Seputar Kaltim

    Kasus TB-HIV jadi Sorotan, Dinkes Kota Samarinda Perkuat Screening dan Dorong Deteksi Dini

    Penulis:Arsensia Serlyani|Redaktur:Rusdianto
    25 Juni 2026 pukul 22:38 WITA

    Kepala Dinas Kesehatan Kota Samarinda, Ismed Kusasih. (Foto: Arsensia Serlyani/ Seputarfakta.com)

    Samarinda– Penanggulangan Tuberkulosis (TB) dan Human Immunodeficiency Virus (HIV) di Kota Samarinda terus menjadi perhatian serius pemerintah daerah. 

    Selain karena keduanya masuk dalam Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang kesehatan, TB dan HIV juga tercatat sebagai penyakit menular dengan angka kematian tinggi yang membutuhkan penanganan cepat melalui deteksi dini, pengobatan berkelanjutan, dan penguatan sistem screening di masyarakat.

    Kepala Dinas Kesehatan Kota Samarinda, Ismed Kusasih, mengatakan capaian program penanggulangan TB dan HIV hingga pertengahan 2026 masih berjalan sesuai target. 

    Pada program penanggulangan TB, tingkat penemuan kasus tahun lalu mencapai hampir 91 persen dari target yang ditetapkan pemerintah pusat.

    Sementara untuk HIV, hingga Juni 2026 tercatat sekitar 184 kasus baru ditemukan di Samarinda. Dari jumlah tersebut, lebih dari 140 orang telah menjalani pengobatan.

    Menurut Ismed, peningkatan jumlah temuan kasus tidak selalu menunjukkan kondisi yang memburuk. Sebaliknya, hal tersebut menjadi indikator bahwa sistem deteksi dini atau screening berjalan efektif sehingga penderita dapat segera memperoleh penanganan medis.

    “Prinsip Kementerian Kesehatan itu menemukan penderita melalui screening. Jadi kalau kasus ditemukan lebih banyak, artinya screening berjalan. Yang penting penderita cepat diobati sehingga penularan bisa ditekan,” ujar Ismed, Kamis (25/6/2026).

    Ia menjelaskan kelompok usia produktif masih mendominasi kasus HIV maupun TB di Samarinda, yakni rentang usia sekitar 20-40 tahun. Khusus HIV, kelompok dengan faktor risiko tertinggi berasal dari kategori Laki-laki Suka Laki-laki (LSL).

    “Kalau diurai lagi kelompok yang terbanyak pada kasus HIV itu dari LSL,” ungkapnya.

    Data tersebut menjadi perhatian pemerintah daerah karena kelompok usia produktif merupakan tulang punggung perekonomian masyarakat. 

    Tingginya angka kasus pada kelompok tersebut berpotensi berdampak terhadap produktivitas dan kualitas hidup penduduk apabila tidak ditangani secara serius.

    Sementara itu, Ketua Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Sri Puji Astuti, mengungkapkan pihaknya telah menerima data rinci dari Dinas Kesehatan terkait sebaran kasus HIV di Kota Tepian.

    Menurutnya, kasus HIV tidak hanya ditemukan pada kelompok tertentu, tetapi tersebar di berbagai lapisan masyarakat, mulai dari pekerja malam, pekerja seks, hingga ibu hamil.

    “Data yang kami terima menunjukkan kasusnya tersebar di berbagai kalangan. Ini yang menjadi perhatian bersama karena penanganannya tidak bisa dilakukan secara parsial,” ujar sri.

    Sri Puji juga menyoroti munculnya kasus penularan HIV dari ibu ke anak yang mengakibatkan bayi lahir dalam kondisi terpapar virus tersebut. Kondisi itu dinilai menjadi alarm bagi seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat edukasi dan pemeriksaan kesehatan sejak dini.

    Menurutnya, semakin dini kasus ditemukan, semakin besar peluang penderita untuk memperoleh terapi yang tepat dan menjalani kehidupan secara produktif tanpa memperluas risiko penularan.

    Selain penguatan screening, DPRD juga mendorong peningkatan sosialisasi, edukasi kesehatan reproduksi, serta perluasan akses layanan pemeriksaan bagi kelompok rentan. Langkah tersebut dinilai penting untuk mencapai target pengendalian TB dan HIV sekaligus menekan angka penularan di Kota Samarinda.

