Seputar Kaltim

    Kabut Asap Selimuti Sangatta, Dinkes Minta Warga Kurangi Aktivitas, Anak Sekolah Diusulkan Belajar dari Rumah

    Penulis:Lisda|Redaktur:Rusdianto
    17 September 2026 pukul 10:04 WITA

    Kabut asap menyelimuti langit Sangatta, Kutai Timur, Rabu (16/9/2026). (Foto: Lisda/seputarfakta.com)

    Sangatta – Kualitas udara di sejumlah wilayah Kutai Timur (Kutim) menjadi perhatian setelah hasil pengukuran di sejumlah Puskesmas pada Rabu (16/9/2026) menunjukkan konsentrasi PM2.5 dan PM10 yang tinggi.

    Di wilayah kerja Puskesmas Batu Ampar, pengukuran pukul 16.42 Wita mencatat PM2.5 sebesar 145 dan PM10 mencapai 419. Suhu saat itu 25,96 derajat Celsius dengan kelembapan 78,7 persen.

    “PM10 menunjukkan angka yang tinggi dok, harusnya normal 75 saja ini sampai 419,” demikian laporan Puskesmas Batu Ampar kepada Kepala Dinkes Kutim, dr Yuwana Sri Kurniawati.

    Angka lebih tinggi tercatat di wilayah Puskesmas Sepaso. Pada pengukuran pukul 16.51 Wita, PM2.5 mencapai 221, sedangkan PM10 berada di angka 629. Suhu tercatat 28,97 derajat Celsius dengan kelembapan 73,5 persen.

    Di tengah kondisi tersebut, dr Yuwana meminta masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan. Warga yang harus keluar rumah juga dianjurkan menggunakan masker.

    “Karena itu, Yuwana mengimbau semua pihak untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan dan hendaknya memakai masker apabila keluar rumah,” pesannya.

    Dinkes menyarankan penggunaan masker N95, KN95 atau KF94 jika tersedia. Masyarakat yang tidak memiliki jenis masker tersebut tetap dianjurkan menggunakan masker yang tersedia sebagai upaya mengurangi paparan udara tercemar.

    Kondisi udara yang dilaporkan tidak sehat hingga sangat tidak sehat juga menjadi perhatian terhadap aktivitas anak sekolah. Yuwana meminta opsi pembelajaran dari rumah dipertimbangkan apabila kondisi udara tidak mendukung kegiatan di luar ruangan.

    “Izin, mohon dapat dipertimbangkan Bapak Mulyono, Kadisdikbud, agar anak sekolah dapat belajar dari rumah dulu,” katanya. 

    Usulan tersebut masih berupa permintaan untuk dipertimbangkan dan belum menjadi keputusan mengenai pelaksanaan pembelajaran dari rumah.

    Sementara itu, kondisi langit Sangatta yang kelabu diduga berkaitan dengan asap karhutla dari wilayah lain. Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kutim, Muhammad Naim, mengatakan hingga sore belum ada laporan karhutla dari posko Sangatta Utara maupun Sangatta Selatan.

    “Dari pagi sampai saat ini tidak ada laporan karhutla sama sekali,” ujar Naim.

    Menurutnya, berdasarkan hasil briefing, kondisi udara di Sangatta diduga dipengaruhi asap dari daerah lain yang masih terdampak karhutla.

    “Dari hasil briefing tadi, kita dapat kiriman dari daerah yang masih terdampak oleh karhutla,” tambahnya.

    Namun, setelah pengecekan tersebut, BPBD menerima laporan adanya kebakaran lahan di kawasan Sangatta Selatan. Personel BPBD telah disiapkan di wilayah utara maupun selatan untuk menangani apabila kembali ditemukan titik kebakaran.

