Seputar Kaltim
BNPB melakukan water bombing di Kelurahan Sindangsari, Samarinda. (Foto: BPBD Samarinda)
Samarinda - Upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kota Samarinda terus dilakukan. Pada Jumat (6/11/2026), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menggelar operasi water bombing di Kelurahan Sindangsari, Samarinda.
Operasi ini merupakan bagian dari penanganan karhutla yang diminta Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Timur (Kaltim) kepada BNPB. Untuk Kota Samarinda, terdapat dua titik, yakni Makroman dan Sindangsari. Namun, pada pelaksanaan hari ini water bombing difokuskan di Sindangsari.
"Jadi kita berikan dua titik sebenarnya di Makroman dengan Sindangsari, cuma yang tadi dilakukan eksekusi itu di titik di Sindangsari," ujar Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Samarinda, Edy Susanto.
Pelaksanaan dimulai setelah salat Jumat, sekitar pukul 14.00 WITA, dan berakhir sekitar pukul 16.30 WITA. Dalam kurun waktu tersebut, pesawat melakukan dua kali penjatuhan air di titik yang telah ditentukan.
Operasi ini melibatkan dua pesawat. Satu pesawat bertugas sebagai pemandu untuk memastikan jalur penerbangan dan titik sasaran aman, sementara satu pesawat lainnya bertugas menjatuhkan air tepat ke titik api.
"Water bombing tadi dilakukan sebanyak dua kali dengan menggunakan dua pesawat. Jadi satu pesawat sebagai pemandu dan satu pesawat yang melakukan water bombing," jelas Edy.
Lahan gambut di Sindangsari menjadi tantangan tersendiri. Sebagian besar wilayah tersebut merupakan lahan gambut yang mudah terbakar dan sulit dipadamkan secara total. Api di permukaan berhasil dikendalikan setelah water bombing, tetapi bara api di dalam gambut masih menyimpan panas dan mengeluarkan asap di beberapa titik.
Kondisi serupa juga terjadi di Makroman yang pada hari ini belum dilakukan water bombing. Di wilayah tersebut, asap masih terlihat keluar dari beberapa titik, sehingga tetap menjadi perhatian petugas.
"Secara umum memang di atas itu dapat terkendali dengan water bombing tersebut, walaupun masih mengeluarkan asap. Jadi di beberapa titik memang masih mengeluarkan asap, termasuk yang di titik yang di Makroman yang tadi tidak dilakukan water bombing," kata Edy.
Sebelum operasi dimulai, BPBD bersama tim terkait telah menggelar rapat koordinasi melalui zoom pada Jumat pagi. Dalam rapat tersebut, disepakati agar masyarakat dan petugas di sekitar titik api menjauh hingga radius 700 meter dari lokasi penjatuhan air.
Pembatasan jarak ini dilakukan untuk keselamatan warga sekaligus memberi ruang bagi pesawat bermanuver dengan aman. Warga tetap diperbolehkan menyaksikan dari jarak aman yang telah ditentukan, namun tidak diperkenankan mendekat ke titik api selama operasi berlangsung.
"Jadi tadi diarahkan agar menjauh sekitar 700 meter dari titik api agar memudahkan untuk pengendalian pada saat water bombing," pungkas Edy.
BPBD Samarinda memastikan pemantauan akan terus dilakukan pasca water bombing, terutama untuk memastikan api di lahan gambut tidak kembali menyala dan meluas ke permukiman warga.
(Sf/Lo)
Cari disini...
Seputar Kaltim

BNPB melakukan water bombing di Kelurahan Sindangsari, Samarinda. (Foto: BPBD Samarinda)
Samarinda - Upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kota Samarinda terus dilakukan. Pada Jumat (6/11/2026), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menggelar operasi water bombing di Kelurahan Sindangsari, Samarinda.
Operasi ini merupakan bagian dari penanganan karhutla yang diminta Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Timur (Kaltim) kepada BNPB. Untuk Kota Samarinda, terdapat dua titik, yakni Makroman dan Sindangsari. Namun, pada pelaksanaan hari ini water bombing difokuskan di Sindangsari.
"Jadi kita berikan dua titik sebenarnya di Makroman dengan Sindangsari, cuma yang tadi dilakukan eksekusi itu di titik di Sindangsari," ujar Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Samarinda, Edy Susanto.
Pelaksanaan dimulai setelah salat Jumat, sekitar pukul 14.00 WITA, dan berakhir sekitar pukul 16.30 WITA. Dalam kurun waktu tersebut, pesawat melakukan dua kali penjatuhan air di titik yang telah ditentukan.
Operasi ini melibatkan dua pesawat. Satu pesawat bertugas sebagai pemandu untuk memastikan jalur penerbangan dan titik sasaran aman, sementara satu pesawat lainnya bertugas menjatuhkan air tepat ke titik api.
"Water bombing tadi dilakukan sebanyak dua kali dengan menggunakan dua pesawat. Jadi satu pesawat sebagai pemandu dan satu pesawat yang melakukan water bombing," jelas Edy.
Lahan gambut di Sindangsari menjadi tantangan tersendiri. Sebagian besar wilayah tersebut merupakan lahan gambut yang mudah terbakar dan sulit dipadamkan secara total. Api di permukaan berhasil dikendalikan setelah water bombing, tetapi bara api di dalam gambut masih menyimpan panas dan mengeluarkan asap di beberapa titik.
Kondisi serupa juga terjadi di Makroman yang pada hari ini belum dilakukan water bombing. Di wilayah tersebut, asap masih terlihat keluar dari beberapa titik, sehingga tetap menjadi perhatian petugas.
"Secara umum memang di atas itu dapat terkendali dengan water bombing tersebut, walaupun masih mengeluarkan asap. Jadi di beberapa titik memang masih mengeluarkan asap, termasuk yang di titik yang di Makroman yang tadi tidak dilakukan water bombing," kata Edy.
Sebelum operasi dimulai, BPBD bersama tim terkait telah menggelar rapat koordinasi melalui zoom pada Jumat pagi. Dalam rapat tersebut, disepakati agar masyarakat dan petugas di sekitar titik api menjauh hingga radius 700 meter dari lokasi penjatuhan air.
Pembatasan jarak ini dilakukan untuk keselamatan warga sekaligus memberi ruang bagi pesawat bermanuver dengan aman. Warga tetap diperbolehkan menyaksikan dari jarak aman yang telah ditentukan, namun tidak diperkenankan mendekat ke titik api selama operasi berlangsung.
"Jadi tadi diarahkan agar menjauh sekitar 700 meter dari titik api agar memudahkan untuk pengendalian pada saat water bombing," pungkas Edy.
BPBD Samarinda memastikan pemantauan akan terus dilakukan pasca water bombing, terutama untuk memastikan api di lahan gambut tidak kembali menyala dan meluas ke permukiman warga.
(Sf/Lo)