Seputar Kaltim

    Kaltim Perkuat Upaya Eliminasi TBC, Pengobatan 6 Bulan Saja

    Penulis:Maulana|Redaktur:Rusdianto
    06 Mei 2024 pukul 20:24 WITA

    Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaltim, Jaya Mualimin saat menyampaikan Sambutan. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)

    Samarinda - Dalam rangka mempercepat eliminasi Tuberkulosis (TBC) di Kalimantan Timur (Kaltim), upaya pendampingan pasien TBC Resisten Obat (RO) menjadi fokus utama.

    Hal ini disampaikan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kaltim, Jaya Mualimin, menegaskan pentingnya penemuan kasus dan pelaporan hasil pengobatan sebagai kunci utama dalam percepatan eliminasi TBC di Kaltim.

    Apalagi program nasional TBC RO tahun 2024 telah mengeluarkan panduan baru dengan masa pengobatan yang lebih singkat, dibanding sebelumnya dengan membutuhkan durasi yang lama, kini hanya 6 bulan, namun dengan efek samping yang lebih besar dan serius.

    "Kami membutuhkan kontribusi dan kolaborasi dari berbagai pihak, terutama dalam pendampingan pasien TBC RO," ujar Jaya Mualimin di Hotel Aston Samarinda, Senin (6/5/2024). 

    Pendampingan ini menjadi krusial mengingat kompleksitas pengobatan TBC RO yang memerlukan pemantauan dan motivasi ketat agar pasien menyelesaikan pengobatan hingga tuntas.

    Pada tahun 2023, tercatat ada 87 pasien TBC RO di Kaltim. Angka ini bertambah dengan 24 pasien yang menjalani pengobatan di triwulan kedua tahun 2024. 

    Dinas Kesehatan Kaltim, bersama Fasyankes PMDT dan kelompok penyintas TBC Wadah Etam, berupaya maksimal untuk memastikan pasien TBC RO dapat berobat hingga sembuh. "Ini akan meningkatkan capaian program TBC, terutama dalam penemuan kasus," tambah Jaya.

    Komitmen bersama ini diharapkan dapat mendorong angka kesembuhan pasien TBC RO di Kaltim dan berkontribusi pada target nasional eliminasi TBC pada tahun 2030.

    Meskipun dihadapkan pada tantangan seperti stigma terhadap pasien TBC, keterbatasan akses informasi dan edukasi, serta kurangnya tenaga kesehatan yang terlatih, komitmen dan kolaborasi yang kuat dari semua pihak menjadi kunci utama.

    "Kita optimis bahwa dengan kerja sama yang solid, Kaltim dapat menjadi salah satu provinsi pertama di Indonesia yang berhasil mengeliminasi TBC," pungkas Jaya.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Kaltim Perkuat Upaya Eliminasi TBC, Pengobatan 6 Bulan Saja

    Penulis:Maulana|Redaktur:Rusdianto
    06 Mei 2024 pukul 20:24 WITA

    Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaltim, Jaya Mualimin saat menyampaikan Sambutan. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)

    Samarinda - Dalam rangka mempercepat eliminasi Tuberkulosis (TBC) di Kalimantan Timur (Kaltim), upaya pendampingan pasien TBC Resisten Obat (RO) menjadi fokus utama.

    Hal ini disampaikan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kaltim, Jaya Mualimin, menegaskan pentingnya penemuan kasus dan pelaporan hasil pengobatan sebagai kunci utama dalam percepatan eliminasi TBC di Kaltim.

    Apalagi program nasional TBC RO tahun 2024 telah mengeluarkan panduan baru dengan masa pengobatan yang lebih singkat, dibanding sebelumnya dengan membutuhkan durasi yang lama, kini hanya 6 bulan, namun dengan efek samping yang lebih besar dan serius.

    "Kami membutuhkan kontribusi dan kolaborasi dari berbagai pihak, terutama dalam pendampingan pasien TBC RO," ujar Jaya Mualimin di Hotel Aston Samarinda, Senin (6/5/2024). 

    Pendampingan ini menjadi krusial mengingat kompleksitas pengobatan TBC RO yang memerlukan pemantauan dan motivasi ketat agar pasien menyelesaikan pengobatan hingga tuntas.

    Pada tahun 2023, tercatat ada 87 pasien TBC RO di Kaltim. Angka ini bertambah dengan 24 pasien yang menjalani pengobatan di triwulan kedua tahun 2024. 

    Dinas Kesehatan Kaltim, bersama Fasyankes PMDT dan kelompok penyintas TBC Wadah Etam, berupaya maksimal untuk memastikan pasien TBC RO dapat berobat hingga sembuh. "Ini akan meningkatkan capaian program TBC, terutama dalam penemuan kasus," tambah Jaya.

    Komitmen bersama ini diharapkan dapat mendorong angka kesembuhan pasien TBC RO di Kaltim dan berkontribusi pada target nasional eliminasi TBC pada tahun 2030.

    Meskipun dihadapkan pada tantangan seperti stigma terhadap pasien TBC, keterbatasan akses informasi dan edukasi, serta kurangnya tenaga kesehatan yang terlatih, komitmen dan kolaborasi yang kuat dari semua pihak menjadi kunci utama.

    "Kita optimis bahwa dengan kerja sama yang solid, Kaltim dapat menjadi salah satu provinsi pertama di Indonesia yang berhasil mengeliminasi TBC," pungkas Jaya.

    (Sf/Rs)