    “Teman-teman BPBD sudah kita siapkan di selatan maupun utara. Kalau itu masih di selatan, berarti tim BPBD dan teman-teman yang lain itu yang menangani,” ucapnya.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Kabut Asap Selimuti Sangatta, Dinkes Minta Warga Kurangi Aktivitas, Anak Sekolah Diusulkan Belajar dari Rumah

    Penulis:Lisda|Redaktur:Rusdianto
    17 September 2026 pukul 10:04 WITA

    Kabut asap menyelimuti langit Sangatta, Kutai Timur, Rabu (16/9/2026). (Foto: Lisda/seputarfakta.com)

    Sangatta – Kualitas udara di sejumlah wilayah Kutai Timur (Kutim) menjadi perhatian setelah hasil pengukuran di sejumlah Puskesmas pada Rabu (16/9/2026) menunjukkan konsentrasi PM2.5 dan PM10 yang tinggi.

    Di wilayah kerja Puskesmas Batu Ampar, pengukuran pukul 16.42 Wita mencatat PM2.5 sebesar 145 dan PM10 mencapai 419. Suhu saat itu 25,96 derajat Celsius dengan kelembapan 78,7 persen.

    “PM10 menunjukkan angka yang tinggi dok, harusnya normal 75 saja ini sampai 419,” demikian laporan Puskesmas Batu Ampar kepada Kepala Dinkes Kutim, dr Yuwana Sri Kurniawati.

    Angka lebih tinggi tercatat di wilayah Puskesmas Sepaso. Pada pengukuran pukul 16.51 Wita, PM2.5 mencapai 221, sedangkan PM10 berada di angka 629. Suhu tercatat 28,97 derajat Celsius dengan kelembapan 73,5 persen.

    Di tengah kondisi tersebut, dr Yuwana meminta masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan. Warga yang harus keluar rumah juga dianjurkan menggunakan masker.

    “Karena itu, Yuwana mengimbau semua pihak untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan dan hendaknya memakai masker apabila keluar rumah,” pesannya.

    Dinkes menyarankan penggunaan masker N95, KN95 atau KF94 jika tersedia. Masyarakat yang tidak memiliki jenis masker tersebut tetap dianjurkan menggunakan masker yang tersedia sebagai upaya mengurangi paparan udara tercemar.

    Kondisi udara yang dilaporkan tidak sehat hingga sangat tidak sehat juga menjadi perhatian terhadap aktivitas anak sekolah. Yuwana meminta opsi pembelajaran dari rumah dipertimbangkan apabila kondisi udara tidak mendukung kegiatan di luar ruangan.

    “Izin, mohon dapat dipertimbangkan Bapak Mulyono, Kadisdikbud, agar anak sekolah dapat belajar dari rumah dulu,” katanya. 

    Usulan tersebut masih berupa permintaan untuk dipertimbangkan dan belum menjadi keputusan mengenai pelaksanaan pembelajaran dari rumah.

    Sementara itu, kondisi langit Sangatta yang kelabu diduga berkaitan dengan asap karhutla dari wilayah lain. Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kutim, Muhammad Naim, mengatakan hingga sore belum ada laporan karhutla dari posko Sangatta Utara maupun Sangatta Selatan.

    “Dari pagi sampai saat ini tidak ada laporan karhutla sama sekali,” ujar Naim.

    Menurutnya, berdasarkan hasil briefing, kondisi udara di Sangatta diduga dipengaruhi asap dari daerah lain yang masih terdampak karhutla.

    “Dari hasil briefing tadi, kita dapat kiriman dari daerah yang masih terdampak oleh karhutla,” tambahnya.

    Namun, setelah pengecekan tersebut, BPBD menerima laporan adanya kebakaran lahan di kawasan Sangatta Selatan. Personel BPBD telah disiapkan di wilayah utara maupun selatan untuk menangani apabila kembali ditemukan titik kebakaran.

    “Teman-teman BPBD sudah kita siapkan di selatan maupun utara. Kalau itu masih di selatan, berarti tim BPBD dan teman-teman yang lain itu yang menangani,” ucapnya.

    (Sf/Rs)