Cari disini...
Seputar Kaltim
Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kelurahan Gunung Steleng, Kabupaten PPU. (Dok. BPBD PPU)
Penajam - Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) melonjak memasuki Juli hingga pertengahan Agustus 2026. Dalam periode sekitar satu setengah bulan, tercatat 29 kejadian atau lebih dari tiga perempat total karhutla sepanjang tahun ini.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) PPU, Nurlaila, mengatakan hingga 14 Agustus tercatat 38 kejadian karhutla dengan total luas lahan terbakar mencapai 26,7 hektare.
Dari jumlah tersebut, 16 kejadian berlangsung pada Juli dan 13 kejadian lainnya tercatat hingga 14 Agustus. Sementara Januari hingga Juni terdapat sembilan kejadian.
Lonjakan itu jauh berbeda dibanding kondisi tahun sebelumnya. Pada 2025, BPBD PPU hanya mencatat enam penanganan dengan luasan area terbakar 8,51 hektare.
"Terjadi peningkatan kebakaran hutan dan lahan di Juli-Agustus itu cukup signifikan," kata Nurlaila, diwawancarai Jumat (14/8/2026).
Lonjakan kejadian itu sejalan dengan meningkatnya titik panas yang terpantau pada periode yang sama. Kondisi kering juga mulai menimbulkan dampak lain yang lebih dekat dengan kebutuhan warga, yakni menyusutnya sumber air.
Nurlaila mengatakan sejumlah sumber air baku PDAM mulai menipis bahkan mengering karena sebagian kolam penampungan mengandalkan air hujan. Sumur warga di sejumlah wilayah juga mulai kehilangan pasokan.
Bahkan, terdapat warga di desa dan kelurahan yang tidak lagi mendapat pasokan air PDAM dan hanya mengandalkan sungai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
"Laporan permintaan warga terkait bantuan air bersih juga sudah kami terima," ujarnya.
Panjangnya periode tanpa hujan membuat debit sungai ikut menyusut. Di saat yang sama, kebutuhan air bersih justru meningkat ketika sumber pasokan semakin terbatas.
Dari sebaran kejadian karhutla, Kecamatan Penajam menjadi wilayah dengan kasus terbanyak, yakni 28 kejadian dengan luas lahan terbakar 20,9 hektare. Disusul Babulu tujuh kejadian seluas 3,3 hektare, Waru satu kejadian seluas 1,5 hektare, dan Sepaku dua kejadian dengan luas 0,26 hektare.
Lahan yang terbakar umumnya berupa gambut dan semak belukar. Sebagian lainnya merupakan lahan mineral yang ditumbuhi semak dan pepohonan, termasuk area sabut kelapa.
Penyebab kebakaran di antaranya aktivitas pembakaran yang kemudian merembet ke lahan kering.
Fokus BPBD tidak lagi hanya sebatas pemadaman, tetapi juga menekan potensi meluasnya dampak kekeringan. Terlebih, ancaman lain juga mulai muncul dari sektor pertanian.
Saat ini, pemerintah Kabupaten PPU berada dalam status siaga darurat bencana hidrometeorologi. Status tersebut memberi ruang bagi BPBD untuk menggerakkan personel, peralatan dan logistik lintas sektor ketika dibutuhkan.
"Dari prediksi BMKG, puncak kondisi kering diperkirakan berlangsung Agustus-September, bahkan bisa berlanjut hingga awal 2027. Tugas kita bagaimana caranya benar-benar mampu meminimalisir sebaran karhutla dan menekan potensi kejadian maupun dampaknya," kata dia.
BPBD bersama unsur terkait kini memetakan wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan dan membutuhkan dukungan air bersih, sembari memperkuat pencegahan serta kesiapsiagaan menghadapi karhutla.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kelurahan Gunung Steleng, Kabupaten PPU. (Dok. BPBD PPU)
Penajam - Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) melonjak memasuki Juli hingga pertengahan Agustus 2026. Dalam periode sekitar satu setengah bulan, tercatat 29 kejadian atau lebih dari tiga perempat total karhutla sepanjang tahun ini.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) PPU, Nurlaila, mengatakan hingga 14 Agustus tercatat 38 kejadian karhutla dengan total luas lahan terbakar mencapai 26,7 hektare.
Dari jumlah tersebut, 16 kejadian berlangsung pada Juli dan 13 kejadian lainnya tercatat hingga 14 Agustus. Sementara Januari hingga Juni terdapat sembilan kejadian.
Lonjakan itu jauh berbeda dibanding kondisi tahun sebelumnya. Pada 2025, BPBD PPU hanya mencatat enam penanganan dengan luasan area terbakar 8,51 hektare.
"Terjadi peningkatan kebakaran hutan dan lahan di Juli-Agustus itu cukup signifikan," kata Nurlaila, diwawancarai Jumat (14/8/2026).
Lonjakan kejadian itu sejalan dengan meningkatnya titik panas yang terpantau pada periode yang sama. Kondisi kering juga mulai menimbulkan dampak lain yang lebih dekat dengan kebutuhan warga, yakni menyusutnya sumber air.
Nurlaila mengatakan sejumlah sumber air baku PDAM mulai menipis bahkan mengering karena sebagian kolam penampungan mengandalkan air hujan. Sumur warga di sejumlah wilayah juga mulai kehilangan pasokan.
Bahkan, terdapat warga di desa dan kelurahan yang tidak lagi mendapat pasokan air PDAM dan hanya mengandalkan sungai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
"Laporan permintaan warga terkait bantuan air bersih juga sudah kami terima," ujarnya.
Panjangnya periode tanpa hujan membuat debit sungai ikut menyusut. Di saat yang sama, kebutuhan air bersih justru meningkat ketika sumber pasokan semakin terbatas.
Dari sebaran kejadian karhutla, Kecamatan Penajam menjadi wilayah dengan kasus terbanyak, yakni 28 kejadian dengan luas lahan terbakar 20,9 hektare. Disusul Babulu tujuh kejadian seluas 3,3 hektare, Waru satu kejadian seluas 1,5 hektare, dan Sepaku dua kejadian dengan luas 0,26 hektare.
Lahan yang terbakar umumnya berupa gambut dan semak belukar. Sebagian lainnya merupakan lahan mineral yang ditumbuhi semak dan pepohonan, termasuk area sabut kelapa.
Penyebab kebakaran di antaranya aktivitas pembakaran yang kemudian merembet ke lahan kering.
Fokus BPBD tidak lagi hanya sebatas pemadaman, tetapi juga menekan potensi meluasnya dampak kekeringan. Terlebih, ancaman lain juga mulai muncul dari sektor pertanian.
Saat ini, pemerintah Kabupaten PPU berada dalam status siaga darurat bencana hidrometeorologi. Status tersebut memberi ruang bagi BPBD untuk menggerakkan personel, peralatan dan logistik lintas sektor ketika dibutuhkan.
"Dari prediksi BMKG, puncak kondisi kering diperkirakan berlangsung Agustus-September, bahkan bisa berlanjut hingga awal 2027. Tugas kita bagaimana caranya benar-benar mampu meminimalisir sebaran karhutla dan menekan potensi kejadian maupun dampaknya," kata dia.
BPBD bersama unsur terkait kini memetakan wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan dan membutuhkan dukungan air bersih, sembari memperkuat pencegahan serta kesiapsiagaan menghadapi karhutla.
(Sf/Rs)