Seputar Kaltim

    Kartini Masa Kini, Rinda Wahyuni, Perempuan di Balik Dapur dan Deretan Tugas Kota

    Penulis:Tria|Redaktur:Rusdianto
    21 April 2025 pukul 10:01 WITA

    Ketua TP PKK Kota Samarinda, Rinda Wahyuni saat ditemui di Rumah Jabatan Wali Kota, Minggu (20/4/2025). (Foto: Tria/Seputarfakta.com)

    Samarinda – Setiap 21 April, bangsa Indonesia mengenang sosok Raden Ajeng (R.A.) Kartini. Bukan sekadar nama dalam sejarah, Kartini merupakan simbol perjuangan dan harapan bagi banyak perempuan untuk terus melangkah maju, tanpa melupakan kodratnya sebagai perempuan. 

    Kini, puluhan tahun setelah Kartini berpulang, semangatnya tetap hidup, bahkan dalam dapur seorang istri Wali Kota Samarinda.

    Di balik aktivitas kota yang terus bergerak, ada sosok Rinda Wahyuni. Ia bukan hanya istri dari Wali Kota Samarinda, Andi Harun. Ia juga merupakan seorang ibu rumah tangga, ibu dari tiga anak, pengurus berbagai organisasi perempuan, sekaligus perempuan yang tak pernah lupa menyenangkan perut keluarganya. Seperti menyiapkan bekal pagi untuk keluarga misalnya. 

    “Saya tidak pernah keluar rumah sebelum memastikan suami dan anak-anak saya kenyang,” ucap Rinda, saat ditemui di Rumah Jabatan Wali Kota pada Minggu (20/4/2025) siang.

    Bagi sebagian orang, menjadi istri pejabat publik berarti menjalani kehidupan yang sibuk dan penuh sorotan. Namun bagi Rinda, peran sebagai istri dan ibu tetap menjadi prioritas utama. 

    Setiap hari, lanjutnya, sebelum matahari terbit, ia sudah menyingsingkan lengan baju, menyiapkan sarapan, bekal, dan memastikan kehangatan keluarga tetap terjaga.

    “Kalau sehari saja tidak makan masakan saya, pasti mereka merasa ada yang kurang,” ujarnya sambil tersenyum. 

    Sosok yang baru saja menerima Anugerah Puspa Cita ini menyebut, inspirasi terbesarnya adalah sang ibu, perempuan sederhana yang mengajarkannya arti ketulusan dan keteguhan. 

    “Ibu saya adalah inspirasi saya. Dari beliau, saya belajar bahwa perempuan itu harus mandiri, berani, dan tidak egois.”

    Baginya, perempuan tak perlu membuktikan diri dengan menyaingi siapa pun. Justru, menjaga keharmonisan rumah tangga adalah bagian dari kekuatan perempuan yang tak banyak disadari.

    “Kita harus bersyukur. Jangan sampai merasa lebih dari suami, lalu merendahkan imam kita. Karena bagaimanapun, kodrat perempuan tetap mulia di posisinya,” tutur Rinda.

    Dalam kesederhanaannya, Rinda Wahyuni menunjukkan bahwa menjadi perempuan hebat tak selalu harus lewat podium atau panggung besar. 

    Kadang, menurutnya kekuatan itu justru terletak di dapur yang menyala sejak pukul empat pagi, demi memastikan rumah tetap hangat dan hati tetap tenang.

    Rinda bukan hanya Bunda PAUD Kota Samarinda. Ia juga Ketua TP PKK, aktif di Dekranasda, dan sering terlibat dalam program-program pemberdayaan perempuan. Namun di tengah semua itu, ia selalu punya ruang untuk keluarganya. 

