Cari disini...
Seputar Kaltim
Pengembangan usaha budidaya ayam petelur untuk mendukung pengendalian inflasi dan ketahanan pangan. (Foto: Humas Bank Indonesia)
Balikpapan – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Kota Balikpapan terus memperkuat komitmennya dalam mendukung pengendalian inflasi dan ketahanan pangan daerah melalui pengembangan usaha budidaya ayam petelur.
Langkah tersebut dinilai strategis karena dapat mendorong peningkatan produksi telur ayam di daerah. Saat ini, pemenuhan pasokan telur ayam di Kalimantan Timur masih sepenuhnya mengandalkan pasokan dari luar wilayah.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Robi Ariadi, mengatakan upaya tersebut dilakukan melalui fasilitasi sarana dan prasarana produksi budidaya ayam petelur bersama Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Provinsi Kaltim kepada pondok pesantren dan kelompok usaha terpilih.
“Upaya ini dilaksanakan melalui fasilitasi sarana dan prasarana produksi budidaya ayam petelur bersama dengan Baznas Provinsi Kaltim kepada pondok pesantren dan kelompok usaha terpilih,” kata Robi dalam keterangannya, Sabtu (8/8/2026).
Menurut Robi, program tersebut tidak hanya ditujukan untuk memperkuat ketahanan pangan dan mengendalikan inflasi, tetapi juga mendorong kemandirian ekonomi pesantren.
Untuk memastikan usaha budidaya ayam petelur dapat dikelola secara optimal, profesional, dan berkelanjutan, KPwBI Balikpapan bersinergi dengan Baznas Kaltim, pemerintah daerah, akademisi, serta praktisi usaha budidaya ayam petelur.
Kolaborasi tersebut dinilai telah memberikan dampak nyata terhadap penguatan kemandirian ekonomi pesantren. Ke depan, program pemberdayaan diharapkan dapat terus diperluas sehingga turut meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.
Robi menjelaskan, ketahanan pangan merupakan salah satu fondasi utama dalam menjaga stabilitas ekonomi daerah. Sebagai bank sentral, Bank Indonesia tidak hanya berperan menjaga stabilitas nilai rupiah, tetapi juga mendukung pengendalian inflasi daerah melalui penguatan sektor riil.
Salah satunya dilakukan dengan meningkatkan kapasitas produksi komoditas pangan strategis yang berpengaruh terhadap stabilitas harga di daerah.
“Ketahanan pangan merupakan salah satu fondasi utama dalam menjaga stabilitas ekonomi daerah. Bank Indonesia secara aktif mendukung pengendalian inflasi daerah melalui penguatan sektor riil, khususnya peningkatan kapasitas produksi komoditas pangan strategis,” ujarnya.
Lebih lanjut, Robi mengatakan telur ayam merupakan salah satu komoditas yang turut memengaruhi perkembangan inflasi di wilayah Balikpapan, Penajam Paser Utara (PPU), dan Paser.
“Oleh karena itu, peningkatan kapasitas produksi lokal menjadi langkah strategis untuk memperkuat ketahanan pangan daerah, sekaligus mengurangi ketergantungan pasokan dari luar daerah,” katanya.
Melalui program tersebut, para peserta diharapkan memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman praktis yang dapat diterapkan dalam mengelola usaha budidaya ayam petelur di daerah masing-masing.
KPwBI Balikpapan juga akan memberikan pendampingan lanjutan dengan melibatkan akademisi, praktisi peternakan, pelaku usaha, serta Pondok Pesantren Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari sebagai mitra penyelenggara sekaligus lokasi praktik lapangan.
Pondok Pesantren Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari dipilih karena dinilai berhasil mengembangkan usaha budidaya ayam petelur yang produktif. Model usaha tersebut diharapkan dapat menjadi media pembelajaran sekaligus contoh praktik terbaik bagi para peserta.
“Pondok pesantren tersebut telah menjadi mitra binaan KPwBI Balikpapan dan Baznas Kaltim, yang telah difasilitasi sarana dan prasarana budidaya ayam petelur pada tahun 2025. Hasil produksi telurnya juga telah berhasil memasok sejumlah restoran dan kafe yang beroperasi di Balikpapan,” lanjut Robi.
Melalui kolaborasi tersebut, KPwBI Balikpapan berharap para mitra tidak hanya memiliki kemampuan teknis dalam mengelola usaha budidaya ayam petelur, tetapi juga mampu mengembangkan model bisnis yang menguntungkan, profesional, dan dikelola dengan prinsip yang terstandarisasi.
Dengan demikian, pengembangan usaha diharapkan dapat berlangsung secara berkelanjutan, meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil usaha, serta mendorong lahirnya usaha peternakan yang tangguh, mandiri, dan berdaya saing.
