Seputar Kaltim

    Kabut Asap Meningkat, Dinkes PPU Pantau Kualitas Udara di 11 Puskesmas, Sepaku dalam Kondisi Tak Sehat

    Penulis:Cindy|Redaktur:Rusdianto
    18 September 2026 pukul 01:59 WITA

    Langit di kawasan RSUD RAPB PPU tampak putih dan samar pada Kamis (17/9/2026), di tengah kondisi udara yang terdampak asap karhutla. (Foto: Cindy/seputarfakta.com)

    Penajam - Konsentrasi PM10 di Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), menembus 532,67 µg/m³ pada pengukuran kualitas udara indoor, Kamis (17/9/2026). 

    Dinas Kesehatan (Dinkes) PPU memperketat pemantauan menyusul tingginya kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang memicu kabut asap di sejumlah wilayah.

    Pengukuran dilakukan dua kali sehari, pagi dan siang, di 11 puskesmas yang tersebar di seluruh kecamatan. Pemantauan dilakukan di dalam dan luar ruangan dengan parameter PM2,5 dan PM10.

    Plt Kepala Dinkes PPU, Lukasiwan Eddy Saputro, mengatakan pemantauan intensif dilakukan untuk melihat perubahan kualitas udara sekaligus mengantisipasi dampaknya terhadap kesehatan masyarakat.

    "Kita intens pengukuran kualitas udara di setiap kecamatan, pagi dan siang hari, dua kali dalam sehari," katanya, Kamis (17/9/2026).

    Pada pengukuran siang 17 September, konsentrasi PM10 tertinggi tercatat di Sepaku, yakni 532,67 µg/m³ di dalam ruangan dan 244 µg/m³ di luar ruangan.

    Secara rata-rata di PPU, konsentrasi PM2,5 indoor tercatat 45,63 µg/m³bdan PM10 indoor 169,17 µg/m³. Keduanya berada dalam kategori tidak sehat.

    Sementara itu, rata-rata PM2,5 outdoor berada di angka 29,95 µg/m dan PM10 outdoor 97 µg/m³.

    Dinkes tidak hanya memantau kualitas udara. Dampak kesehatan yang berpotensi meningkat juga ikut dipantau, terutama infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), diare, dan gangguan mata.

    Lukasiwan mengatakan kasus ISPA menunjukkan peningkatan pada September, seiring kondisi kering yang berlangsung.

    "ISPA memang di September ada peningkatan, terutama sejak kekeringan ini," ujarnya.

    Diare juga menjadi perhatian karena kemarau berkaitan dengan ketersediaan dan penggunaan air bersih masyarakat. Gangguan mata turut dipantau sebagai dampak yang mungkin muncul selama musim kemarau panjang dan paparan asap.

    "Yang ketiga adalah penyakit mata. Ketiga ini kita monitoring sesuai arahan di setiap kabupaten kota, bagaimana fenomenanya selama musim kemarau yang panjang ini," jelas dia.

    Untuk mengantisipasi dampak tersebut, Dinkes menyiapkan logistik kesehatan berupa obat-obatan, masker, dan multivitamin. Multivitamin secara khusus disiapkan untuk petugas yang terlibat dalam penanganan karhutla di lapangan.

    "Terutama multivitamin ini untuk rekan-rekan petugas pemadam karhutla. Kita memproses pengadaan multivitamin untuk stamina mereka, sebagaimana arahan Sekretaris Daerah, leading sektor penanggulangan tingkat kabupaten, agar menunjang suplemen rekan di lapangan," katanya.

    Untuk masker, pembagian kepada masyarakat belum dilakukan. Dinkes masih mengajukan tambahan masker ke Kementerian Kesehatan sembari menyiapkan pengadaan secara mandiri.

    Lukasiwan tetap mengimbau masyarakat menggunakan masker, terutama ketika beraktivitas di luar ruangan dan berada di wilayah yang terdampak asap.

