Cari disini...
Seputar Kaltim
Perwakilan Jejakin, Dewi Bintang. (foto:Lisda/seputarfakta.com)
Sangatta - Penanaman 4.000 bibit mangrove di pesisir Teluk Lingga, Kutai Timur beberapa waktu lalu, bukan sekadar acara simbolis. Kegiatan ini didukung oleh teknologi pemantauan digital dari perusahaan rintisan Jejakin melalui aplikasi Pijak untuk memastikan pertumbuhan tanaman mangrove berjalan efektif dan berkelanjutan.
Perwakilan Jejakin, Dewi Bintang, menyampaikan bahwa pihaknya telah menyiapkan mekanisme pemantauan yang terstruktur. Pemantauan dilakukan dalam tiga tahap, yakni pada bulan ke-6, ke-18, dan ke-36 setelah penanaman. Setiap pohon akan diberi geotag sehingga dapat dipantau secara presisi menggunakan sistem digital milik Jejakin.
"Dari titik-titik yang terlihat di sistem kami, seluruh lokasi pohon bisa dipantau secara akurat," ujar Dewi.
Ia juga menambahkan, selain menggunakan teknologi, Jejakin melibatkan masyarakat sejak awal, mulai dari memilih jenis tanaman hingga proses penanaman di lapangan. Sosialisasi dilakukan agar tanaman yang ditanam cocok dengan lingkungan sekitar dan warga bisa ikut terlibat secara aktif.
"Sebagai bentuk keberhasilan penanaman, jika ada pohon yang mati, Kami tim jejakin bersama warga akan menggantinya. Targetnya, setidaknya 85 persen pohon bisa tumbuh dengan baik"tambahnya.
selain itu , Dewi juga menjelaskan bahwa meraka mencatat semua data secara langsung tanpa ditulis secara manual. Data itu disimpan dalam aplikasi, termasuk lewat Carbon App, yang dipakai untuk memantau kualitas udara dengan bantuan sensor.
“Sensor ini mencatat kadar karbon dioksida, PM2.5, PM10, dan indeks kualitas udara. Dari situ, bisa terlihat apakah udara di Kutai Timur tergolong baik, sedang, atau sudah tercemar,” jelas Dewi.
Disisi lain, Wakil Bupati Kutai Timur, Mahyunadi, menyambut baik terobosan tersebut. Ia menegaskan pentingnya pemantauan berkelanjutan agar program rehabilitasi lingkungan tidak berhenti pada tahap penanaman saja.
"Bagus terobosannya. Ada barcode-nya dan sebagainya. Mudah-mudahan pemantauan ini benar-benar dilakukanbukan sekadar tanam lalu tinggal, tapi dipastikan tumbuh hingga pohon besar," ujar Mahyunadi.
Dengan bantuan teknologi dan partisipasi warga, program ini diharapkan bisa memperbaiki lingkungan pesisir sekaligus menjaga kualitas udara dan alam secara keseluruhan.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Perwakilan Jejakin, Dewi Bintang. (foto:Lisda/seputarfakta.com)
Sangatta - Penanaman 4.000 bibit mangrove di pesisir Teluk Lingga, Kutai Timur beberapa waktu lalu, bukan sekadar acara simbolis. Kegiatan ini didukung oleh teknologi pemantauan digital dari perusahaan rintisan Jejakin melalui aplikasi Pijak untuk memastikan pertumbuhan tanaman mangrove berjalan efektif dan berkelanjutan.
Perwakilan Jejakin, Dewi Bintang, menyampaikan bahwa pihaknya telah menyiapkan mekanisme pemantauan yang terstruktur. Pemantauan dilakukan dalam tiga tahap, yakni pada bulan ke-6, ke-18, dan ke-36 setelah penanaman. Setiap pohon akan diberi geotag sehingga dapat dipantau secara presisi menggunakan sistem digital milik Jejakin.
"Dari titik-titik yang terlihat di sistem kami, seluruh lokasi pohon bisa dipantau secara akurat," ujar Dewi.
Ia juga menambahkan, selain menggunakan teknologi, Jejakin melibatkan masyarakat sejak awal, mulai dari memilih jenis tanaman hingga proses penanaman di lapangan. Sosialisasi dilakukan agar tanaman yang ditanam cocok dengan lingkungan sekitar dan warga bisa ikut terlibat secara aktif.
"Sebagai bentuk keberhasilan penanaman, jika ada pohon yang mati, Kami tim jejakin bersama warga akan menggantinya. Targetnya, setidaknya 85 persen pohon bisa tumbuh dengan baik"tambahnya.
selain itu , Dewi juga menjelaskan bahwa meraka mencatat semua data secara langsung tanpa ditulis secara manual. Data itu disimpan dalam aplikasi, termasuk lewat Carbon App, yang dipakai untuk memantau kualitas udara dengan bantuan sensor.
“Sensor ini mencatat kadar karbon dioksida, PM2.5, PM10, dan indeks kualitas udara. Dari situ, bisa terlihat apakah udara di Kutai Timur tergolong baik, sedang, atau sudah tercemar,” jelas Dewi.
Disisi lain, Wakil Bupati Kutai Timur, Mahyunadi, menyambut baik terobosan tersebut. Ia menegaskan pentingnya pemantauan berkelanjutan agar program rehabilitasi lingkungan tidak berhenti pada tahap penanaman saja.
"Bagus terobosannya. Ada barcode-nya dan sebagainya. Mudah-mudahan pemantauan ini benar-benar dilakukanbukan sekadar tanam lalu tinggal, tapi dipastikan tumbuh hingga pohon besar," ujar Mahyunadi.
Dengan bantuan teknologi dan partisipasi warga, program ini diharapkan bisa memperbaiki lingkungan pesisir sekaligus menjaga kualitas udara dan alam secara keseluruhan.
(Sf/Rs)