Seputar Kaltim

    Karhutla Marak Terjadi, Dinkes Kukar Imbau Warga Gunakan Masker untuk Hindari Gangguan Pernapasan

    Penulis:Agus Saputra|Redaktur:Lodya A
    12 Agustus 2026 pukul 20:58 WITA

    Ilustrasi orang mengenakan masker (Dok: Freepik)

    Tenggarong - Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) kini mulai sering terjadi di sejumlah wilayah Kutai Kartanegara (Kukar) dan perlahan berdampak terhadap kondisi udara.

    Munculnya kabut asap dan debu akibat insiden Karhutla mendorong masyarakat untuk lebih memperhatikan kesehatan, terutama saat beraktivitas di luar rumah.

    Plt Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit serta Penyehatan Lingkungan (P3PL) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kukar, Budy Setiawan mengimbau masyarakat menggunakan masker saat beraktivitas di luar untuk mengurangi paparan asap dan debu yang berpotensi mengganggu kesehatan.

    Menurutnya, penggunaan masker sangat penting, terutama bagi anak-anak yang masih harus beraktivitas di luar rumah untuk mengikuti kegiatan sekolah.

    “Untuk masyarakat, terutama untuk anak-anak sekolah yang memang wajib keluar dari rumah, itu usahakan pakai masker. Kemudian pakai jaket ataupun topi untuk melindungi dari serangan panas,” ujar Budy, Rabu (12/8/2026).

    “Kalau masalah tentang berbahaya atau tidaknya udara, mungkin domainnya berada di Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) yang menentukan bahaya atau tidaknya,” tambahnya.

    Namun jika dilihat dari sisi kesehatan, semakin tingginya paparan asap yang terhirup masyarakat berpotensi menimbulkan gangguan pada saluran pernapasan, terlebih apabila terjadi dalam waktu yang cukup lama.

    Beberapa keluhan yang dapat muncul yaitu batuk-batuk, sulit menelan hingga radang tenggorokan. “Tapi kalau dari segi kesehatan, ya semakin banyak asap tentu akan berpotensi untuk menyebabkan penyakit infeksi saluran pernapasan atas, seperti batuk, susah menelan, radang tenggorokan dan sebagainya,” jelas Budy.

    Ia menyebut kondisi kering di Kukar telah berlangsung selama lebih dari sepekan tanpa hujan. Bahkan, berdasarkan perkiraannya, sejumlah wilayah telah mengalami kondisi tersebut selama sekitar 10 hari. Kondisi itu juga ditandai dengan meningkatnya debu serta mulai munculnya kabut asap di sejumlah wilayah.

    “Sebenarnya sudah wajib menggunakan masker karena kondisinya sudah berhari-hari, mungkin sudah seminggu lebih atau malah 10 hari ke atas kayaknya belum ada hujan. Kemudian mulai berdebu, ada kabut juga,” ungkapnya.

    Atas kondisi tersebut, Dinkes Kukar kembali mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan perlindungan diri selama cuaca panas, kering serta kabut asap masih terjadi.

    (Sf/Lo)

    Seputar Kaltim

    Karhutla Marak Terjadi, Dinkes Kukar Imbau Warga Gunakan Masker untuk Hindari Gangguan Pernapasan

    Penulis:Agus Saputra|Redaktur:Lodya A
    12 Agustus 2026 pukul 20:58 WITA

    Ilustrasi orang mengenakan masker (Dok: Freepik)

    Tenggarong - Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) kini mulai sering terjadi di sejumlah wilayah Kutai Kartanegara (Kukar) dan perlahan berdampak terhadap kondisi udara.

    Munculnya kabut asap dan debu akibat insiden Karhutla mendorong masyarakat untuk lebih memperhatikan kesehatan, terutama saat beraktivitas di luar rumah.

    Plt Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit serta Penyehatan Lingkungan (P3PL) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kukar, Budy Setiawan mengimbau masyarakat menggunakan masker saat beraktivitas di luar untuk mengurangi paparan asap dan debu yang berpotensi mengganggu kesehatan.

    Menurutnya, penggunaan masker sangat penting, terutama bagi anak-anak yang masih harus beraktivitas di luar rumah untuk mengikuti kegiatan sekolah.

    “Untuk masyarakat, terutama untuk anak-anak sekolah yang memang wajib keluar dari rumah, itu usahakan pakai masker. Kemudian pakai jaket ataupun topi untuk melindungi dari serangan panas,” ujar Budy, Rabu (12/8/2026).

    “Kalau masalah tentang berbahaya atau tidaknya udara, mungkin domainnya berada di Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) yang menentukan bahaya atau tidaknya,” tambahnya.

    Namun jika dilihat dari sisi kesehatan, semakin tingginya paparan asap yang terhirup masyarakat berpotensi menimbulkan gangguan pada saluran pernapasan, terlebih apabila terjadi dalam waktu yang cukup lama.

    Beberapa keluhan yang dapat muncul yaitu batuk-batuk, sulit menelan hingga radang tenggorokan. “Tapi kalau dari segi kesehatan, ya semakin banyak asap tentu akan berpotensi untuk menyebabkan penyakit infeksi saluran pernapasan atas, seperti batuk, susah menelan, radang tenggorokan dan sebagainya,” jelas Budy.

    Ia menyebut kondisi kering di Kukar telah berlangsung selama lebih dari sepekan tanpa hujan. Bahkan, berdasarkan perkiraannya, sejumlah wilayah telah mengalami kondisi tersebut selama sekitar 10 hari. Kondisi itu juga ditandai dengan meningkatnya debu serta mulai munculnya kabut asap di sejumlah wilayah.

    “Sebenarnya sudah wajib menggunakan masker karena kondisinya sudah berhari-hari, mungkin sudah seminggu lebih atau malah 10 hari ke atas kayaknya belum ada hujan. Kemudian mulai berdebu, ada kabut juga,” ungkapnya.

    Atas kondisi tersebut, Dinkes Kukar kembali mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan perlindungan diri selama cuaca panas, kering serta kabut asap masih terjadi.

    (Sf/Lo)