Seputar Kaltim

    Karhutla di Samarinda Makin Mengkhawatirkan, 75 Titik Terbakar dan Udara Sore Tak Sehat

    Penulis:Arsensia Serlyani|Redaktur:Rusdianto
    08 September 2026 pukul 15:19 WITA

    Petugas Disdamkarmat Samarinda memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kelurahan Budaya Pampang, Kecamatan Samarinda Utara, Kota Samarinda. (Foto: Arsensia Serlyani/ Seputarfakta.com)

    Samarinda – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kota Samarinda tercatat mencapai 75 titik, terutama di Samarinda Utara, Sambutan dan Palaran. 

    Kondisi ini turut berdampak pada kualitas udara yang pada pukul 13.00 hingga 17.00 WITA masuk kategori tidak sehat di sejumlah wilayah dengan tingkat kebakaran tinggi.

    Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Samarinda, Suwarso, mengatakan penanganan karhutla dan dampak kekeringan dilakukan bersama sejumlah instansi.

    Hingga Selasa (8/9/2026), distribusi air bersih telah mencapai 368.600 liter.

    Air tersebut disalurkan melalui PDAM, Kementerian PUPR, TNI, BPBD, Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) dan PUPR Kota Samarinda.

    “Sampai hari ini ada 75 titik lokasi, terutama di daerah Sambutan dan Palaran, dengan air yang sudah didistribusikan dari berbagai komponen ya, dari PDAM, dari Kementerian PUPR, dari TNI, BPBD, Damkar, dan dari PUPR Kota Samarinda. Sudah 368.600 liter,” ujar Suwarso, Selasa (8/9/2026).

    Selain distribusi air, BPBD bersama Kodim memasang dua unit tandon di Makroman untuk memenuhi kebutuhan air bersih warga. Penambahan titik distribusi juga disiapkan, salah satunya di Lempake.

    “Ini juga BPBD sudah mendistribusi bekerja sama dengan Kodim. Kita memasang tandon dua unit di Makroman. Kebetulan daerah sana juga mengalami kekurangan air bersih,” katanya.

    Sementara itu, kualitas udara di wilayah terdampak menunjukkan kondisi yang berbeda sepanjang hari. Berdasarkan analisis Dinas Lingkungan Hidup (DLH), kualitas udara masih relatif baik pada pagi hingga sekitar pukul 11.00 WITA, namun memburuk pada siang hingga sore hari.

    “Dari hasil kualitas udara, teman-teman DLH sudah melakukan analisa. Itu sekitar jam 1.00 siang sampai jam 5.00 sore itu kualitas udara kita tidak sehat,” ujar Suwarso.

    Kondisi udara tidak sehat terutama terjadi di Samarinda Utara, Palaran dan Sambutan. Suwarso menyebut kondisi tersebut bersifat fluktuatif dan tidak terjadi di seluruh wilayah Kota Samarinda.

    “Pokoknya daerah-daerah yang tingkat kebakaran lahannya tinggi, rata-rata kualitas udaranya tidak sehat, tapi fluktuatif,” jelasnya.

    Karhutla juga berdampak pada lahan warga. Dari sekitar 20 hektare lahan yang terdampak terbakar, sebagian besar merupakan belukar. Sementara tanaman seperti pohon kelapa dan pisang hanya berada pada sebagian kecil area.

    Terkait kerugian material, Suwarso mengatakan perhitungannya masih perlu dilakukan oleh petani atau pemilik lahan yang terdampak.

    “Kerugiannya sebetulnya tidak hanya kerugian materi, kita juga mengalami kerusakan udara. Udara menjadi tidak sehat di wilayah Utara,” katanya.

    Mengantisipasi dampak kesehatan akibat kualitas udara yang memburuk, BPBD bersama Dinas Kesehatan Kota Samarinda juga membahas perlindungan bagi masyarakat, khususnya anak sekolah yang beraktivitas pada siang hari.

    Salah satu langkah yang disiapkan yakni siswa tetap mengikuti kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan masker. Kebijakan tersebut dipertimbangkan karena meliburkan sekolah dinilai berpotensi membuat anak-anak lebih banyak beraktivitas di luar rumah.

    “Karena kita kekhawatiran kalau ada diliburkan juga anak-anak berkeliaran malah berisiko tinggi. Jadi tetap sekolah tapi tetap pakai masker,” ungkap Suwarso.

    Di lapangan, DLH juga telah melakukan sosialisasi dan pembagian masker di sejumlah wilayah dengan risiko tinggi, termasuk Makroman.

    Pemantauan kualitas udara juga akan diperkuat melalui pemasangan alat ukur udara portabel di tiga titik, yakni Bantuan, Makroman dan Betapus.

    Alat tersebut disiapkan melalui kerja sama dengan Laboratorium Kesehatan Provinsi, Baristand dan Balai K3. Pemasangan dijadwalkan dilakukan Rabu (9/9/2026).

