Cari disini...
Seputarfakta.com - Maulana -
Seputar Kaltim
Samarinda - Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) kembali menorehkan prestasi gemilang di kancah nasional. Dalam peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-61 tahun 2025, Kaltim dianugerahi penghargaan sebagai provinsi dengan capaian intervensi spesifik stunting terbaik kategori Regional II oleh Menteri Kesehatan RI.
Penghargaan bergengsi tersebut diserahkan langsung oleh Wakil Presiden RI kepada Gubernur Kaltim di Jakarta, sebagai bentuk apresiasi atas komitmen Pemprov Kaltim menurunkan angka stunting secara signifikan.
Berdasarkan hasil Studi Gizi Indonesia (SGI) 2024, prevalensi stunting di Kaltim menunjukkan tren positif, turun dari 22,9 persen menjadi 22,2 persen.
Kepala Dinas Kesehatan Kaltim, Jaya Mualimin, mengungkapkan rasa bangganya dan membeberkan program yang menjadi andalan Benua Etam dalam memerangi stunting.
"Kami sangat bangga sekali diberikan penghargaan ini. Ini adalah hasil dari intervensi spesifik yang kami lakukan, ada 11 kegiatan yang dievaluasi setiap triwulan," ujar Jaya Mualimin saat diwawancarai.
Jaya Mualimin menjelaskan, 11 kegiatan ini dilakukan menyeluruh di 10 kabupaten/kota, mulai dari pemberian tablet tambah darah kepada remaja putri hingga kampanye serius tentang stop buang air besar sembarangan.
Ke depan, fokus utama Pemprov Kaltim adalah memperkuat koordinasi lintas sektor. Jaya Mualimin juga menyoroti arahan Wakil Presiden RI bahwa mencegah pernikahan dini merupakan bagian krusial dari intervensi sensitif untuk menekan angka stunting.
Untuk menjangkau daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal) seperti Mahulu, Kutai Barat, dan Berau, Dinkes Kaltim akan terus berkoordinasi dengan Dinkes Kabupaten/Kota.
Namun, di balik penghargaan tersebut, Jaya Mualimin secara blak-blakan menyebut bahwa tantangan terbesar yang dihadapi adalah soal Partisipasi Masyarakat.
"Masyarakat ini belum merasa bahwa ini adalah kepentingan mereka sendiri. Ini yang barangkali menjadi pekerjaan rumah kita," ujarnya.
Ia secara khusus menyoroti kondisi Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) yang merupakan garda terdepan kesehatan.
"Kita punya Posyandu itu lebih dari 5.000, tapi ternyata masih banyak Posyandu yang belum ada, sebagian malah tidak aktif," ungkapnya.
Jaya Mualimin berjanji akan segera mengaktifkan kembali Posyandu-Posyandu yang 'mati suri' tersebut, menjadikan partisipasi masyarakat sebagai modal utama dalam mempertahankan prestasi.
Di tempat terpisah, Wakil Gubernur Kaltim, H. Seno Aji, juga menekankan bahwa Pemprov Kaltim akan terus memperkuat layanan kesehatan, salah satunya dengan rencana pembangunan dua rumah sakit baru di Samarinda dan Kutai Barat yang ditargetkan mulai dibangun tahun 2026.
(Sf/Rs)
Tim Editorial
Cari disini...
Seputarfakta.com - Maulana -
Seputar Kaltim

Samarinda - Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) kembali menorehkan prestasi gemilang di kancah nasional. Dalam peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-61 tahun 2025, Kaltim dianugerahi penghargaan sebagai provinsi dengan capaian intervensi spesifik stunting terbaik kategori Regional II oleh Menteri Kesehatan RI.
Penghargaan bergengsi tersebut diserahkan langsung oleh Wakil Presiden RI kepada Gubernur Kaltim di Jakarta, sebagai bentuk apresiasi atas komitmen Pemprov Kaltim menurunkan angka stunting secara signifikan.
Berdasarkan hasil Studi Gizi Indonesia (SGI) 2024, prevalensi stunting di Kaltim menunjukkan tren positif, turun dari 22,9 persen menjadi 22,2 persen.
Kepala Dinas Kesehatan Kaltim, Jaya Mualimin, mengungkapkan rasa bangganya dan membeberkan program yang menjadi andalan Benua Etam dalam memerangi stunting.
"Kami sangat bangga sekali diberikan penghargaan ini. Ini adalah hasil dari intervensi spesifik yang kami lakukan, ada 11 kegiatan yang dievaluasi setiap triwulan," ujar Jaya Mualimin saat diwawancarai.
Jaya Mualimin menjelaskan, 11 kegiatan ini dilakukan menyeluruh di 10 kabupaten/kota, mulai dari pemberian tablet tambah darah kepada remaja putri hingga kampanye serius tentang stop buang air besar sembarangan.
Ke depan, fokus utama Pemprov Kaltim adalah memperkuat koordinasi lintas sektor. Jaya Mualimin juga menyoroti arahan Wakil Presiden RI bahwa mencegah pernikahan dini merupakan bagian krusial dari intervensi sensitif untuk menekan angka stunting.
Untuk menjangkau daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal) seperti Mahulu, Kutai Barat, dan Berau, Dinkes Kaltim akan terus berkoordinasi dengan Dinkes Kabupaten/Kota.
Namun, di balik penghargaan tersebut, Jaya Mualimin secara blak-blakan menyebut bahwa tantangan terbesar yang dihadapi adalah soal Partisipasi Masyarakat.
"Masyarakat ini belum merasa bahwa ini adalah kepentingan mereka sendiri. Ini yang barangkali menjadi pekerjaan rumah kita," ujarnya.
Ia secara khusus menyoroti kondisi Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) yang merupakan garda terdepan kesehatan.
"Kita punya Posyandu itu lebih dari 5.000, tapi ternyata masih banyak Posyandu yang belum ada, sebagian malah tidak aktif," ungkapnya.
Jaya Mualimin berjanji akan segera mengaktifkan kembali Posyandu-Posyandu yang 'mati suri' tersebut, menjadikan partisipasi masyarakat sebagai modal utama dalam mempertahankan prestasi.
Di tempat terpisah, Wakil Gubernur Kaltim, H. Seno Aji, juga menekankan bahwa Pemprov Kaltim akan terus memperkuat layanan kesehatan, salah satunya dengan rencana pembangunan dua rumah sakit baru di Samarinda dan Kutai Barat yang ditargetkan mulai dibangun tahun 2026.
(Sf/Rs)