Seputar Kaltim

    Kasus DBD di PPU Turun Drastis, Baru 100 Kasus hingga Juli

    Penulis:Cindy|Redaktur:Lodya A
    22 Juli 2026 pukul 14:26 WITA

    Fungsional Entomologi Bidang P2P Dinas Kesehatan PPU, Harjito Ponco Waluyo. (Foto: Cindy/seputarfakta.com)

    Penajam - Kasus DBD di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) terus menunjukkan tren penurunan. Hingga Juli 2026, Dinas Kesehatan (Dinkes) mencatat 100 kasus dan menargetkan jumlahnya tidak melampaui 200 kasus hingga akhir tahun.

    Angka tersebut jauh lebih rendah dibanding 2025 yang mencatat 348 kasus, termasuk dua kematian, maupun 2024 saat DBD melonjak hingga 1.484 kasus.

    Fungsional Entomologi Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes PPU, Harjito Ponco Waluyo, mengatakan tren penurunan itu dipengaruhi penguatan upaya pengendalian, terutama di wilayah endemis.

    "Secara umum kasus DBD turun. Mudah-mudahan tahun ini tidak sampai menyentuh 200 kasus," ujar Ponco, Rabu (22/7/2026).

    Sebaran kasus DBD hingga Juli didominasi Kecamatan Penajam dengan 19 kasus yang dilaporkan dari wilayah kerja Puskesmas Penajam, Petung dan Sotek. Kecamatan Babulu mencatat sembilan kasus, Sepaku delapan kasus, sedangkan Waru dua kasus.

    Selain itu, pasien juga tercatat menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit, yakni RSUD Ratu Aji Putri Botung sebanyak 32 kasus, RSUD Sepaku 27 kasus, Mayapada Hospital dua kasus dan RS Hermina satu kasus. 

    Dari total kasus, 24 di antaranya merupakan pekerja di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN). Untuk menekan penyebaran penyakit, Dinkes juga memperkuat pengendalian di kawasan IKN. Tim keselamatan kerja dan tenaga medis di setiap segmen proyek telah mendapat pelatihan mengenali jentik nyamuk, disertai penyediaan larvasida sebagai langkah pencegahan.

    "Workshop sudah dilakukan untuk tim safety dan medic di semua segmen pengerjaan di IKN, termasuk penyediaan larvasida," katanya.

    Ponco menyebut sebagian besar penderita DBD tahun ini berasal dari kelompok usia produktif, meski kasus juga ditemukan pada anak-anak.

    Ia menjelaskan musim kemarau turut memengaruhi perkembangan nyamuk Aedes aegypti karena masyarakat tidak lagi banyak menampung air hujan. Namun, tempat penampungan air bersih yang dibiarkan terbuka tetap berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya jentik nyamuk.

    "Kalau beli air lalu tempat penampungannya tidak ditutup, itu juga bisa menjadi sarang jentik," ujarnya.

    Menurut Ponco, kebiasaan warga menyimpan air di drum maupun wadah kecil tanpa penutup saat musim hujan menjadi salah satu penyebab lonjakan kasus pada 2024. Karena itu, masyarakat diminta rutin menguras dan menutup tempat penampungan air untuk mencegah perkembangbiakan nyamuk penyebab DBD.

    (Sf/Lo)

    Seputar Kaltim

    Kasus DBD di PPU Turun Drastis, Baru 100 Kasus hingga Juli

    Penulis:Cindy|Redaktur:Lodya A
    22 Juli 2026 pukul 14:26 WITA

    Fungsional Entomologi Bidang P2P Dinas Kesehatan PPU, Harjito Ponco Waluyo. (Foto: Cindy/seputarfakta.com)

    Penajam - Kasus DBD di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) terus menunjukkan tren penurunan. Hingga Juli 2026, Dinas Kesehatan (Dinkes) mencatat 100 kasus dan menargetkan jumlahnya tidak melampaui 200 kasus hingga akhir tahun.

    Angka tersebut jauh lebih rendah dibanding 2025 yang mencatat 348 kasus, termasuk dua kematian, maupun 2024 saat DBD melonjak hingga 1.484 kasus.

    Fungsional Entomologi Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes PPU, Harjito Ponco Waluyo, mengatakan tren penurunan itu dipengaruhi penguatan upaya pengendalian, terutama di wilayah endemis.

    "Secara umum kasus DBD turun. Mudah-mudahan tahun ini tidak sampai menyentuh 200 kasus," ujar Ponco, Rabu (22/7/2026).

    Sebaran kasus DBD hingga Juli didominasi Kecamatan Penajam dengan 19 kasus yang dilaporkan dari wilayah kerja Puskesmas Penajam, Petung dan Sotek. Kecamatan Babulu mencatat sembilan kasus, Sepaku delapan kasus, sedangkan Waru dua kasus.

    Selain itu, pasien juga tercatat menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit, yakni RSUD Ratu Aji Putri Botung sebanyak 32 kasus, RSUD Sepaku 27 kasus, Mayapada Hospital dua kasus dan RS Hermina satu kasus. 

    Dari total kasus, 24 di antaranya merupakan pekerja di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN). Untuk menekan penyebaran penyakit, Dinkes juga memperkuat pengendalian di kawasan IKN. Tim keselamatan kerja dan tenaga medis di setiap segmen proyek telah mendapat pelatihan mengenali jentik nyamuk, disertai penyediaan larvasida sebagai langkah pencegahan.

    "Workshop sudah dilakukan untuk tim safety dan medic di semua segmen pengerjaan di IKN, termasuk penyediaan larvasida," katanya.

    Ponco menyebut sebagian besar penderita DBD tahun ini berasal dari kelompok usia produktif, meski kasus juga ditemukan pada anak-anak.

    Ia menjelaskan musim kemarau turut memengaruhi perkembangan nyamuk Aedes aegypti karena masyarakat tidak lagi banyak menampung air hujan. Namun, tempat penampungan air bersih yang dibiarkan terbuka tetap berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya jentik nyamuk.

    "Kalau beli air lalu tempat penampungannya tidak ditutup, itu juga bisa menjadi sarang jentik," ujarnya.

    Menurut Ponco, kebiasaan warga menyimpan air di drum maupun wadah kecil tanpa penutup saat musim hujan menjadi salah satu penyebab lonjakan kasus pada 2024. Karena itu, masyarakat diminta rutin menguras dan menutup tempat penampungan air untuk mencegah perkembangbiakan nyamuk penyebab DBD.

    (Sf/Lo)