Seputar Kaltim

    Kaltim Dominasi Final, Mental Atlet Kurang Diperhatikan jadi Kendala Raih Emas di PON XXI

    Penulis:Maulana|Redaktur:Rusdianto
    10 Oktober 2024 pukul 09:01 WITA

    Kontingen Kaltim yang bertanding di PON XXI Aceh Sumut. (Foto: HO-Dokumentasi Pribadi)

    Samarinda – Kontingen Kalimantan Timur (Kaltim) berhasil menunjukkan dominasi di babak final berbagai cabang olahraga pada Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI/2024 Aceh dan Sumatera Utara. Namun, kendala mental yang dialami para atlet menjadi penghalang utama dalam meraih medali emas.

    Wakil Ketua I Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kaltim, Ego Arfin, mengungkapkan bahwa jumlah medali perak yang diraih Kaltim, yakni 55 keping, menunjukkan bahwa banyak atlet Kaltim yang berhasil menembus babak final. 

    "Ini membuktikan bahwa banyak atlet kita yang sudah berhasil sampai di final mengalahkan beberapa daerah lainnya. Masalahnya di final, kenapa? Buktinya bayangkan perak kita berapa, ada 55. Itukan final, itu sudah gambaran, walaupun masyarakat menyebut emasnya hanya 29, tapi lihat peraknya, banyak yang sudah sampai di final," ujar Ego, Rabu (9/10/2024).

    Ego menjelaskan bahwa beban mental yang tinggi menjadi faktor utama yang menghambat para atlet Kaltim untuk meraih emas. Terlebih saat berhadapan dengan atlet-atlet nasional yang memiliki pengalaman dan mental bertanding yang lebih matang. 

    "Ketika mereka main di final, ada beban mental yang dirasakan belum clear. Bersama para pelatih, KONI sempat melakukan evaluasi," tambahnya.

    Perubahan sistem pertandingan pada PON XXI dibandingkan dengan PON XX juga menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi perolehan medali Kaltim. 

    Ego mencontohkan perubahan sistem pertandingan pada beberapa cabang olahraga yang sebelumnya menggunakan sistem kelompok umur, kini menggunakan sistem head-to-head. "Sistemnya beda, cabor waktu di Papua, kelompok umur sekian. Ada juga sistemnya yang tadinya turun langsung festival, sekarang berubah head to head jadinya kasat mata. Sistem mempengaruhi," tuturnya.

    Ego menekankan pentingnya peran pelatih dalam memperhatikan kondisi mental atlet. Selain itu, koordinasi yang baik antara pelatih, manajer, dan atlet juga sangat diperlukan untuk mengatasi masalah mental ini. 

    "Pelatih tidak memperhatikan mental atlet, taunya harus bertanding saja. Sementara manajer ini tahu, tapi acuh saja, sehingga sudah mentalnya belum siap, tapi dia tetap harus bertanding. Harusnya dipanggilkan psikolog," tukasnya.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Kaltim Dominasi Final, Mental Atlet Kurang Diperhatikan jadi Kendala Raih Emas di PON XXI

    Penulis:Maulana|Redaktur:Rusdianto
    10 Oktober 2024 pukul 09:01 WITA

    Kontingen Kaltim yang bertanding di PON XXI Aceh Sumut. (Foto: HO-Dokumentasi Pribadi)

    Samarinda – Kontingen Kalimantan Timur (Kaltim) berhasil menunjukkan dominasi di babak final berbagai cabang olahraga pada Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI/2024 Aceh dan Sumatera Utara. Namun, kendala mental yang dialami para atlet menjadi penghalang utama dalam meraih medali emas.

    Wakil Ketua I Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kaltim, Ego Arfin, mengungkapkan bahwa jumlah medali perak yang diraih Kaltim, yakni 55 keping, menunjukkan bahwa banyak atlet Kaltim yang berhasil menembus babak final. 

    "Ini membuktikan bahwa banyak atlet kita yang sudah berhasil sampai di final mengalahkan beberapa daerah lainnya. Masalahnya di final, kenapa? Buktinya bayangkan perak kita berapa, ada 55. Itukan final, itu sudah gambaran, walaupun masyarakat menyebut emasnya hanya 29, tapi lihat peraknya, banyak yang sudah sampai di final," ujar Ego, Rabu (9/10/2024).

    Ego menjelaskan bahwa beban mental yang tinggi menjadi faktor utama yang menghambat para atlet Kaltim untuk meraih emas. Terlebih saat berhadapan dengan atlet-atlet nasional yang memiliki pengalaman dan mental bertanding yang lebih matang. 

    "Ketika mereka main di final, ada beban mental yang dirasakan belum clear. Bersama para pelatih, KONI sempat melakukan evaluasi," tambahnya.

    Perubahan sistem pertandingan pada PON XXI dibandingkan dengan PON XX juga menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi perolehan medali Kaltim. 

    Ego mencontohkan perubahan sistem pertandingan pada beberapa cabang olahraga yang sebelumnya menggunakan sistem kelompok umur, kini menggunakan sistem head-to-head. "Sistemnya beda, cabor waktu di Papua, kelompok umur sekian. Ada juga sistemnya yang tadinya turun langsung festival, sekarang berubah head to head jadinya kasat mata. Sistem mempengaruhi," tuturnya.

    Ego menekankan pentingnya peran pelatih dalam memperhatikan kondisi mental atlet. Selain itu, koordinasi yang baik antara pelatih, manajer, dan atlet juga sangat diperlukan untuk mengatasi masalah mental ini. 

    "Pelatih tidak memperhatikan mental atlet, taunya harus bertanding saja. Sementara manajer ini tahu, tapi acuh saja, sehingga sudah mentalnya belum siap, tapi dia tetap harus bertanding. Harusnya dipanggilkan psikolog," tukasnya.

    (Sf/Rs)