Cari disini...
Seputar Kaltim
Pemuda tani di Marangkayu. (Dok. Putra Mughni Pratama/seputarfakta.com)
Marangkayu – Para petani khususnya di Kecamatan Marangjayu, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) menghadapi ancaman serius gagal panen terhadap sumber mata pencaharian mereka.
Ancaman gagal panen ini dipicu oleh kenaikan drastis pada kandungan asam air sawah. Kekhawatiran mendalam dirasakan oleh Sarman (31), salah seorang petani setempat.
Ia mengungkapkan, bahwa kondisi yang terjadi ini telah merusak hampir semua lahan persawahan yang mereka garap.
“Biasanya, kami bisa menghasilkan panen rata-rata 2 ton per hektare,” ungkap Sarman.
“Namun, dengan kondisi air yang sangat asam dan kerusakan yang meluas ini, kami meragukan bisa mendapatkan hasil yang sama, bahkan mungkin gagal panen total.” sambungnya.
Menyikapi masalah ini, Sarman dan petani lainnya telah berkoordinasi dengan Dinas Pertanian setempat. Tindak lanjut yang disarankan adalah upaya mitigasi dengan memberikan kapur pertanian/dolomit pada lahan.
Pemberian kapur ini harus dilakukan sebelum proses pembajakan sawah guna menetralkan dan menurunkan tingkat keasaman (pH) air sawah yang melonjak drastis.
Upaya ini menjadi harapan terakhir bagi petani Marangkayu untuk mengembalikan kualitas tanah dan air, serta menyelamatkan lahan mereka dari ancaman gagal panen.
Untuk diketahui, luas lahan pertanian di Marangkayu berdasarkan data terbaru menunjukkan sekitar 1.082 hektare dan terintegrasi di Desa Santan Ulu, Semangko, serta Sebuntal yang menjadikan 3 desa tersebut sebagai salah satu kawasan penting pertanian di Kukar.
(Sf/Mr)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Pemuda tani di Marangkayu. (Dok. Putra Mughni Pratama/seputarfakta.com)
Marangkayu – Para petani khususnya di Kecamatan Marangjayu, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) menghadapi ancaman serius gagal panen terhadap sumber mata pencaharian mereka.
Ancaman gagal panen ini dipicu oleh kenaikan drastis pada kandungan asam air sawah. Kekhawatiran mendalam dirasakan oleh Sarman (31), salah seorang petani setempat.
Ia mengungkapkan, bahwa kondisi yang terjadi ini telah merusak hampir semua lahan persawahan yang mereka garap.
“Biasanya, kami bisa menghasilkan panen rata-rata 2 ton per hektare,” ungkap Sarman.
“Namun, dengan kondisi air yang sangat asam dan kerusakan yang meluas ini, kami meragukan bisa mendapatkan hasil yang sama, bahkan mungkin gagal panen total.” sambungnya.
Menyikapi masalah ini, Sarman dan petani lainnya telah berkoordinasi dengan Dinas Pertanian setempat. Tindak lanjut yang disarankan adalah upaya mitigasi dengan memberikan kapur pertanian/dolomit pada lahan.
Pemberian kapur ini harus dilakukan sebelum proses pembajakan sawah guna menetralkan dan menurunkan tingkat keasaman (pH) air sawah yang melonjak drastis.
Upaya ini menjadi harapan terakhir bagi petani Marangkayu untuk mengembalikan kualitas tanah dan air, serta menyelamatkan lahan mereka dari ancaman gagal panen.
Untuk diketahui, luas lahan pertanian di Marangkayu berdasarkan data terbaru menunjukkan sekitar 1.082 hektare dan terintegrasi di Desa Santan Ulu, Semangko, serta Sebuntal yang menjadikan 3 desa tersebut sebagai salah satu kawasan penting pertanian di Kukar.
(Sf/Mr)