    "Kita harus syukuri apa yang diberikan suami, jangan ego jangan sampai merasa lebih sukses dari suami lalu anggap rendah imam kita. Karena biar bagaimana pun, kita tidak boleh melupakan kodrat kita,” pungkasnya.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Kartini Masa Kini, Rinda Wahyuni, Perempuan di Balik Dapur dan Deretan Tugas Kota

    Penulis:Tria|Redaktur:Rusdianto
    21 April 2025 pukul 10:01 WITA

    Ketua TP PKK Kota Samarinda, Rinda Wahyuni saat ditemui di Rumah Jabatan Wali Kota, Minggu (20/4/2025). (Foto: Tria/Seputarfakta.com)

    Samarinda – Setiap 21 April, bangsa Indonesia mengenang sosok Raden Ajeng (R.A.) Kartini. Bukan sekadar nama dalam sejarah, Kartini merupakan simbol perjuangan dan harapan bagi banyak perempuan untuk terus melangkah maju, tanpa melupakan kodratnya sebagai perempuan. 

    Kini, puluhan tahun setelah Kartini berpulang, semangatnya tetap hidup, bahkan dalam dapur seorang istri Wali Kota Samarinda.

    Di balik aktivitas kota yang terus bergerak, ada sosok Rinda Wahyuni. Ia bukan hanya istri dari Wali Kota Samarinda, Andi Harun. Ia juga merupakan seorang ibu rumah tangga, ibu dari tiga anak, pengurus berbagai organisasi perempuan, sekaligus perempuan yang tak pernah lupa menyenangkan perut keluarganya. Seperti menyiapkan bekal pagi untuk keluarga misalnya. 

    “Saya tidak pernah keluar rumah sebelum memastikan suami dan anak-anak saya kenyang,” ucap Rinda, saat ditemui di Rumah Jabatan Wali Kota pada Minggu (20/4/2025) siang.

    Bagi sebagian orang, menjadi istri pejabat publik berarti menjalani kehidupan yang sibuk dan penuh sorotan. Namun bagi Rinda, peran sebagai istri dan ibu tetap menjadi prioritas utama. 

    Setiap hari, lanjutnya, sebelum matahari terbit, ia sudah menyingsingkan lengan baju, menyiapkan sarapan, bekal, dan memastikan kehangatan keluarga tetap terjaga.

    “Kalau sehari saja tidak makan masakan saya, pasti mereka merasa ada yang kurang,” ujarnya sambil tersenyum. 

    Sosok yang baru saja menerima Anugerah Puspa Cita ini menyebut, inspirasi terbesarnya adalah sang ibu, perempuan sederhana yang mengajarkannya arti ketulusan dan keteguhan. 

    “Ibu saya adalah inspirasi saya. Dari beliau, saya belajar bahwa perempuan itu harus mandiri, berani, dan tidak egois.”

    Baginya, perempuan tak perlu membuktikan diri dengan menyaingi siapa pun. Justru, menjaga keharmonisan rumah tangga adalah bagian dari kekuatan perempuan yang tak banyak disadari.

    “Kita harus bersyukur. Jangan sampai merasa lebih dari suami, lalu merendahkan imam kita. Karena bagaimanapun, kodrat perempuan tetap mulia di posisinya,” tutur Rinda.

    Dalam kesederhanaannya, Rinda Wahyuni menunjukkan bahwa menjadi perempuan hebat tak selalu harus lewat podium atau panggung besar. 

    Kadang, menurutnya kekuatan itu justru terletak di dapur yang menyala sejak pukul empat pagi, demi memastikan rumah tetap hangat dan hati tetap tenang.

    Rinda bukan hanya Bunda PAUD Kota Samarinda. Ia juga Ketua TP PKK, aktif di Dekranasda, dan sering terlibat dalam program-program pemberdayaan perempuan. Namun di tengah semua itu, ia selalu punya ruang untuk keluarganya. 

    "Kita harus syukuri apa yang diberikan suami, jangan ego jangan sampai merasa lebih sukses dari suami lalu anggap rendah imam kita. Karena biar bagaimana pun, kita tidak boleh melupakan kodrat kita,” pungkasnya.

    (Sf/Rs)