    "Imbauannya tetap menggunakan masker. Walaupun kondisi kita kalau yang dikeluarkan DLH melalui ISPU dalam taraf sedang, untuk mencegah hal yang tidak diinginkan, lebih baik menggunakan masker," pungkasnya.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Kabut Asap Meningkat, Dinkes PPU Pantau Kualitas Udara di 11 Puskesmas, Sepaku dalam Kondisi Tak Sehat

    Penulis:Cindy|Redaktur:Rusdianto
    18 September 2026 pukul 01:59 WITA

    Langit di kawasan RSUD RAPB PPU tampak putih dan samar pada Kamis (17/9/2026), di tengah kondisi udara yang terdampak asap karhutla. (Foto: Cindy/seputarfakta.com)

    Penajam - Konsentrasi PM10 di Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), menembus 532,67 µg/m³ pada pengukuran kualitas udara indoor, Kamis (17/9/2026). 

    Dinas Kesehatan (Dinkes) PPU memperketat pemantauan menyusul tingginya kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang memicu kabut asap di sejumlah wilayah.

    Pengukuran dilakukan dua kali sehari, pagi dan siang, di 11 puskesmas yang tersebar di seluruh kecamatan. Pemantauan dilakukan di dalam dan luar ruangan dengan parameter PM2,5 dan PM10.

    Plt Kepala Dinkes PPU, Lukasiwan Eddy Saputro, mengatakan pemantauan intensif dilakukan untuk melihat perubahan kualitas udara sekaligus mengantisipasi dampaknya terhadap kesehatan masyarakat.

    "Kita intens pengukuran kualitas udara di setiap kecamatan, pagi dan siang hari, dua kali dalam sehari," katanya, Kamis (17/9/2026).

    Pada pengukuran siang 17 September, konsentrasi PM10 tertinggi tercatat di Sepaku, yakni 532,67 µg/m³ di dalam ruangan dan 244 µg/m³ di luar ruangan.

    Secara rata-rata di PPU, konsentrasi PM2,5 indoor tercatat 45,63 µg/m³bdan PM10 indoor 169,17 µg/m³. Keduanya berada dalam kategori tidak sehat.

    Sementara itu, rata-rata PM2,5 outdoor berada di angka 29,95 µg/m dan PM10 outdoor 97 µg/m³.

    Dinkes tidak hanya memantau kualitas udara. Dampak kesehatan yang berpotensi meningkat juga ikut dipantau, terutama infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), diare, dan gangguan mata.

    Lukasiwan mengatakan kasus ISPA menunjukkan peningkatan pada September, seiring kondisi kering yang berlangsung.

    "ISPA memang di September ada peningkatan, terutama sejak kekeringan ini," ujarnya.

    Diare juga menjadi perhatian karena kemarau berkaitan dengan ketersediaan dan penggunaan air bersih masyarakat. Gangguan mata turut dipantau sebagai dampak yang mungkin muncul selama musim kemarau panjang dan paparan asap.

    "Yang ketiga adalah penyakit mata. Ketiga ini kita monitoring sesuai arahan di setiap kabupaten kota, bagaimana fenomenanya selama musim kemarau yang panjang ini," jelas dia.

    Untuk mengantisipasi dampak tersebut, Dinkes menyiapkan logistik kesehatan berupa obat-obatan, masker, dan multivitamin. Multivitamin secara khusus disiapkan untuk petugas yang terlibat dalam penanganan karhutla di lapangan.

    "Terutama multivitamin ini untuk rekan-rekan petugas pemadam karhutla. Kita memproses pengadaan multivitamin untuk stamina mereka, sebagaimana arahan Sekretaris Daerah, leading sektor penanggulangan tingkat kabupaten, agar menunjang suplemen rekan di lapangan," katanya.

    Untuk masker, pembagian kepada masyarakat belum dilakukan. Dinkes masih mengajukan tambahan masker ke Kementerian Kesehatan sembari menyiapkan pengadaan secara mandiri.

    Lukasiwan tetap mengimbau masyarakat menggunakan masker, terutama ketika beraktivitas di luar ruangan dan berada di wilayah yang terdampak asap.

    "Imbauannya tetap menggunakan masker. Walaupun kondisi kita kalau yang dikeluarkan DLH melalui ISPU dalam taraf sedang, untuk mencegah hal yang tidak diinginkan, lebih baik menggunakan masker," pungkasnya.

    (Sf/Rs)