Seputar Kaltim

    Kasus Anak Bermasalah Hukum di Balikpapan Menurun, Dinsos Ajak Orang Tua Lebih Peduli

    Penulis:Maya Sari|Redaktur:Rusdianto
    04 Januari 2026 pukul 17:09 WITA

    Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kota Balikpapan, Edy Gunawan. (Foto: Maya Sari/Seputarfakta.com)

    Balikpapan – Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kota Balikpapan, Edy Gunawan, mengungkapkan bahwa jumlah anak yang berhadapan dengan hukum di Balikpapan mengalami penurunan dibandingkan tahun 2024.

    Hingga pertengahan 2025, tercatat sekitar 200 anak terlibat dalam berbagai kasus.

    “Jumlah ini hanya yang terlapor, belum termasuk yang tidak dilaporkan,” kata Edy saat diwawancarai awak media, Kamis (10/7/2025).

    Ia menegaskan pentingnya peran orang tua dalam membimbing anak-anak mereka, terutama dalam memperkuat pendidikan agama dan membangun lingkungan keluarga yang positif. Menurutnya, pola asuh dan lingkungan sangat berpengaruh terhadap perilaku anak.

    “Ini tanggung jawab kita bersama, agar anak-anak tidak terjerumus dalam masalah kriminal atau sosial,” ujarnya.

    Edy juga menyebutkan bahwa kasus anak yang bermasalah hukum tersebar merata di semua wilayah Balikpapan, termasuk di Balikpapan Barat yang cukup banyak ditemukan anak-anak terlibat penyalahgunaan lem dan kurang mendapat pendidikan yang layak.

    “Dari semua kasus yang masuk, yang paling banyak adalah kasus asusila. Baik itu terjadi di lingkungan keluarga maupun sekitar tempat tinggal,” jelasnya.

    Untuk mencegah hal ini terus terjadi, Dinsos aktif melakukan sosialisasi hingga ke tingkat kelurahan, dengan melibatkan berbagai pihak. Edy menegaskan, anak adalah aset bangsa yang harus dijaga dan dipersiapkan untuk masa depan.

    “Anak-anak ini calon penerus bangsa. Mereka harus di depan didik agar bisa bersaing dan tumbuh menjadi generasi unggul,” tambahnya.

    Sebagai upaya pencegahan, Dinsos terus mengingatkan masyarakat tentang pentingnya menjaga dan membina anak sejak dini. Dalam berbagai kesempatan pertemuan warga, pihaknya selalu menekankan pentingnya pendidikan karakter, iman, dan proteksi anak dari pengaruh buruk.

    Jika ada anak yang terlanjur terlibat masalah hukum, Dinsos juga telah menyiapkan pendampingan khusus.

    “Kami siapkan psikolog untuk membantu pemulihan mental anak. Kami juga melakukan asesmen untuk menentukan langkah selanjutnya, apakah anak bisa kembali sekolah, dilatih keterampilan, atau diarahkan ke pendidikan khusus,” terangnya.

    Ia menjelaskan, jika memang dibutuhkan, anak-anak tersebut akan dikirim ke sekolah khusus di Samarinda. Baru-baru ini, beberapa anak yang terlibat kasus dan juga anak jalanan telah diberangkatkan ke sana untuk melanjutkan pendidikan.

    “Kami ingin mereka tetap punya masa depan. Mungkin bukan di jalur biasa, tapi tetap ada harapan dan jalan untuk berubah,” tutupnya.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Kasus Anak Bermasalah Hukum di Balikpapan Menurun, Dinsos Ajak Orang Tua Lebih Peduli

    Penulis:Maya Sari|Redaktur:Rusdianto
    04 Januari 2026 pukul 17:09 WITA

    Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kota Balikpapan, Edy Gunawan. (Foto: Maya Sari/Seputarfakta.com)

    Balikpapan – Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kota Balikpapan, Edy Gunawan, mengungkapkan bahwa jumlah anak yang berhadapan dengan hukum di Balikpapan mengalami penurunan dibandingkan tahun 2024.

    Hingga pertengahan 2025, tercatat sekitar 200 anak terlibat dalam berbagai kasus.

    “Jumlah ini hanya yang terlapor, belum termasuk yang tidak dilaporkan,” kata Edy saat diwawancarai awak media, Kamis (10/7/2025).

    Ia menegaskan pentingnya peran orang tua dalam membimbing anak-anak mereka, terutama dalam memperkuat pendidikan agama dan membangun lingkungan keluarga yang positif. Menurutnya, pola asuh dan lingkungan sangat berpengaruh terhadap perilaku anak.

    “Ini tanggung jawab kita bersama, agar anak-anak tidak terjerumus dalam masalah kriminal atau sosial,” ujarnya.

    Edy juga menyebutkan bahwa kasus anak yang bermasalah hukum tersebar merata di semua wilayah Balikpapan, termasuk di Balikpapan Barat yang cukup banyak ditemukan anak-anak terlibat penyalahgunaan lem dan kurang mendapat pendidikan yang layak.

    “Dari semua kasus yang masuk, yang paling banyak adalah kasus asusila. Baik itu terjadi di lingkungan keluarga maupun sekitar tempat tinggal,” jelasnya.

    Untuk mencegah hal ini terus terjadi, Dinsos aktif melakukan sosialisasi hingga ke tingkat kelurahan, dengan melibatkan berbagai pihak. Edy menegaskan, anak adalah aset bangsa yang harus dijaga dan dipersiapkan untuk masa depan.

    “Anak-anak ini calon penerus bangsa. Mereka harus di depan didik agar bisa bersaing dan tumbuh menjadi generasi unggul,” tambahnya.

    Sebagai upaya pencegahan, Dinsos terus mengingatkan masyarakat tentang pentingnya menjaga dan membina anak sejak dini. Dalam berbagai kesempatan pertemuan warga, pihaknya selalu menekankan pentingnya pendidikan karakter, iman, dan proteksi anak dari pengaruh buruk.

    Jika ada anak yang terlanjur terlibat masalah hukum, Dinsos juga telah menyiapkan pendampingan khusus.

    “Kami siapkan psikolog untuk membantu pemulihan mental anak. Kami juga melakukan asesmen untuk menentukan langkah selanjutnya, apakah anak bisa kembali sekolah, dilatih keterampilan, atau diarahkan ke pendidikan khusus,” terangnya.

    Ia menjelaskan, jika memang dibutuhkan, anak-anak tersebut akan dikirim ke sekolah khusus di Samarinda. Baru-baru ini, beberapa anak yang terlibat kasus dan juga anak jalanan telah diberangkatkan ke sana untuk melanjutkan pendidikan.

    “Kami ingin mereka tetap punya masa depan. Mungkin bukan di jalur biasa, tapi tetap ada harapan dan jalan untuk berubah,” tutupnya.

    (Sf/Rs)