Seputar Kaltim

    Kaltim Tingkatkan Rasio Tempat Tidur Rawat Inap, Targetkan 1 per 1.000 Penduduk

    Penulis:Maulana|Redaktur:Rusdianto
    11 Desember 2024 pukul 15:31 WITA

    Kepala Dinas Kesehatan Kalimantan Timur, Jaya Mualimin. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)

    Samarinda - Dinas Kesehatan Kalimantan Timur (Kaltim) tengah gencar meningkatkan kualitas layanan kesehatan, terutama dalam peningkatan rasio tempat tidur rawat inap dengan target 1 per 1.000 penduduk. Hal ini menjadi perhatian, karena dalam rangka mendukung pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN). 

    Kepala Dinas Kesehatan Kaltim, Jaya Mualimin, menjelaskan hal ini diungkapkan saat kunjungan kerja ke Komisi IX DPR RI. "Fokus utama adalah pembangunan rumah sakit yang menjadi proyek strategis Kementerian Kesehatan," ujar Jaya.

    Pembangunan rumah sakit di sekitar IKN, menurut Jaya, sangat krusial untuk memenuhi kebutuhan tempat tidur rawat inap yang sesuai dengan pertumbuhan penduduk. "Rasio tempat tidur rawat inap di Kaltim sudah di atas standar nasional, yakni 2,7 per 1.000 penduduk," ungkapnya.

    Kendati demikian, Jaya mengakui masih ada beberapa daerah yang belum mencapai standar tersebut. Namun, ia optimistis target satu tempat tidur per 1.000 penduduk akan tercapai pada akhir 2024. "Kami sedang membangun sejumlah rumah sakit di beberapa wilayah, termasuk di Kutai Kartanegara dan empat rumah sakit di IKN," jelasnya.

    Selain infrastruktur, tantangan lain yang dihadapi Kaltim adalah ketersediaan sumber daya manusia (SDM) kesehatan. Kekurangan dokter spesialis dan umum, terutama di daerah 3T (tertinggal, terdepan, terluar), menjadi perhatian serius.

    "Kami berupaya mengatasi masalah ini melalui program penugasan khusus dokter," kata Jaya. Program ini akan menempatkan dokter muda, baik umum maupun spesialis, di daerah-daerah yang kekurangan tenaga kesehatan, seperti Mahakam Ulu, Kutai Barat, dan Berau.

    Soal Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), Jaya menyatakan bahwa cakupan kepesertaan di Kaltim sudah mencapai universal health coverage. Namun, ia mengakui masih perlu meningkatkan aktivasi kepesertaan.

    "Kami akan terus berkoordinasi dengan DPR RI untuk mencari solusi atas permasalahan ini," tegasnya.

    Terkait pemanfaatan Dana Bagi Hasil (DBH) sektor kesehatan, Jaya berharap dukungan dari DPR RI agar program-program kesehatan di Kaltim dapat berjalan lebih optimal. "Kami ingin memastikan bahwa DBH sektor kesehatan dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk meningkatkan kualitas layanan kesehatan masyarakat," ujarnya.

    Dinkes Kaltim juga telah menyusun sejumlah program inovatif untuk meningkatkan kesehatan masyarakat. Salah satunya adalah pemberian tes kesehatan gratis bagi warga yang berulang tahun.

    "Untuk bayi baru lahir, kami akan melakukan skrining sejak 1.000 hari pertama kehidupan. Sementara untuk usia 35 tahun ke atas, akan dilakukan pemeriksaan darah rutin dan skrining hipertensi," tukasnya.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Kaltim Tingkatkan Rasio Tempat Tidur Rawat Inap, Targetkan 1 per 1.000 Penduduk

    Penulis:Maulana|Redaktur:Rusdianto
    11 Desember 2024 pukul 15:31 WITA

    Kepala Dinas Kesehatan Kalimantan Timur, Jaya Mualimin. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)

    Samarinda - Dinas Kesehatan Kalimantan Timur (Kaltim) tengah gencar meningkatkan kualitas layanan kesehatan, terutama dalam peningkatan rasio tempat tidur rawat inap dengan target 1 per 1.000 penduduk. Hal ini menjadi perhatian, karena dalam rangka mendukung pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN). 

    Kepala Dinas Kesehatan Kaltim, Jaya Mualimin, menjelaskan hal ini diungkapkan saat kunjungan kerja ke Komisi IX DPR RI. "Fokus utama adalah pembangunan rumah sakit yang menjadi proyek strategis Kementerian Kesehatan," ujar Jaya.

    Pembangunan rumah sakit di sekitar IKN, menurut Jaya, sangat krusial untuk memenuhi kebutuhan tempat tidur rawat inap yang sesuai dengan pertumbuhan penduduk. "Rasio tempat tidur rawat inap di Kaltim sudah di atas standar nasional, yakni 2,7 per 1.000 penduduk," ungkapnya.

    Kendati demikian, Jaya mengakui masih ada beberapa daerah yang belum mencapai standar tersebut. Namun, ia optimistis target satu tempat tidur per 1.000 penduduk akan tercapai pada akhir 2024. "Kami sedang membangun sejumlah rumah sakit di beberapa wilayah, termasuk di Kutai Kartanegara dan empat rumah sakit di IKN," jelasnya.

    Selain infrastruktur, tantangan lain yang dihadapi Kaltim adalah ketersediaan sumber daya manusia (SDM) kesehatan. Kekurangan dokter spesialis dan umum, terutama di daerah 3T (tertinggal, terdepan, terluar), menjadi perhatian serius.

    "Kami berupaya mengatasi masalah ini melalui program penugasan khusus dokter," kata Jaya. Program ini akan menempatkan dokter muda, baik umum maupun spesialis, di daerah-daerah yang kekurangan tenaga kesehatan, seperti Mahakam Ulu, Kutai Barat, dan Berau.

    Soal Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), Jaya menyatakan bahwa cakupan kepesertaan di Kaltim sudah mencapai universal health coverage. Namun, ia mengakui masih perlu meningkatkan aktivasi kepesertaan.

    "Kami akan terus berkoordinasi dengan DPR RI untuk mencari solusi atas permasalahan ini," tegasnya.

    Terkait pemanfaatan Dana Bagi Hasil (DBH) sektor kesehatan, Jaya berharap dukungan dari DPR RI agar program-program kesehatan di Kaltim dapat berjalan lebih optimal. "Kami ingin memastikan bahwa DBH sektor kesehatan dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk meningkatkan kualitas layanan kesehatan masyarakat," ujarnya.

    Dinkes Kaltim juga telah menyusun sejumlah program inovatif untuk meningkatkan kesehatan masyarakat. Salah satunya adalah pemberian tes kesehatan gratis bagi warga yang berulang tahun.

    "Untuk bayi baru lahir, kami akan melakukan skrining sejak 1.000 hari pertama kehidupan. Sementara untuk usia 35 tahun ke atas, akan dilakukan pemeriksaan darah rutin dan skrining hipertensi," tukasnya.

    (Sf/Rs)