(Sf/Lo)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Pengembangan usaha budidaya ayam petelur untuk mendukung pengendalian inflasi dan ketahanan pangan. (Foto: Humas Bank Indonesia)
Balikpapan – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Kota Balikpapan terus memperkuat komitmennya dalam mendukung pengendalian inflasi dan ketahanan pangan daerah melalui pengembangan usaha budidaya ayam petelur.
Langkah tersebut dinilai strategis karena dapat mendorong peningkatan produksi telur ayam di daerah. Saat ini, pemenuhan pasokan telur ayam di Kalimantan Timur masih sepenuhnya mengandalkan pasokan dari luar wilayah.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Robi Ariadi, mengatakan upaya tersebut dilakukan melalui fasilitasi sarana dan prasarana produksi budidaya ayam petelur bersama Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Provinsi Kaltim kepada pondok pesantren dan kelompok usaha terpilih.
“Upaya ini dilaksanakan melalui fasilitasi sarana dan prasarana produksi budidaya ayam petelur bersama dengan Baznas Provinsi Kaltim kepada pondok pesantren dan kelompok usaha terpilih,” kata Robi dalam keterangannya, Sabtu (8/8/2026).
Menurut Robi, program tersebut tidak hanya ditujukan untuk memperkuat ketahanan pangan dan mengendalikan inflasi, tetapi juga mendorong kemandirian ekonomi pesantren.
Untuk memastikan usaha budidaya ayam petelur dapat dikelola secara optimal, profesional, dan berkelanjutan, KPwBI Balikpapan bersinergi dengan Baznas Kaltim, pemerintah daerah, akademisi, serta praktisi usaha budidaya ayam petelur.
Kolaborasi tersebut dinilai telah memberikan dampak nyata terhadap penguatan kemandirian ekonomi pesantren. Ke depan, program pemberdayaan diharapkan dapat terus diperluas sehingga turut meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.
Robi menjelaskan, ketahanan pangan merupakan salah satu fondasi utama dalam menjaga stabilitas ekonomi daerah. Sebagai bank sentral, Bank Indonesia tidak hanya berperan menjaga stabilitas nilai rupiah, tetapi juga mendukung pengendalian inflasi daerah melalui penguatan sektor riil.
Salah satunya dilakukan dengan meningkatkan kapasitas produksi komoditas pangan strategis yang berpengaruh terhadap stabilitas harga di daerah.
“Ketahanan pangan merupakan salah satu fondasi utama dalam menjaga stabilitas ekonomi daerah. Bank Indonesia secara aktif mendukung pengendalian inflasi daerah melalui penguatan sektor riil, khususnya peningkatan kapasitas produksi komoditas pangan strategis,” ujarnya.
Lebih lanjut, Robi mengatakan telur ayam merupakan salah satu komoditas yang turut memengaruhi perkembangan inflasi di wilayah Balikpapan, Penajam Paser Utara (PPU), dan Paser.
“Oleh karena itu, peningkatan kapasitas produksi lokal menjadi langkah strategis untuk memperkuat ketahanan pangan daerah, sekaligus mengurangi ketergantungan pasokan dari luar daerah,” katanya.
Melalui program tersebut, para peserta diharapkan memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman praktis yang dapat diterapkan dalam mengelola usaha budidaya ayam petelur di daerah masing-masing.
KPwBI Balikpapan juga akan memberikan pendampingan lanjutan dengan melibatkan akademisi, praktisi peternakan, pelaku usaha, serta Pondok Pesantren Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari sebagai mitra penyelenggara sekaligus lokasi praktik lapangan.
Pondok Pesantren Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari dipilih karena dinilai berhasil mengembangkan usaha budidaya ayam petelur yang produktif. Model usaha tersebut diharapkan dapat menjadi media pembelajaran sekaligus contoh praktik terbaik bagi para peserta.
“Pondok pesantren tersebut telah menjadi mitra binaan KPwBI Balikpapan dan Baznas Kaltim, yang telah difasilitasi sarana dan prasarana budidaya ayam petelur pada tahun 2025. Hasil produksi telurnya juga telah berhasil memasok sejumlah restoran dan kafe yang beroperasi di Balikpapan,” lanjut Robi.
Melalui kolaborasi tersebut, KPwBI Balikpapan berharap para mitra tidak hanya memiliki kemampuan teknis dalam mengelola usaha budidaya ayam petelur, tetapi juga mampu mengembangkan model bisnis yang menguntungkan, profesional, dan dikelola dengan prinsip yang terstandarisasi.
Dengan demikian, pengembangan usaha diharapkan dapat berlangsung secara berkelanjutan, meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil usaha, serta mendorong lahirnya usaha peternakan yang tangguh, mandiri, dan berdaya saing.
(Sf/Lo)