    Langkah tersebut diharapkan memberikan data kualitas udara yang lebih dekat dengan kondisi di wilayah terdampak, sehingga pemerintah dapat menentukan penanganan berdasarkan perkembangan di lapangan.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Karhutla di Samarinda Makin Mengkhawatirkan, 75 Titik Terbakar dan Udara Sore Tak Sehat

    Penulis:Arsensia Serlyani|Redaktur:Rusdianto
    08 September 2026 pukul 15:19 WITA

    Petugas Disdamkarmat Samarinda memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kelurahan Budaya Pampang, Kecamatan Samarinda Utara, Kota Samarinda. (Foto: Arsensia Serlyani/ Seputarfakta.com)

    Samarinda – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kota Samarinda tercatat mencapai 75 titik, terutama di Samarinda Utara, Sambutan dan Palaran. 

    Kondisi ini turut berdampak pada kualitas udara yang pada pukul 13.00 hingga 17.00 WITA masuk kategori tidak sehat di sejumlah wilayah dengan tingkat kebakaran tinggi.

    Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Samarinda, Suwarso, mengatakan penanganan karhutla dan dampak kekeringan dilakukan bersama sejumlah instansi.

    Hingga Selasa (8/9/2026), distribusi air bersih telah mencapai 368.600 liter.

    Air tersebut disalurkan melalui PDAM, Kementerian PUPR, TNI, BPBD, Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) dan PUPR Kota Samarinda.

    “Sampai hari ini ada 75 titik lokasi, terutama di daerah Sambutan dan Palaran, dengan air yang sudah didistribusikan dari berbagai komponen ya, dari PDAM, dari Kementerian PUPR, dari TNI, BPBD, Damkar, dan dari PUPR Kota Samarinda. Sudah 368.600 liter,” ujar Suwarso, Selasa (8/9/2026).

    Selain distribusi air, BPBD bersama Kodim memasang dua unit tandon di Makroman untuk memenuhi kebutuhan air bersih warga. Penambahan titik distribusi juga disiapkan, salah satunya di Lempake.

    “Ini juga BPBD sudah mendistribusi bekerja sama dengan Kodim. Kita memasang tandon dua unit di Makroman. Kebetulan daerah sana juga mengalami kekurangan air bersih,” katanya.

    Sementara itu, kualitas udara di wilayah terdampak menunjukkan kondisi yang berbeda sepanjang hari. Berdasarkan analisis Dinas Lingkungan Hidup (DLH), kualitas udara masih relatif baik pada pagi hingga sekitar pukul 11.00 WITA, namun memburuk pada siang hingga sore hari.

    “Dari hasil kualitas udara, teman-teman DLH sudah melakukan analisa. Itu sekitar jam 1.00 siang sampai jam 5.00 sore itu kualitas udara kita tidak sehat,” ujar Suwarso.

    Kondisi udara tidak sehat terutama terjadi di Samarinda Utara, Palaran dan Sambutan. Suwarso menyebut kondisi tersebut bersifat fluktuatif dan tidak terjadi di seluruh wilayah Kota Samarinda.

    “Pokoknya daerah-daerah yang tingkat kebakaran lahannya tinggi, rata-rata kualitas udaranya tidak sehat, tapi fluktuatif,” jelasnya.

    Karhutla juga berdampak pada lahan warga. Dari sekitar 20 hektare lahan yang terdampak terbakar, sebagian besar merupakan belukar. Sementara tanaman seperti pohon kelapa dan pisang hanya berada pada sebagian kecil area.

    Terkait kerugian material, Suwarso mengatakan perhitungannya masih perlu dilakukan oleh petani atau pemilik lahan yang terdampak.

    “Kerugiannya sebetulnya tidak hanya kerugian materi, kita juga mengalami kerusakan udara. Udara menjadi tidak sehat di wilayah Utara,” katanya.

    Mengantisipasi dampak kesehatan akibat kualitas udara yang memburuk, BPBD bersama Dinas Kesehatan Kota Samarinda juga membahas perlindungan bagi masyarakat, khususnya anak sekolah yang beraktivitas pada siang hari.

    Salah satu langkah yang disiapkan yakni siswa tetap mengikuti kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan masker. Kebijakan tersebut dipertimbangkan karena meliburkan sekolah dinilai berpotensi membuat anak-anak lebih banyak beraktivitas di luar rumah.

    “Karena kita kekhawatiran kalau ada diliburkan juga anak-anak berkeliaran malah berisiko tinggi. Jadi tetap sekolah tapi tetap pakai masker,” ungkap Suwarso.

    Di lapangan, DLH juga telah melakukan sosialisasi dan pembagian masker di sejumlah wilayah dengan risiko tinggi, termasuk Makroman.

    Pemantauan kualitas udara juga akan diperkuat melalui pemasangan alat ukur udara portabel di tiga titik, yakni Bantuan, Makroman dan Betapus.

    Alat tersebut disiapkan melalui kerja sama dengan Laboratorium Kesehatan Provinsi, Baristand dan Balai K3. Pemasangan dijadwalkan dilakukan Rabu (9/9/2026).

    Langkah tersebut diharapkan memberikan data kualitas udara yang lebih dekat dengan kondisi di wilayah terdampak, sehingga pemerintah dapat menentukan penanganan berdasarkan perkembangan di lapangan.

    (Sf/Rs)