Cari disini...
Seputar Kaltim
Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan Kukar, Supriyadi (foto:M.anshori/seputarfakta.com)
Tenggarong - Kasus Demam Berdarah (DBD) di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) mengalami peningkatan di awal 2024 ini.
Data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kukar, wilayah Sebulu terdapat 88 kasus dan Sebulu satu sebanyak 38 kasus.
Kemudian Muara Kaman dan Kota Bangun Darat sebanyak 37 kasus. "Daerah itu merupakan daerah hunian DBD dan kemarin sudah kita tinjau dilapangan. pasien kebanyakan orang dewasa," kata Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinkes Kukar, Supriyadi, Rabu (31/1/2024).
Ia menyebutkan kasus DBD tertinggi terdapat di wilayah Kecamatan Sebulu, Muara Kaman dan Kota Bangun Darat. Sementara, untuk kasus paling sedikit ada di wilayah Kota Tenggarong, yakni di Rapak Mahang dengan dua Kasus saja. "Kemungkinan pada Mei sampai Juni akan naik lagi," ucapnya.
Untuk Kecamatan Sebulu, kata dia, Dinkes sudah berkoordinasi dengan camat, kepala puskesmas dan kades Untuk melakukan pemberantasan sarang nyamuk, minimal seminggu sekali secara rutin.
Ia mengimbau warga saat terkena DBD harus segera membawa ke puskesmas terdekat, jangan melakukan pengobatan sendiri.
"Rata-rata yang terkena DBD ini melakukan pengobatan sendiri, ketika panas tubuh telah turun dikira sudah sembuh, padahal saat itulah kondisi kritisnya. Dari pengalaman lalu, keterlambatan pengobatan bisa menyebabkan kematian," ungkapnya.
Supriyadi mengungkapkan, ciri-ciri DBD adalah ditandai dengan demam panas tinggi. Kemudian ada bintik merah di kulit seperti bekas gigitan nyamuk, lemah, nyeri ulu hati dan lesu.
“Kalau ada gejala seperti ini segera berobat ke rumah sakit atau pelayanan kesehatan terdekat, puskesmas. Penyakit DBD sangat berbahaya jika tidak segera ditangani," jelasnya.
Satu-satunya cara paling efektif untuk pencegahan adalah memberantas sarang nyamuk, menguras dan menutup tempat penampungan air.
Cara lain untuk menghindari gigitan nyamuk memakai racun anti nyamuk, memakai kelambu, memasang kaca ventilasi.
"Nyamuk DBD aktif pada pagi hari, kemudian sore hari, Karena pada waktu itu nyamuk DBD aktif untuk mencari makan,” tutupnya.
(Sf/By)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan Kukar, Supriyadi (foto:M.anshori/seputarfakta.com)
Tenggarong - Kasus Demam Berdarah (DBD) di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) mengalami peningkatan di awal 2024 ini.
Data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kukar, wilayah Sebulu terdapat 88 kasus dan Sebulu satu sebanyak 38 kasus.
Kemudian Muara Kaman dan Kota Bangun Darat sebanyak 37 kasus. "Daerah itu merupakan daerah hunian DBD dan kemarin sudah kita tinjau dilapangan. pasien kebanyakan orang dewasa," kata Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinkes Kukar, Supriyadi, Rabu (31/1/2024).
Ia menyebutkan kasus DBD tertinggi terdapat di wilayah Kecamatan Sebulu, Muara Kaman dan Kota Bangun Darat. Sementara, untuk kasus paling sedikit ada di wilayah Kota Tenggarong, yakni di Rapak Mahang dengan dua Kasus saja. "Kemungkinan pada Mei sampai Juni akan naik lagi," ucapnya.
Untuk Kecamatan Sebulu, kata dia, Dinkes sudah berkoordinasi dengan camat, kepala puskesmas dan kades Untuk melakukan pemberantasan sarang nyamuk, minimal seminggu sekali secara rutin.
Ia mengimbau warga saat terkena DBD harus segera membawa ke puskesmas terdekat, jangan melakukan pengobatan sendiri.
"Rata-rata yang terkena DBD ini melakukan pengobatan sendiri, ketika panas tubuh telah turun dikira sudah sembuh, padahal saat itulah kondisi kritisnya. Dari pengalaman lalu, keterlambatan pengobatan bisa menyebabkan kematian," ungkapnya.
Supriyadi mengungkapkan, ciri-ciri DBD adalah ditandai dengan demam panas tinggi. Kemudian ada bintik merah di kulit seperti bekas gigitan nyamuk, lemah, nyeri ulu hati dan lesu.
“Kalau ada gejala seperti ini segera berobat ke rumah sakit atau pelayanan kesehatan terdekat, puskesmas. Penyakit DBD sangat berbahaya jika tidak segera ditangani," jelasnya.
Satu-satunya cara paling efektif untuk pencegahan adalah memberantas sarang nyamuk, menguras dan menutup tempat penampungan air.
Cara lain untuk menghindari gigitan nyamuk memakai racun anti nyamuk, memakai kelambu, memasang kaca ventilasi.
"Nyamuk DBD aktif pada pagi hari, kemudian sore hari, Karena pada waktu itu nyamuk DBD aktif untuk mencari makan,” tutupnya.
(Sf/By)