Seputar Kaltim

    Kak Seto Tekankan Sekolah Ramah Anak Harus Bebas Kekerasan dan Bullying

    Penulis:Lisda|Redaktur:Lodya A
    26 Juli 2026 pukul 20:41 WITA

    Kak Seto menyampaikan materi tentang sekolah ramah anak pada Talk Show Hari Anak Nasional di Gedung Serbaguna Bukit Pelangi, Sangatta. (Foto: Lisda/Seputarfakta.com)

    Sangatta - Ketua Umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI), Seto Mulyadi atau yang akrab disapa Kak Seto, menegaskan sekolah ramah anak harus menempatkan peserta didik sebagai pusat pendidikan.

    Menurutnya, sekolah harus mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan dan potensi setiap anak, bukan justru memaksa mereka mengikuti sistem yang kaku.

    "Sekolah itu untuk anak, bukan anak untuk sekolah," ujar Kak Seto saat kegiatan Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) di Gedung Serbaguna Bukit Pelangi, Sangatta, beberapa waktu lalu.

    Ia menjelaskan, guru memegang peran penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan. Selain memiliki kompetensi pedagogik, guru juga dituntut mampu mengenali, menghargai dan mengembangkan potensi unik yang dimiliki setiap peserta didik.

    Pendidikan selama ini masih terlalu sering diukur dari capaian akademik semata. Padahal, pendidikan tidak hanya berfokus pada ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), tetapi juga harus membentuk karakter dan mengembangkan berbagai aspek kehidupan anak.

    Karena itu, Kak Seto mengatakan pendidikan memiliki lima unsur utama yang harus berjalan secara seimbang, yakni etika, estetika, IPTEK, nasionalisme dan kesehatan.

    "Yang pertama justru etika. Anak belajar sopan santun, menghormati guru, orang tua dan sesama melalui keteladanan," katanya. 

    Karena itu, ia mengingatkan para guru agar tidak mendidik dengan kekerasan. Kebiasaan membentak, mempermalukan atau bersikap kasar kepada peserta didik justru dapat menjadi contoh yang ditiru anak hingga memicu perundungan di lingkungan sekolah.

    "Kalau guru melakukan kekerasan, anak bisa meniru dan melampiaskannya kepada teman atau adik kelasnya melalui bullying," tambahnya.

    Selain membangun karakter, Kak Seto juga mendorong sekolah menghadirkan proses pembelajaran yang menyenangkan. Bahkan pelajaran seperti matematika, menurutnya, dapat dikemas melalui lagu, permainan, maupun aktivitas kreatif agar anak belajar dengan gembira, bukan merasa tertekan.

    Ia juga mengingatkan setiap anak memiliki bakat dan kecerdasan yang berbeda. Ada yang unggul di bidang akademik, tetapi ada pula yang berbakat dalam seni, olahraga, tari, musik, maupun menggambar. Seluruh potensi tersebut sama berharganya dan layak mendapat ruang untuk berkembang.

    "Setiap anak itu unik, autentik dan tidak terbandingkan. Semua anak hebat sesuai potensinya masing-masing," jelasnya.

    Kak Seto mengibaratkan anak-anak seperti bunga di sebuah taman. Warna, bentuk dan keindahannya berbeda-beda, tetapi semuanya sama-sama indah. Begitu pula setiap anak memiliki kelebihan yang tidak dapat disamakan ataupun dibandingkan dengan anak lainnya.

    Selain itu, ia menilai sekolah juga harus menanamkan rasa nasionalisme melalui budaya gotong royong, kerja sama, serta keteladanan yang ditunjukkan para guru dalam kehidupan sehari-hari.

    Di sisi lain, aspek kesehatan juga tidak boleh diabaikan, baik kesehatan fisik maupun kesehatan mental peserta didik. Menurutnya, sekolah harus menjadi tempat yang membuat anak merasa aman, nyaman dan bahagia selama menjalani proses belajar.

    "Jangan sampai anak stres, takut atau sedih. Inti sekolah ramah anak adalah sekolah yang membuat semua anak belajar dalam suasana gembira dan bahagia," pungkasnya.

