi juga bagaimana menerapkan pola hidup sehat. Karena pada akhirnya, biaya sakit itu mahal meskipun sudah ditanggung,” imbuhnya.
Sementara itu, berdasarkan data BPJS Kesehatan, penyakit katastropik masih menjadi penyumbang terbesar biaya pelayanan kesehatan di wilayah Balikpapan. Penyakit tersebut antara lain penyakit jantung, gagal ginjal yang memerlukan tindakan cuci darah, serta sejumlah penyakit kronis lainnya.
BPJS Kesehatan berharap masyarakat yang memiliki kemampuan finansial dapat membayar iuran secara mandiri sebagai bentuk gotong royong dalam sistem JKN, sehingga manfaat program dapat terus dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.
“Program ini sangat luar biasa. Jangan sampai berhenti di tengah jalan. Mari manfaatkan bersama sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” pungkas Aidy.
(Sf/Rs)