Seputar Fakta

    Seputar Kaltim

    Kasus Karhutla di Balikpapan Mulai Menurun, Luas Lahan Terbakar Capai 98,2 Hektare

    Penulis:Maya Sari|Redaktur:Rusdianto
    03 November 2026 pukul 15:07 WITA

    Kepala BPBD Balikpapan, Usman Ali saat ditemu di Auditorium Balai Kota. (Foto: Mayasari/seputarfakta.com)

    Balikpapan – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kota Balikpapan mulai menunjukkan penurunan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Balikpapan mencatat, frekuensi kebakaran yang sebelumnya mencapai tiga hingga empat kejadian dalam sehari, kini berkurang menjadi satu hingga dua kejadian.

    Kepala BPBD Balikpapan, Usman Ali menyampaikan, berdasarkan data yang dihimpun, total kejadian Karhutla di Balikpapan telah mencapai 138 kasus dengan perkiraan luas lahan terbakar sekitar 98,2 hektare.

    “Untuk Karhutla, khususnya di Kota Balikpapan, saat ini sudah bisa dikatakan mulai menurun. Biasanya bisa terjadi tiga sampai empat kali, sekarang hanya satu atau dua kali,” ucap Usman kepada awak media, Selasa (3/11/2026).

    Berdasarkan sebaran wilayah, Balikpapan Timur menjadi daerah dengan jumlah kejadian Karhutla terbanyak yakni 55 kejadian. Disusul Balikpapan Selatan sebanyak 33 kejadian, Balikpapan Utara 29 kejadian, Balikpapan Tengah 11 kejadian, Balikpapan Barat sembilan kejadian, dan Balikpapan Kota satu kejadian.

    Meski jumlah kejadian mulai menurun, BPBD tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi. Usman menyebut, pihaknya telah berkoordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk mengantisipasi kemungkinan hujan dengan intensitas tinggi dan durasi yang cukup lama.

    Menurutnya, kondisi cuaca yang tidak menentu membuat Balikpapan harus bersiap menghadapi dua kemungkinan sekaligus, yakni hujan lebat yang berpotensi memicu banjir dan tanah longsor, serta kondisi tanpa hujan berkepanjangan yang dapat memperburuk krisis air bersih.

    “Kami mengantisipasi apabila terjadi hujan dengan durasi panjang karena berpotensi menimbulkan banjir sesaat dan tanah longsor. Namun, jika hujan tidak turun, kekurangan air bersih juga bisa berlangsung lebih lama. Ini yang perlu kami antisipasi bersama,” jelasnya.

    Pihaknya juga mengungkapkan, salah satu penyebab terjadinya Karhutla diduga berasal dari aktivitas pembakaran lahan oleh masyarakat. Salah satu kasus yang ditemukan berada di wilayah Kariangau, tepatnya di sekitar lapangan golf Balikpapan.

    Dalam kejadian tersebut, BPBD mengamankan seorang warga yang diduga melakukan pembakaran lahan.

    “Berdasarkan informasi awal, pembakaran diperkirakan berlangsung pada pukul 22.00 hingga 23.00 WITA dengan luas lahan sekitar empat sampai lima hektare,” terangnya.

    Kepala BPBD menjelaskan, warga tersebut mengaku mendapat pinjaman lahan untuk kegiatan pertanian, yakni menanam singkong. Namun lahan yang dibakar bukan merupakan miliknya.

    “Untuk yang membakar ini sudah kami serahkan ke Polsek Balikpapan Utara. Selanjutnya, koordinasi penanganan kasus tersebut dilakukan pihak kepolisian,” ungkapnya.

    Terkait penanganan Karhutla, ia memastikan kesiapan personel BPBD tetap menjadi perhatian. Ia menyebut dukungan dari Pemerintah Kota Balikpapan, khususnya Wali Kota, turut membantu operasional petugas di lapangan.

    Kata dia, meskipun kondisi anggaran daerah tengah mengalami keterbatasan, BPBD tetap menyampaikan kebutuhan anggaran yang benar-benar diperlukan untuk mendukung penanganan bencana.

    “Alhamdulillah, dengan berbagai pertimbangan, kebutuhan yang kami sampaikan bisa dipenuhi. Misalnya, ada tambahan untuk mendukung kegiatan petugas seperti konsumsi dan air minum, itu juga dibantu,” tambahnya.

    BPBD pun mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan dalam kondisi cuaca kering, serta tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan cuaca.

    Masyarakat juga diminta mengantisipasi potensi banjir, tanah longsor, maupun kekurangan air bersih. Dengan penurunan frekuensi Karhutla tersebut, BPBD berharap kondisi di Balikpapan terus membaik.