    Dengan jumlah kasus yang masih terus ditemukan setiap tahun, pemerintah daerah berharap kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala semakin meningkat sehingga upaya pencegahan dan pengobatan dapat berjalan lebih efektif.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Kasus TB-HIV jadi Sorotan, Dinkes Kota Samarinda Perkuat Screening dan Dorong Deteksi Dini

    Penulis:Arsensia Serlyani|Redaktur:Rusdianto
    25 Juni 2026 pukul 22:38 WITA

    Kepala Dinas Kesehatan Kota Samarinda, Ismed Kusasih. (Foto: Arsensia Serlyani/ Seputarfakta.com)

    Samarinda– Penanggulangan Tuberkulosis (TB) dan Human Immunodeficiency Virus (HIV) di Kota Samarinda terus menjadi perhatian serius pemerintah daerah. 

    Selain karena keduanya masuk dalam Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang kesehatan, TB dan HIV juga tercatat sebagai penyakit menular dengan angka kematian tinggi yang membutuhkan penanganan cepat melalui deteksi dini, pengobatan berkelanjutan, dan penguatan sistem screening di masyarakat.

    Kepala Dinas Kesehatan Kota Samarinda, Ismed Kusasih, mengatakan capaian program penanggulangan TB dan HIV hingga pertengahan 2026 masih berjalan sesuai target. 

    Pada program penanggulangan TB, tingkat penemuan kasus tahun lalu mencapai hampir 91 persen dari target yang ditetapkan pemerintah pusat.

    Sementara untuk HIV, hingga Juni 2026 tercatat sekitar 184 kasus baru ditemukan di Samarinda. Dari jumlah tersebut, lebih dari 140 orang telah menjalani pengobatan.

    Menurut Ismed, peningkatan jumlah temuan kasus tidak selalu menunjukkan kondisi yang memburuk. Sebaliknya, hal tersebut menjadi indikator bahwa sistem deteksi dini atau screening berjalan efektif sehingga penderita dapat segera memperoleh penanganan medis.

    “Prinsip Kementerian Kesehatan itu menemukan penderita melalui screening. Jadi kalau kasus ditemukan lebih banyak, artinya screening berjalan. Yang penting penderita cepat diobati sehingga penularan bisa ditekan,” ujar Ismed, Kamis (25/6/2026).

    Ia menjelaskan kelompok usia produktif masih mendominasi kasus HIV maupun TB di Samarinda, yakni rentang usia sekitar 20-40 tahun. Khusus HIV, kelompok dengan faktor risiko tertinggi berasal dari kategori Laki-laki Suka Laki-laki (LSL).

    “Kalau diurai lagi kelompok yang terbanyak pada kasus HIV itu dari LSL,” ungkapnya.

    Data tersebut menjadi perhatian pemerintah daerah karena kelompok usia produktif merupakan tulang punggung perekonomian masyarakat. 

    Tingginya angka kasus pada kelompok tersebut berpotensi berdampak terhadap produktivitas dan kualitas hidup penduduk apabila tidak ditangani secara serius.

    Sementara itu, Ketua Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Sri Puji Astuti, mengungkapkan pihaknya telah menerima data rinci dari Dinas Kesehatan terkait sebaran kasus HIV di Kota Tepian.

    Menurutnya, kasus HIV tidak hanya ditemukan pada kelompok tertentu, tetapi tersebar di berbagai lapisan masyarakat, mulai dari pekerja malam, pekerja seks, hingga ibu hamil.

    “Data yang kami terima menunjukkan kasusnya tersebar di berbagai kalangan. Ini yang menjadi perhatian bersama karena penanganannya tidak bisa dilakukan secara parsial,” ujar sri.

    Sri Puji juga menyoroti munculnya kasus penularan HIV dari ibu ke anak yang mengakibatkan bayi lahir dalam kondisi terpapar virus tersebut. Kondisi itu dinilai menjadi alarm bagi seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat edukasi dan pemeriksaan kesehatan sejak dini.

    Menurutnya, semakin dini kasus ditemukan, semakin besar peluang penderita untuk memperoleh terapi yang tepat dan menjalani kehidupan secara produktif tanpa memperluas risiko penularan.

    Selain penguatan screening, DPRD juga mendorong peningkatan sosialisasi, edukasi kesehatan reproduksi, serta perluasan akses layanan pemeriksaan bagi kelompok rentan. Langkah tersebut dinilai penting untuk mencapai target pengendalian TB dan HIV sekaligus menekan angka penularan di Kota Samarinda.

    Dengan jumlah kasus yang masih terus ditemukan setiap tahun, pemerintah daerah berharap kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala semakin meningkat sehingga upaya pencegahan dan pengobatan dapat berjalan lebih efektif.

    (Sf/Rs)