Seputar Kaltim

    Jawab Keluhan Warga Soal Jaringan Lemot, Begini Tanggapan Kadiskominfo Kaltim tentang Internet Gratis di 734 Desa

    Penulis:Maulana|Redaktur:Rusdianto
    27 November 2025 pukul 19:05 WITA

    Kepala Diskominfo Kaltim, Muhammad Faisal. (Foto: Maulana/seputarfakta.com)

    Samarinda - Keluhan masyarakat terkait jaringan internet yang kerap lemot atau lamban mewarnai implementasi program Internet Gratis (gratispol) di Kalimantan Timur. 

    Menanggapi hal ini, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kaltim, Muhammad Faisal, meminta masyarakat untuk bersabar dan memaklumi tantangan di lapangan.

    Ia mengungkapkan bahwa proyek penyediaan internet di 841 desa ini dikejar dalam waktu kurang dari delapan bulan.

    "Banyak hal yang membuat lemot, bisa memang dari pusat, mungkin juga bandwidth-nya yang rendah, atau mungkin ada gangguan," ujar Faisal di Samarinda, pada Kamis (27/11/2025).

    Ia menambahkan analogi sederhana untuk meminta pemakluman warga.

    "Sama seperti listrik atau air, dalam 30 hari, sehari saja rusak, ributnya sedunia, padahal 29 hari dia enak. Jadi, harap dimaklumi," tambahnya

    Muhammad Faisal memastikan bahwa tim Diskominfo terus bekerja keras agar target 841 desa bisa tercapai secepatnya. Hingga saat ini, progres pencapaian program tersebut sudah menyentuh angka 87 persen, dengan total 734 desa telah terpasang jaringannya.

    "Pekerjaannya sulit. Kita kerja kurang dari 8 bulan, tapi harus (mencakup) 841 desa. Jadi, sehari itu rata-rata 4 desa, itu pun tanpa libur," jelasnya.

    Data terbaru menunjukkan, desa yang sudah terpasang mencakup hampir seluruh wilayah di beberapa kabupaten, misalnya di Kutai Kartanegara (187 dari 193 desa) dan Kutai Timur (135 dari 139 desa).

    Menariknya, Faisal menyebut bahwa sisa desa yang belum terjangkau (107 desa, on progress) merupakan wilayah yang paling sulit dijangkau.

    "Memang yang terakhir ini agak lambat karena tinggal yang sulit-sulit, nih. Yang enggak ada listrik, yang jauh, yang enggak kejangkau dengan EPO (fiber optik), mau enggak mau pakai Starlink," ungkapnya.

    Faisal memastikan bahwa teknologi satelit milik Elon Musk ini digunakan oleh beberapa provider di Kaltim, seperti Telkomsat (78 Desa) dan Bestcamp (69 Desa), untuk menembus wilayah blank spot.

    Untuk menjamin kualitas layanan, Diskominfo Kaltim tidak akan tinggal diam. Faisal berjanji akan melakukan evaluasi menyeluruh pada awal tahun depan.

    "Yang jelas, kami jalan dulu tahun ini sesuai target. Januari kita akan evaluasi, mana masalah-masalah kita perbaiki. Kalau perlu provider-nya kita ganti, kan selesai. Kalau enggak dicoba, ya enggak tahu, dong," tegasnya.

    Beberapa Internet Service Provider (ISP) yang terlibat dalam program ini antara lain Telkom (WMS), Telkomsel (Indihome & Orbit), Icon+, Comtelindo, Telkomsat, dan Bestcamp. 

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Jawab Keluhan Warga Soal Jaringan Lemot, Begini Tanggapan Kadiskominfo Kaltim tentang Internet Gratis di 734 Desa

    Penulis:Maulana|Redaktur:Rusdianto
    27 November 2025 pukul 19:05 WITA

    Kepala Diskominfo Kaltim, Muhammad Faisal. (Foto: Maulana/seputarfakta.com)

    Samarinda - Keluhan masyarakat terkait jaringan internet yang kerap lemot atau lamban mewarnai implementasi program Internet Gratis (gratispol) di Kalimantan Timur. 

    Menanggapi hal ini, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kaltim, Muhammad Faisal, meminta masyarakat untuk bersabar dan memaklumi tantangan di lapangan.

    Ia mengungkapkan bahwa proyek penyediaan internet di 841 desa ini dikejar dalam waktu kurang dari delapan bulan.

    "Banyak hal yang membuat lemot, bisa memang dari pusat, mungkin juga bandwidth-nya yang rendah, atau mungkin ada gangguan," ujar Faisal di Samarinda, pada Kamis (27/11/2025).

    Ia menambahkan analogi sederhana untuk meminta pemakluman warga.

    "Sama seperti listrik atau air, dalam 30 hari, sehari saja rusak, ributnya sedunia, padahal 29 hari dia enak. Jadi, harap dimaklumi," tambahnya

    Muhammad Faisal memastikan bahwa tim Diskominfo terus bekerja keras agar target 841 desa bisa tercapai secepatnya. Hingga saat ini, progres pencapaian program tersebut sudah menyentuh angka 87 persen, dengan total 734 desa telah terpasang jaringannya.

    "Pekerjaannya sulit. Kita kerja kurang dari 8 bulan, tapi harus (mencakup) 841 desa. Jadi, sehari itu rata-rata 4 desa, itu pun tanpa libur," jelasnya.

    Data terbaru menunjukkan, desa yang sudah terpasang mencakup hampir seluruh wilayah di beberapa kabupaten, misalnya di Kutai Kartanegara (187 dari 193 desa) dan Kutai Timur (135 dari 139 desa).

    Menariknya, Faisal menyebut bahwa sisa desa yang belum terjangkau (107 desa, on progress) merupakan wilayah yang paling sulit dijangkau.

    "Memang yang terakhir ini agak lambat karena tinggal yang sulit-sulit, nih. Yang enggak ada listrik, yang jauh, yang enggak kejangkau dengan EPO (fiber optik), mau enggak mau pakai Starlink," ungkapnya.

    Faisal memastikan bahwa teknologi satelit milik Elon Musk ini digunakan oleh beberapa provider di Kaltim, seperti Telkomsat (78 Desa) dan Bestcamp (69 Desa), untuk menembus wilayah blank spot.

    Untuk menjamin kualitas layanan, Diskominfo Kaltim tidak akan tinggal diam. Faisal berjanji akan melakukan evaluasi menyeluruh pada awal tahun depan.

    "Yang jelas, kami jalan dulu tahun ini sesuai target. Januari kita akan evaluasi, mana masalah-masalah kita perbaiki. Kalau perlu provider-nya kita ganti, kan selesai. Kalau enggak dicoba, ya enggak tahu, dong," tegasnya.

    Beberapa Internet Service Provider (ISP) yang terlibat dalam program ini antara lain Telkom (WMS), Telkomsel (Indihome & Orbit), Icon+, Comtelindo, Telkomsat, dan Bestcamp. 

    (Sf/Rs)