Cari disini...
Seputar Kaltim
Ilustrasi pemeriksaan HIV. (foto: Freepik)
Sangatta - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) mencatat jumlah kasus HIV di daerah lebih dari 100 orang. Angka tersebut dinilai belum sepenuhnya menggambarkan kondisi sebenarnya.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinkes Kutim, Sumarno, mengatakan kasus HIV sering dianalogikan seperti gunung es. Data yang tercatat hanya sebagian kecil karena tidak semua orang mau melakukan pemeriksaan.
“Yang tercatat itu di atas 100 orang. Tapi itu yang terdeteksi. Yang tidak terdeteksi bisa saja lebih banyak,” ujar Sumarno.
Ia menambahkan, data HIV bersifat akumulatif, bukan per tahun. Jumlah kasus akan terus bertambah karena penderita HIV menjalani pengobatan jangka panjang dan tidak langsung berkurang.
“Ini bukan kasus yang sembuh lalu selesai. Tahun ini bertambah, tahun berikutnya bisa bertambah lagi,” tambahnya.
Menurut Sumarno, stigma dan faktor privasi masih menjadi kendala. Banyak warga enggan memeriksakan diri, bahkan penderita yang sudah positif pun sering tidak berani memberi tahu keluarga atau lingkungan sekitar.
“HIV ini sangat sensitif. Tidak semua orang mau periksa, dan itu berpengaruh ke angka yang tercatat,” katanya.
Meski demikian, fasilitas kesehatan di Kutim tersedia untuk penanganan HIV, mulai dari pemeriksaan hingga terapi. Untuk menekan potensi penambahan kasus, Dinkes juga melakukan upaya pencegahan melalui edukasi.
Sebanyak tujuh penyuluh HIV diterjunkan untuk menyasar sekolah dan kelompok berisiko, dengan fokus mencegah yang dapat meningkatkan penularan HIV, khususnya di kalangan remaja.
“Tujuannya agar generasi muda Kutim tidak terjerumus pada perilaku menyimpang seperti narkoba dan pergaulan bebas. Itulah cara memutus mata rantai HIV, karena tanpa kesadaran masyarakat, penularan akan sulit dihentikan,” pungkasnya.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Ilustrasi pemeriksaan HIV. (foto: Freepik)
Sangatta - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) mencatat jumlah kasus HIV di daerah lebih dari 100 orang. Angka tersebut dinilai belum sepenuhnya menggambarkan kondisi sebenarnya.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinkes Kutim, Sumarno, mengatakan kasus HIV sering dianalogikan seperti gunung es. Data yang tercatat hanya sebagian kecil karena tidak semua orang mau melakukan pemeriksaan.
“Yang tercatat itu di atas 100 orang. Tapi itu yang terdeteksi. Yang tidak terdeteksi bisa saja lebih banyak,” ujar Sumarno.
Ia menambahkan, data HIV bersifat akumulatif, bukan per tahun. Jumlah kasus akan terus bertambah karena penderita HIV menjalani pengobatan jangka panjang dan tidak langsung berkurang.
“Ini bukan kasus yang sembuh lalu selesai. Tahun ini bertambah, tahun berikutnya bisa bertambah lagi,” tambahnya.
Menurut Sumarno, stigma dan faktor privasi masih menjadi kendala. Banyak warga enggan memeriksakan diri, bahkan penderita yang sudah positif pun sering tidak berani memberi tahu keluarga atau lingkungan sekitar.
“HIV ini sangat sensitif. Tidak semua orang mau periksa, dan itu berpengaruh ke angka yang tercatat,” katanya.
Meski demikian, fasilitas kesehatan di Kutim tersedia untuk penanganan HIV, mulai dari pemeriksaan hingga terapi. Untuk menekan potensi penambahan kasus, Dinkes juga melakukan upaya pencegahan melalui edukasi.
Sebanyak tujuh penyuluh HIV diterjunkan untuk menyasar sekolah dan kelompok berisiko, dengan fokus mencegah yang dapat meningkatkan penularan HIV, khususnya di kalangan remaja.
“Tujuannya agar generasi muda Kutim tidak terjerumus pada perilaku menyimpang seperti narkoba dan pergaulan bebas. Itulah cara memutus mata rantai HIV, karena tanpa kesadaran masyarakat, penularan akan sulit dihentikan,” pungkasnya.
(Sf/Rs)