Seputar Kaltim

    Kasus AIDS di Kutim Capai 168 Orang, Mahyunadi: Ini mengkhawatirkan

    Penulis:Lisda|Redaktur:Rusdianto
    12 September 2026 pukul 13:17 WITA

    Wakil Bupati Kutim, Mahyunadi (Foto: Lisda/seputarfakta.com)

    Sangatta – Kasus AIDS yang terdata di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) mencapai 168 orang. Wakil Bupati Kutim, Mahyunadi menyebut kondisi tersebut mengkhawatirkan dan meminta pencegahan dilakukan sejak dini.

    ‎Mahyunadi mengatakan angka tersebut merupakan kasus yang sudah masuk dalam data. Ia menyebut masih ada kemungkinan terdapat kasus lain yang belum tercatat.

    ‎“Itu yang terdata. Belum masuk yang kemarin didatangi THM di pinggir jalan. Ada dua orang lagi,” ujar Mahyunadi.

    ‎Menurutnya, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena pencegahan tidak seharusnya dilakukan setelah persoalan muncul. Upaya untuk mengurangi risiko perlu dimulai sejak dini melalui pembinaan dan perhatian terhadap lingkungan sosial masyarakat.

    ‎“Ini mengkhawatirkan. Kita yang punya kesempatan untuk memperbaiki, punya kesempatan dan punya wewenang serta punya kekuasaan untuk memperbaiki, itu kita perbaiki,” katanya.

    ‎Mahyunadi mengatakan upaya pencegahan juga perlu menyentuh perilaku dan lingkungan sosial. Ia menilai pembinaan sejak awal dapat menjadi salah satu bagian dalam mencegah persoalan berkembang lebih jauh.

    ‎“Kalau kita bisa mencegah hari ini, kita cegah,” pungkasnya.

    ‎(Sf/Lo)

    Seputar Kaltim

    Kasus AIDS di Kutim Capai 168 Orang, Mahyunadi: Ini mengkhawatirkan

    Penulis:Lisda|Redaktur:Rusdianto
    12 September 2026 pukul 13:17 WITA

    Wakil Bupati Kutim, Mahyunadi (Foto: Lisda/seputarfakta.com)

    Sangatta – Kasus AIDS yang terdata di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) mencapai 168 orang. Wakil Bupati Kutim, Mahyunadi menyebut kondisi tersebut mengkhawatirkan dan meminta pencegahan dilakukan sejak dini.

    ‎Mahyunadi mengatakan angka tersebut merupakan kasus yang sudah masuk dalam data. Ia menyebut masih ada kemungkinan terdapat kasus lain yang belum tercatat.

    ‎“Itu yang terdata. Belum masuk yang kemarin didatangi THM di pinggir jalan. Ada dua orang lagi,” ujar Mahyunadi.

    ‎Menurutnya, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena pencegahan tidak seharusnya dilakukan setelah persoalan muncul. Upaya untuk mengurangi risiko perlu dimulai sejak dini melalui pembinaan dan perhatian terhadap lingkungan sosial masyarakat.

    ‎“Ini mengkhawatirkan. Kita yang punya kesempatan untuk memperbaiki, punya kesempatan dan punya wewenang serta punya kekuasaan untuk memperbaiki, itu kita perbaiki,” katanya.

    ‎Mahyunadi mengatakan upaya pencegahan juga perlu menyentuh perilaku dan lingkungan sosial. Ia menilai pembinaan sejak awal dapat menjadi salah satu bagian dalam mencegah persoalan berkembang lebih jauh.

    ‎“Kalau kita bisa mencegah hari ini, kita cegah,” pungkasnya.

    ‎(Sf/Lo)