Cari disini...
Seputar Kaltim
Petugas berjibaku memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Penajam Paser Utara (PPU). (Dok. BPBD PPU)
Penajam - Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Penajam Paser Utara (PPU) memasuki pola baru. Sejak musim kemarau berlangsung, titik kebakaran tak hanya meningkat jumlahnya, tetapi juga mulai muncul di sejumlah lokasi yang sebelumnya bukan wilayah langganan karhutla.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) PPU mencatat 63 kejadian karhutla dengan luas lahan terbakar mencapai 56,51 hektare hingga Rabu (26/8/2026).
Kepala BPBD PPU, Nurlaila, mengatakan karakter karhutla tahun ini lebih beragam, termasuk dipengaruhi fenomena El Nino. Kondisi material yang terbakar dan luasan lahan membuat proses pemadaman tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat.
"Karhutla 2026 yang juga dipengaruhi El Nino lebih variatif. Penanganannya bisa sampai berhari-hari karena karakter material yang terbakar cukup sulit, ditambah luasan area yang terbakar lebih besar," ujar Nurlaila, Rabu (26/8/2026).
Petugas berjibaku memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Penajam Paser Utara (PPU). (Dok. BPBD PPU)
Salah satu penanganan terberat terjadi di Kelurahan Sepan. Petugas harus berjibaku memadamkan api di lahan gambut seluas 10 hektare.
Karakter gambut membuat pemadaman lebih sulit karena api dapat menjalar dan bertahan di bawah permukaan, sehingga petugas membutuhkan waktu serta tenaga lebih besar untuk memastikan titik api benar-benar terkendali.
Pola serupa terlihat di Kelurahan Riko. Wilayah yang sebelumnya tidak dikenal sebagai titik karhutla itu kini mengalami kebakaran dengan luasan yang cukup besar.
"Di Kelurahan Riko sebelumnya belum pernah terjadi. Sekarang luasannya cukup besar dan penanganannya membutuhkan energi yang tidak sedikit," katanya.
Sebaliknya, sejumlah wilayah yang selama ini menjadi titik rawan justru tidak banyak mengalami kebakaran. Beberapa titik di Desa Giripurwa dan kawasan Gunung Steleng tidak menunjukkan kejadian sebanyak tahun-tahun sebelumnya.
Nurlaila mengatakan titik kebakaran tahun ini cenderung berpindah dan dapat kembali muncul di sekitar lokasi yang sebelumnya telah terbakar.
"Ada kejadian di lokasi baru, kemudian api muncul lagi di tempat yang jaraknya tidak terlalu jauh dari lokasi kebakaran sebelumnya," ujarnya.
Pola tersebut turut menambah beban petugas di lapangan. Proses pemadaman tidak hanya menguras waktu dan tenaga, tetapi juga menempatkan petugas dalam kondisi kerja yang berat.
Petugas harus menghadapi panas terik, panas api, asap, debu dan angin panas. Kondisi itu masih ditambah medan menuju lokasi kebakaran yang tidak selalu mudah dijangkau.
"Dukungan pimpinan sangat diperlukan. Bisa dibayangkan tenaga dan waktu yang dikeluarkan petugas saat berjibaku menangani karhutla. Mereka menghadapi panas matahari, panas api, debu, asap, angin panas, belum lagi medan menuju lokasi kebakaran," jelas Nurlaila.
Untuk menjaga kondisi petugas selama penanganan, BPBD PPU menyiapkan konsumsi, minuman dan vitamin.
Petugas juga dibekali latihan fisik untuk menjaga stamina menghadapi operasi pemadaman yang dapat berlangsung berjam-jam hingga berhari-hari.
(Sf/Lo)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Petugas berjibaku memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Penajam Paser Utara (PPU). (Dok. BPBD PPU)
Penajam - Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Penajam Paser Utara (PPU) memasuki pola baru. Sejak musim kemarau berlangsung, titik kebakaran tak hanya meningkat jumlahnya, tetapi juga mulai muncul di sejumlah lokasi yang sebelumnya bukan wilayah langganan karhutla.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) PPU mencatat 63 kejadian karhutla dengan luas lahan terbakar mencapai 56,51 hektare hingga Rabu (26/8/2026).
Kepala BPBD PPU, Nurlaila, mengatakan karakter karhutla tahun ini lebih beragam, termasuk dipengaruhi fenomena El Nino. Kondisi material yang terbakar dan luasan lahan membuat proses pemadaman tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat.
"Karhutla 2026 yang juga dipengaruhi El Nino lebih variatif. Penanganannya bisa sampai berhari-hari karena karakter material yang terbakar cukup sulit, ditambah luasan area yang terbakar lebih besar," ujar Nurlaila, Rabu (26/8/2026).
Petugas berjibaku memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Penajam Paser Utara (PPU). (Dok. BPBD PPU)
Salah satu penanganan terberat terjadi di Kelurahan Sepan. Petugas harus berjibaku memadamkan api di lahan gambut seluas 10 hektare.
Karakter gambut membuat pemadaman lebih sulit karena api dapat menjalar dan bertahan di bawah permukaan, sehingga petugas membutuhkan waktu serta tenaga lebih besar untuk memastikan titik api benar-benar terkendali.
Pola serupa terlihat di Kelurahan Riko. Wilayah yang sebelumnya tidak dikenal sebagai titik karhutla itu kini mengalami kebakaran dengan luasan yang cukup besar.
"Di Kelurahan Riko sebelumnya belum pernah terjadi. Sekarang luasannya cukup besar dan penanganannya membutuhkan energi yang tidak sedikit," katanya.
Sebaliknya, sejumlah wilayah yang selama ini menjadi titik rawan justru tidak banyak mengalami kebakaran. Beberapa titik di Desa Giripurwa dan kawasan Gunung Steleng tidak menunjukkan kejadian sebanyak tahun-tahun sebelumnya.
Nurlaila mengatakan titik kebakaran tahun ini cenderung berpindah dan dapat kembali muncul di sekitar lokasi yang sebelumnya telah terbakar.
"Ada kejadian di lokasi baru, kemudian api muncul lagi di tempat yang jaraknya tidak terlalu jauh dari lokasi kebakaran sebelumnya," ujarnya.
Pola tersebut turut menambah beban petugas di lapangan. Proses pemadaman tidak hanya menguras waktu dan tenaga, tetapi juga menempatkan petugas dalam kondisi kerja yang berat.
Petugas harus menghadapi panas terik, panas api, asap, debu dan angin panas. Kondisi itu masih ditambah medan menuju lokasi kebakaran yang tidak selalu mudah dijangkau.
"Dukungan pimpinan sangat diperlukan. Bisa dibayangkan tenaga dan waktu yang dikeluarkan petugas saat berjibaku menangani karhutla. Mereka menghadapi panas matahari, panas api, debu, asap, angin panas, belum lagi medan menuju lokasi kebakaran," jelas Nurlaila.
Untuk menjaga kondisi petugas selama penanganan, BPBD PPU menyiapkan konsumsi, minuman dan vitamin.
Petugas juga dibekali latihan fisik untuk menjaga stamina menghadapi operasi pemadaman yang dapat berlangsung berjam-jam hingga berhari-hari.
(Sf/Lo)