Cari disini...
Seputar Kaltim
Sekretaris Komisi III DPRD PPU, Sariman.(Foto : Agus Saputra/Seputarfakta.com)
Penajam - Sekretaris Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Penajam Paser Utara (PPU), Sariman menyoroti tingginya kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kecamatan Sepaku dengan 600 kasus.
Angka itu, kata dia, merupakan tertinggi kedua di Indonesia setelah Kabupaten Gianyar, Bali.
Sariman mengaku 600 kasus DBD di Sepaku didominasi oleh pekerja proyek pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN).
Lonjakan ini disebabkan tingginya curah hujan yang melanda di kawasan tersebut, serta ditemukan pula kondisi lingkungan yang kotor.
“Lingkungan yang kotor kerap dijadikan sarang bagi nyamuk untuk berkembang biak. Selain itu karena para pekerja ini beraktivitas di hutan, potensi digigit nyamuk Aedes aegypti yang membawa virus dengue lebih tinggi,” ungkap Sariman.
Ia mengaku mendukung penuh program gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) yang dicanangkan oleh Pemerintah Daerah (Pemda).
Program ini memiliki tujuan. untuk mengurangi dan membasmi populasi nyamuk dengan melakukan bersih-bersih lingkungan di 15 desa/kelurahan di Sepaku, seperti menuangkan cairan Abate yang merupakan obat pembasmi nyamuk di genangan dan selokan air, fogging atau pengasapan dan lainnya.
“Meskipun cara pengasapan dinilai kurang efektif untuk menyelesaikan masalah kasus DBD, tetapi itu setidaknya bisa meminimalisir perkembangan biakan nyamuk,” jelas Sariman.
Untuk menekan kasus DBD di Sepaku, Sariman berharap para pekerja di IKN untuk bisa melakukan pembersihan lingkungan secara rutin, paling tidak dilakukan sebulan sekali.
(Sf/By)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Sekretaris Komisi III DPRD PPU, Sariman.(Foto : Agus Saputra/Seputarfakta.com)
Penajam - Sekretaris Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Penajam Paser Utara (PPU), Sariman menyoroti tingginya kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kecamatan Sepaku dengan 600 kasus.
Angka itu, kata dia, merupakan tertinggi kedua di Indonesia setelah Kabupaten Gianyar, Bali.
Sariman mengaku 600 kasus DBD di Sepaku didominasi oleh pekerja proyek pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN).
Lonjakan ini disebabkan tingginya curah hujan yang melanda di kawasan tersebut, serta ditemukan pula kondisi lingkungan yang kotor.
“Lingkungan yang kotor kerap dijadikan sarang bagi nyamuk untuk berkembang biak. Selain itu karena para pekerja ini beraktivitas di hutan, potensi digigit nyamuk Aedes aegypti yang membawa virus dengue lebih tinggi,” ungkap Sariman.
Ia mengaku mendukung penuh program gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) yang dicanangkan oleh Pemerintah Daerah (Pemda).
Program ini memiliki tujuan. untuk mengurangi dan membasmi populasi nyamuk dengan melakukan bersih-bersih lingkungan di 15 desa/kelurahan di Sepaku, seperti menuangkan cairan Abate yang merupakan obat pembasmi nyamuk di genangan dan selokan air, fogging atau pengasapan dan lainnya.
“Meskipun cara pengasapan dinilai kurang efektif untuk menyelesaikan masalah kasus DBD, tetapi itu setidaknya bisa meminimalisir perkembangan biakan nyamuk,” jelas Sariman.
Untuk menekan kasus DBD di Sepaku, Sariman berharap para pekerja di IKN untuk bisa melakukan pembersihan lingkungan secara rutin, paling tidak dilakukan sebulan sekali.
(Sf/By)