    “Namun upaya pencegahan dan kesiapsiagaan tetap diperlukan untuk mengantisipasi berbagai potensi bencana yang dapat terjadi sewaktu-waktu,” lanjutnya.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Kasus Karhutla di Balikpapan Mulai Menurun, Luas Lahan Terbakar Capai 98,2 Hektare

    Penulis:Maya Sari|Redaktur:Rusdianto
    03 November 2026 pukul 15:07 WITA

    Kepala BPBD Balikpapan, Usman Ali saat ditemu di Auditorium Balai Kota. (Foto: Mayasari/seputarfakta.com)

    Balikpapan – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kota Balikpapan mulai menunjukkan penurunan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Balikpapan mencatat, frekuensi kebakaran yang sebelumnya mencapai tiga hingga empat kejadian dalam sehari, kini berkurang menjadi satu hingga dua kejadian.

    Kepala BPBD Balikpapan, Usman Ali menyampaikan, berdasarkan data yang dihimpun, total kejadian Karhutla di Balikpapan telah mencapai 138 kasus dengan perkiraan luas lahan terbakar sekitar 98,2 hektare.

    “Untuk Karhutla, khususnya di Kota Balikpapan, saat ini sudah bisa dikatakan mulai menurun. Biasanya bisa terjadi tiga sampai empat kali, sekarang hanya satu atau dua kali,” ucap Usman kepada awak media, Selasa (3/11/2026).

    Berdasarkan sebaran wilayah, Balikpapan Timur menjadi daerah dengan jumlah kejadian Karhutla terbanyak yakni 55 kejadian. Disusul Balikpapan Selatan sebanyak 33 kejadian, Balikpapan Utara 29 kejadian, Balikpapan Tengah 11 kejadian, Balikpapan Barat sembilan kejadian, dan Balikpapan Kota satu kejadian.

    Meski jumlah kejadian mulai menurun, BPBD tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi. Usman menyebut, pihaknya telah berkoordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk mengantisipasi kemungkinan hujan dengan intensitas tinggi dan durasi yang cukup lama.

    Menurutnya, kondisi cuaca yang tidak menentu membuat Balikpapan harus bersiap menghadapi dua kemungkinan sekaligus, yakni hujan lebat yang berpotensi memicu banjir dan tanah longsor, serta kondisi tanpa hujan berkepanjangan yang dapat memperburuk krisis air bersih.

    “Kami mengantisipasi apabila terjadi hujan dengan durasi panjang karena berpotensi menimbulkan banjir sesaat dan tanah longsor. Namun, jika hujan tidak turun, kekurangan air bersih juga bisa berlangsung lebih lama. Ini yang perlu kami antisipasi bersama,” jelasnya.

    Pihaknya juga mengungkapkan, salah satu penyebab terjadinya Karhutla diduga berasal dari aktivitas pembakaran lahan oleh masyarakat. Salah satu kasus yang ditemukan berada di wilayah Kariangau, tepatnya di sekitar lapangan golf Balikpapan.

    Dalam kejadian tersebut, BPBD mengamankan seorang warga yang diduga melakukan pembakaran lahan.

    “Berdasarkan informasi awal, pembakaran diperkirakan berlangsung pada pukul 22.00 hingga 23.00 WITA dengan luas lahan sekitar empat sampai lima hektare,” terangnya.

    Kepala BPBD menjelaskan, warga tersebut mengaku mendapat pinjaman lahan untuk kegiatan pertanian, yakni menanam singkong. Namun lahan yang dibakar bukan merupakan miliknya.

    “Untuk yang membakar ini sudah kami serahkan ke Polsek Balikpapan Utara. Selanjutnya, koordinasi penanganan kasus tersebut dilakukan pihak kepolisian,” ungkapnya.

    Terkait penanganan Karhutla, ia memastikan kesiapan personel BPBD tetap menjadi perhatian. Ia menyebut dukungan dari Pemerintah Kota Balikpapan, khususnya Wali Kota, turut membantu operasional petugas di lapangan.

    Kata dia, meskipun kondisi anggaran daerah tengah mengalami keterbatasan, BPBD tetap menyampaikan kebutuhan anggaran yang benar-benar diperlukan untuk mendukung penanganan bencana.

    “Alhamdulillah, dengan berbagai pertimbangan, kebutuhan yang kami sampaikan bisa dipenuhi. Misalnya, ada tambahan untuk mendukung kegiatan petugas seperti konsumsi dan air minum, itu juga dibantu,” tambahnya.

    BPBD pun mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan dalam kondisi cuaca kering, serta tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan cuaca.

    Masyarakat juga diminta mengantisipasi potensi banjir, tanah longsor, maupun kekurangan air bersih. Dengan penurunan frekuensi Karhutla tersebut, BPBD berharap kondisi di Balikpapan terus membaik.

    “Namun upaya pencegahan dan kesiapsiagaan tetap diperlukan untuk mengantisipasi berbagai potensi bencana yang dapat terjadi sewaktu-waktu,” lanjutnya.

    (Sf/Rs)