Cari disini...
Seputarfakta.com - Baiq Eliana -
Seputar Kaltim
Pesisir pantai Maratua. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)
Tanjung Redeb - Belakangan ini, istilah arus balik (rip current) sedang ramai diperbincangkan dan menjadi perhatian serius bagi wisatawan dan masyarakat di kawasan pesisir Berau lantaran ini menjadi ancaman bagi pengunjung di beberapa objek wisata. Rip current adalah arus kuat yang bergerak menjauhi pantai dan dapat menyeret perenang ke laut lepas.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Berau, Nofian Hidayat, menyampaikan, rip current kerap terjadi di beberapa titik di daerah wisata Kabupaten Berau. Arus ini sulit dilihat dari permukaan laut, kecuali berada di atas ketinggian. "Banyak wisatawan yang tidak sadar keberadaan rip current, sehingga berisiko terseret saat berenang," kata Kepala Bidang BPBD Berau, Nofian Hidayat.
Ia pun mengatakan beberapa titik pantai rip current di pesisir Kabupaten Berau seperti perairan Kecamatan Talisayan, Biduk-biduk, Maratua dan Pulau Derawan. Ia menyebut di kawasan Pulau Derawan, ada salah satu penanda khusus yang di pasang. Penanda tersebut merupakan titik rip current dan kawasan berbahaya bagi pengunjung. "Di Derawan ada landmark kan, itu adalah Rip Current. Sangat berbahaya, membawa kita keluar pantai," bebernya
Ia pun menjelaskan, rip current umumnya memiliki lebar sekitar delapan hingga 12 meter sehingga dapat menyeret seseorang hingga 20 meter ke tengah laut. Ia menyarankan apabila masyarakat menghadapi rip current, dihimbau untuk tetap tenang dan tetap mengikuti arus sambil berenang ke arah kanan maupun kiri hingga keluar dari area rip current.
"Jadi triknya kalau kita terbawa rip current kita jangan melawan untuk kepinggir, tidak bakal bisa, kecuali kalau kaki kita sampai. Kita ikutin saja keluarnya kemana, sambil kita berenang ke arah kiri atau kanan, pasti kembali lagi ke darat," tuturnya.
Sementara itu, ia juga mengimbau peningkatan pengawasan dan edukasi BPBD Berau oleh pengelola resort dan pihak terkait untuk meningkatkan pengawasan di area rawan. Hal ini termasuk menyediakan penjaga pantai terlatih dan menara pemantauan. "Kemudian peralatan keselamatan seperti pelampung, torpedo buoy, dan pelampung lempar sebaiknya tersedia untuk membantu penyelamatan jika terjadi insiden," terangnya.
Nofian juga mengatakan selain pengawasan, edukasi kepada masyarakat dan wisatawan juga sangat penting. Pemerintah daerah, melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, diharapkan aktif melakukan sosialisasi tentang bahaya rip current. "Kami dari BPBD Berau juga siap memberikan edukasi kepada masyarakat," tandasnya.
(Sf/Mr)
Tim Editorial
Cari disini...
Seputarfakta.com - Baiq Eliana -
Seputar Kaltim

Pesisir pantai Maratua. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)
Tanjung Redeb - Belakangan ini, istilah arus balik (rip current) sedang ramai diperbincangkan dan menjadi perhatian serius bagi wisatawan dan masyarakat di kawasan pesisir Berau lantaran ini menjadi ancaman bagi pengunjung di beberapa objek wisata. Rip current adalah arus kuat yang bergerak menjauhi pantai dan dapat menyeret perenang ke laut lepas.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Berau, Nofian Hidayat, menyampaikan, rip current kerap terjadi di beberapa titik di daerah wisata Kabupaten Berau. Arus ini sulit dilihat dari permukaan laut, kecuali berada di atas ketinggian. "Banyak wisatawan yang tidak sadar keberadaan rip current, sehingga berisiko terseret saat berenang," kata Kepala Bidang BPBD Berau, Nofian Hidayat.
Ia pun mengatakan beberapa titik pantai rip current di pesisir Kabupaten Berau seperti perairan Kecamatan Talisayan, Biduk-biduk, Maratua dan Pulau Derawan. Ia menyebut di kawasan Pulau Derawan, ada salah satu penanda khusus yang di pasang. Penanda tersebut merupakan titik rip current dan kawasan berbahaya bagi pengunjung. "Di Derawan ada landmark kan, itu adalah Rip Current. Sangat berbahaya, membawa kita keluar pantai," bebernya
Ia pun menjelaskan, rip current umumnya memiliki lebar sekitar delapan hingga 12 meter sehingga dapat menyeret seseorang hingga 20 meter ke tengah laut. Ia menyarankan apabila masyarakat menghadapi rip current, dihimbau untuk tetap tenang dan tetap mengikuti arus sambil berenang ke arah kanan maupun kiri hingga keluar dari area rip current.
"Jadi triknya kalau kita terbawa rip current kita jangan melawan untuk kepinggir, tidak bakal bisa, kecuali kalau kaki kita sampai. Kita ikutin saja keluarnya kemana, sambil kita berenang ke arah kiri atau kanan, pasti kembali lagi ke darat," tuturnya.
Sementara itu, ia juga mengimbau peningkatan pengawasan dan edukasi BPBD Berau oleh pengelola resort dan pihak terkait untuk meningkatkan pengawasan di area rawan. Hal ini termasuk menyediakan penjaga pantai terlatih dan menara pemantauan. "Kemudian peralatan keselamatan seperti pelampung, torpedo buoy, dan pelampung lempar sebaiknya tersedia untuk membantu penyelamatan jika terjadi insiden," terangnya.
Nofian juga mengatakan selain pengawasan, edukasi kepada masyarakat dan wisatawan juga sangat penting. Pemerintah daerah, melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, diharapkan aktif melakukan sosialisasi tentang bahaya rip current. "Kami dari BPBD Berau juga siap memberikan edukasi kepada masyarakat," tandasnya.
(Sf/Mr)