    (Sf/Lo)

    Seputar Kaltim

    Kak Seto Tekankan Sekolah Ramah Anak Harus Bebas Kekerasan dan Bullying

    Penulis:Lisda|Redaktur:Lodya A
    26 Juli 2026 pukul 20:41 WITA

    Kak Seto menyampaikan materi tentang sekolah ramah anak pada Talk Show Hari Anak Nasional di Gedung Serbaguna Bukit Pelangi, Sangatta. (Foto: Lisda/Seputarfakta.com)

    Sangatta - Ketua Umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI), Seto Mulyadi atau yang akrab disapa Kak Seto, menegaskan sekolah ramah anak harus menempatkan peserta didik sebagai pusat pendidikan.

    Menurutnya, sekolah harus mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan dan potensi setiap anak, bukan justru memaksa mereka mengikuti sistem yang kaku.

    "Sekolah itu untuk anak, bukan anak untuk sekolah," ujar Kak Seto saat kegiatan Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) di Gedung Serbaguna Bukit Pelangi, Sangatta, beberapa waktu lalu.

    Ia menjelaskan, guru memegang peran penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan. Selain memiliki kompetensi pedagogik, guru juga dituntut mampu mengenali, menghargai dan mengembangkan potensi unik yang dimiliki setiap peserta didik.

    Pendidikan selama ini masih terlalu sering diukur dari capaian akademik semata. Padahal, pendidikan tidak hanya berfokus pada ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), tetapi juga harus membentuk karakter dan mengembangkan berbagai aspek kehidupan anak.

    Karena itu, Kak Seto mengatakan pendidikan memiliki lima unsur utama yang harus berjalan secara seimbang, yakni etika, estetika, IPTEK, nasionalisme dan kesehatan.

    "Yang pertama justru etika. Anak belajar sopan santun, menghormati guru, orang tua dan sesama melalui keteladanan," katanya. 

    Karena itu, ia mengingatkan para guru agar tidak mendidik dengan kekerasan. Kebiasaan membentak, mempermalukan atau bersikap kasar kepada peserta didik justru dapat menjadi contoh yang ditiru anak hingga memicu perundungan di lingkungan sekolah.

    "Kalau guru melakukan kekerasan, anak bisa meniru dan melampiaskannya kepada teman atau adik kelasnya melalui bullying," tambahnya.

    Selain membangun karakter, Kak Seto juga mendorong sekolah menghadirkan proses pembelajaran yang menyenangkan. Bahkan pelajaran seperti matematika, menurutnya, dapat dikemas melalui lagu, permainan, maupun aktivitas kreatif agar anak belajar dengan gembira, bukan merasa tertekan.

    Ia juga mengingatkan setiap anak memiliki bakat dan kecerdasan yang berbeda. Ada yang unggul di bidang akademik, tetapi ada pula yang berbakat dalam seni, olahraga, tari, musik, maupun menggambar. Seluruh potensi tersebut sama berharganya dan layak mendapat ruang untuk berkembang.

    "Setiap anak itu unik, autentik dan tidak terbandingkan. Semua anak hebat sesuai potensinya masing-masing," jelasnya.

    Kak Seto mengibaratkan anak-anak seperti bunga di sebuah taman. Warna, bentuk dan keindahannya berbeda-beda, tetapi semuanya sama-sama indah. Begitu pula setiap anak memiliki kelebihan yang tidak dapat disamakan ataupun dibandingkan dengan anak lainnya.

    Selain itu, ia menilai sekolah juga harus menanamkan rasa nasionalisme melalui budaya gotong royong, kerja sama, serta keteladanan yang ditunjukkan para guru dalam kehidupan sehari-hari.

    Di sisi lain, aspek kesehatan juga tidak boleh diabaikan, baik kesehatan fisik maupun kesehatan mental peserta didik. Menurutnya, sekolah harus menjadi tempat yang membuat anak merasa aman, nyaman dan bahagia selama menjalani proses belajar.

    "Jangan sampai anak stres, takut atau sedih. Inti sekolah ramah anak adalah sekolah yang membuat semua anak belajar dalam suasana gembira dan bahagia," pungkasnya.

    (Sf/Lo)