Cari disini...
Seputar Kaltim
Sekretaris Disdikbud Bontang Saparuddin. (Foto: Nuraini/Seputarfakta.com)
Bontang - Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Bontang, Saparuddin mengungkapkan, salah satu penyebab tingginya Angka Putus Sekolah (ATS) di Kota Bontang disebabkan karena banyak anak yang masuk ke pesantren.
Disdikbud telah lama menyoroti tingginya ATS dan setelah dilakukan penelusuran, akhirnya diketahui bahwa angka tersebut paling banyak disebabkan karena saat masuk ke pesantren sehingga Data Pokok Pendidikan (Dapodik) siswa tidak terbaca.
“Karena tidak terbaca, jadi dianggap putus sekolah,”ungkapnya saat menyampaikan materi pada kegiatan Diskusi Publik yang diadakan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Kota Bontang (Kapasisbon), tentang menanggapi isu dan tantangan pendidikan di Kota Bontang serta resolusi kedepannya, Kamis (16/1/2025).
Guna mengatasi hal permasalahan ATS di Bontang, Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang mengalihkan kepada dua satuan pendidikan di luar sistem persekolahan umum.
Jika Dapodik pelajar masih bisa terlacak, maka bisa dialihkan ke Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) negeri yang berada di samping gedung perpustakaan daerah Bontang, Jalan HM Ardhans Kelurahan Satimpo Kecamatan Bontang Barat.
“Lalu untuk swastanya ada beberapa PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat),” lanjut Saparuddin.
Diharapkan, dengan adanya satuan pendidikan tersebut, dapat mengatasi permasalahan ATS di Kota Bontang. Meskipun, kata Saparuddin setiap tahun pasti ada yang putus sekolah dengan berbagai macam alasan.
“Tapi kami upayakan ada solusi jika yang bersangkutan masih mau melanjutkan sekolah,” pungkasnya.
(Sf/By)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Sekretaris Disdikbud Bontang Saparuddin. (Foto: Nuraini/Seputarfakta.com)
Bontang - Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Bontang, Saparuddin mengungkapkan, salah satu penyebab tingginya Angka Putus Sekolah (ATS) di Kota Bontang disebabkan karena banyak anak yang masuk ke pesantren.
Disdikbud telah lama menyoroti tingginya ATS dan setelah dilakukan penelusuran, akhirnya diketahui bahwa angka tersebut paling banyak disebabkan karena saat masuk ke pesantren sehingga Data Pokok Pendidikan (Dapodik) siswa tidak terbaca.
“Karena tidak terbaca, jadi dianggap putus sekolah,”ungkapnya saat menyampaikan materi pada kegiatan Diskusi Publik yang diadakan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Kota Bontang (Kapasisbon), tentang menanggapi isu dan tantangan pendidikan di Kota Bontang serta resolusi kedepannya, Kamis (16/1/2025).
Guna mengatasi hal permasalahan ATS di Bontang, Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang mengalihkan kepada dua satuan pendidikan di luar sistem persekolahan umum.
Jika Dapodik pelajar masih bisa terlacak, maka bisa dialihkan ke Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) negeri yang berada di samping gedung perpustakaan daerah Bontang, Jalan HM Ardhans Kelurahan Satimpo Kecamatan Bontang Barat.
“Lalu untuk swastanya ada beberapa PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat),” lanjut Saparuddin.
Diharapkan, dengan adanya satuan pendidikan tersebut, dapat mengatasi permasalahan ATS di Kota Bontang. Meskipun, kata Saparuddin setiap tahun pasti ada yang putus sekolah dengan berbagai macam alasan.
“Tapi kami upayakan ada solusi jika yang bersangkutan masih mau melanjutkan sekolah,” pungkasnya.
(Sf/By)