Seputar Kaltim

    Karhutla Terjadi di Bengalon Kutim, 10 Hektare Lahan di Sepaso Barat Dilalap Api

    Penulis:Lisda|Redaktur:Rusdianto
    04 Agustus 2025 pukul 13:52 WITA

    03 Desa Sepaso Barat, Kecamatan Bengalon, Minggu malam (3/8/2025). Api diduga berasal dari sisa kebakaran sebelumnya dan baru berhasil dipadamkan sekitar pukul 22.00 WITA. (Foto: Dok. BPBD Kutim)

    Kutai Timur - Kebakaran lahan kembali terjadi di Kecamatan Bengalon, Kabupaten Kutai Timur (Kutim). Kali ini, titik api muncul di wilayah RT 15 dan RT 03 Desa Sepaso Barat pada Minggu (3/8/2025) sore, menghanguskan lahan seluas kurang lebih 10 hektare.

    Peristiwa bermula pada pukul 15.00 WITA, saat warga melaporkan adanya kepulan asap dari lahan kosong di RT 15. Tim relawan Karhutla Bengalon bersama Damkar, BPBD Kutim, TNI, Polsek Bengalon, Kecamatan Bengalon, Satuan Polisi Pamong Praja dan masyarakat sekitar segera bergerak ke lokasi untuk melakukan pemadaman.

    Pemadaman api pertama selesai sekitar pukul 16.00 WITA. Namun, tak berselang lama, api kembali muncul di wilayah RT 03. Kobaran api diduga berasal dari sisa kebakaran sebelumnya yang merambat ke lahan lain. Proses pemadaman berlangsung hingga malam hari, dan api baru bisa dipadamkan sekitar pukul 22.00 WITA.

    Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kutim, Muhammad Naim, menyampaikan bahwa lokasi kebakaran cukup jauh dari permukiman warga sehingga tidak menimbulkan risiko langsung terhadap keselamatan masyarakat.

    "Lahan yang terbakar ini belum diketahui pasti, apakah lahan kosong atau sudah digarap. Tapi tadi malam saya sempat komunikasi dengan camat, informasinya itu memang lahan gambut,” ujar Naim saat dikonfirmasi, Senin (4/8/2025).

    Sejumlah peralatan pemadam sederhana digunakan dalam upaya tersebut, antara lain satu unit alkon apung, tiga selang, dua pompa gendong, ember, serta kayu untuk membuat jalur sekat api. Medan yang kering dan angin kencang sempat menyulitkan tim gabungan di lapangan.

    Naim juga menambahkan bahwa wilayah Kutim saat ini memasuki masa musim kemarau, sesuai laporan dari BMKG. Hal ini meningkatkan potensi terjadinya karhutla, khususnya di kawasan rawan seperti lahan gambut dan semak belukar.

    "Kalau berdasarkan informasi dari BMKG, kita memang masuk musim kemarau. Harapannya, musim kemarau ini tidak berlangsung sepanjang bulan ini dan semoga segera turun hujan," tambahnya.

    Sebagai langkah antisipatif, BPBD Kutim telah mengeluarkan surat imbauan kepada seluruh kecamatan sejak 29 Juli lalu. Masyarakat maupun pelaku usaha pertanian diminta untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar.

    "Jika ingin membuka lahan untuk cocok tanam, sebaiknya berkoordinasi dengan pihak desa dan kecamatan agar bisa diawasi dan didampingi," tegasnya.

    Meski sejumlah kecamatan sudah mulai diguyur hujan, intensitasnya masih belum signifikan. BPBD memantau potensi hujan lebat pada 4–6 Agustus di beberapa wilayah seperti Karangan, Muara Bengkal, dan Batu Ampar.

    BPBD Kutim mengajak masyarakat untuk tetap waspada selama musim kemarau berlangsung.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Karhutla Terjadi di Bengalon Kutim, 10 Hektare Lahan di Sepaso Barat Dilalap Api

    Penulis:Lisda|Redaktur:Rusdianto
    04 Agustus 2025 pukul 13:52 WITA

    03 Desa Sepaso Barat, Kecamatan Bengalon, Minggu malam (3/8/2025). Api diduga berasal dari sisa kebakaran sebelumnya dan baru berhasil dipadamkan sekitar pukul 22.00 WITA. (Foto: Dok. BPBD Kutim)

    Kutai Timur - Kebakaran lahan kembali terjadi di Kecamatan Bengalon, Kabupaten Kutai Timur (Kutim). Kali ini, titik api muncul di wilayah RT 15 dan RT 03 Desa Sepaso Barat pada Minggu (3/8/2025) sore, menghanguskan lahan seluas kurang lebih 10 hektare.

    Peristiwa bermula pada pukul 15.00 WITA, saat warga melaporkan adanya kepulan asap dari lahan kosong di RT 15. Tim relawan Karhutla Bengalon bersama Damkar, BPBD Kutim, TNI, Polsek Bengalon, Kecamatan Bengalon, Satuan Polisi Pamong Praja dan masyarakat sekitar segera bergerak ke lokasi untuk melakukan pemadaman.

    Pemadaman api pertama selesai sekitar pukul 16.00 WITA. Namun, tak berselang lama, api kembali muncul di wilayah RT 03. Kobaran api diduga berasal dari sisa kebakaran sebelumnya yang merambat ke lahan lain. Proses pemadaman berlangsung hingga malam hari, dan api baru bisa dipadamkan sekitar pukul 22.00 WITA.

    Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kutim, Muhammad Naim, menyampaikan bahwa lokasi kebakaran cukup jauh dari permukiman warga sehingga tidak menimbulkan risiko langsung terhadap keselamatan masyarakat.

    "Lahan yang terbakar ini belum diketahui pasti, apakah lahan kosong atau sudah digarap. Tapi tadi malam saya sempat komunikasi dengan camat, informasinya itu memang lahan gambut,” ujar Naim saat dikonfirmasi, Senin (4/8/2025).

    Sejumlah peralatan pemadam sederhana digunakan dalam upaya tersebut, antara lain satu unit alkon apung, tiga selang, dua pompa gendong, ember, serta kayu untuk membuat jalur sekat api. Medan yang kering dan angin kencang sempat menyulitkan tim gabungan di lapangan.

    Naim juga menambahkan bahwa wilayah Kutim saat ini memasuki masa musim kemarau, sesuai laporan dari BMKG. Hal ini meningkatkan potensi terjadinya karhutla, khususnya di kawasan rawan seperti lahan gambut dan semak belukar.

    "Kalau berdasarkan informasi dari BMKG, kita memang masuk musim kemarau. Harapannya, musim kemarau ini tidak berlangsung sepanjang bulan ini dan semoga segera turun hujan," tambahnya.

    Sebagai langkah antisipatif, BPBD Kutim telah mengeluarkan surat imbauan kepada seluruh kecamatan sejak 29 Juli lalu. Masyarakat maupun pelaku usaha pertanian diminta untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar.

    "Jika ingin membuka lahan untuk cocok tanam, sebaiknya berkoordinasi dengan pihak desa dan kecamatan agar bisa diawasi dan didampingi," tegasnya.

    Meski sejumlah kecamatan sudah mulai diguyur hujan, intensitasnya masih belum signifikan. BPBD memantau potensi hujan lebat pada 4–6 Agustus di beberapa wilayah seperti Karangan, Muara Bengkal, dan Batu Ampar.

    BPBD Kutim mengajak masyarakat untuk tetap waspada selama musim kemarau berlangsung.

    (Sf/Rs)